Back to blog

Malu, merasa bersalah dan tidak berharga

17 April 2016 - Posted in depresi Posted by:

Enam gejala depresi sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut:

Rasa bersalah merupakan emosi manusia yang timbul ketika terjadi penyesalan akan sesuatu nilai. Rasa bersalah merupakan perasaan karena suatu perbuatan atau tidak melalukan sesuatu.

Malu merupakan sebuah perasaan saat diri dinilai oleh orang lain, dan saat menggunakan penilaian itu kepada diri sendiri. Jadi perasaan malu bersumber dari orang lain dan diri sendiri. Saya malu ketika depresi. Orang lain pasti menilai saya seseorang yang gagal, lulusan S2 koq malah depresi dan mau bunuh diri. Diri juga memaki diri sendiri karena ga bisa menyelesaikan persoalan dan malah depresi.

Rasa malu dan rasa bersalah sebenarnya merupakan sesuatu yang normal. Rasa malu dan bersalah mencegah kita dari perbuatan yang melanggar norma yang dipegang diri maupun yang berlaku di masyarakat. Tapi pada saat depresi, keduanya timbul dengan kadar yang sangat berlebih.

Depresi membuat:

  • saya berulang kali meminta maaf untuk sesuatu yang sebenarnya bukan karena kesalahan saya
  • saya menyalahkan diri sendiri pada saat sesuatu tidak berjalan seperti seharusnya, bahkan untuk hal yang berada di luar kendali, yang saya yakini, “semua salah saya, SEMUA salah saya”
  • merasa diri tidak berhak untuk bahagia karena saya merasa tidak layak mendapatkannya. saya bisa mensabotase kebahagiaan diri saya sendiri.
  • akibatnya saya merasa diri saya payah, tidak berharga, kotor, sampah, tanpa sebab dan alasan yang masuk akal. Saya merasa saya selayaknya barang yang tidak lagi berharga karena rusak, lalu dibuang begitu saja. Tidak ada lagi yang peduli akan saya.
  • saat melihat diri saya dalam cermin, saya melihat manusia gagal, bahwa sebenarnya pencapaian saya sebelumnya hanyalah mimpi. tidak nyata. Yang nyata adalah orang yang saya lihat dalam cermin, gagal, tidak berharga, manusia paling buruk di dunia.
  • saya juga merasa malu dan bersalah karena saya mengecewakan banyak orang. Pulang membawa gelar S2 dari Swedia tapi saya malah datang membawa masalah, dan mencoba mati.
  • karena semua perasaan ini saya berhenti merespon sapaan teman-teman, berhenti merespon orang tua. Mengakhiri pertemanan. Membuat diri saya sendiri. Kalau saya sendiri, saya tidak mungkin melakukan kesalahan pada orang lain, kalau saya sendiri saya tidak perlu malu. Beberapa menghubungi saya melalui telepon, whatsapp, dan facebook tapi jarang saya angkat ataupun balas. Pada suatu waktu saya menutup facebook saya dan mematikan handphone.
  • pada satu titik yang ekstrim, rasa malu, rasa bersalah, dan merasa diri tidak berharga membuat saya merasa lebih baik mati saja. untuk apa hidup? kepergian saya tidak akan ada artinya.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa malu, bersalah dan tidak berharga?
Ketahui bahwa depresi berbohong. Teman sekelas saya yang pernah depresi mengatakan ini. Depresi berbohong. Depresi membohongi kita dan membuat diri merasa tak berharga. Ini bohong. Ini tidak benar. Depresi berbohong tentang segalanya.

Terbuka. Terbuka dengan apa yang sedang dialami. Saya tahu, ini yang paling susah. Kita terbiasa memasang topeng. Berpura-pura hidup baik-baik saja sementara sebenarnya diri kita sedang digerogoti dari dalam. Dalam norma kehidupan sehari-hari sepertinya dilarang menunjukan masalah dalam wajah kita. Facebook dipenuhi prestasi seseorang, kebahagian, dan tawa indah. Tapi, itu palsu. Facebook yang kita saksikan tiap hari itu palsu. Dibelakang setiap kebahagiaan itu tersembunyi masalah. Dibelakang senyuman ada perjuangan. Karena dunia kita dipenuhi kebahagiaan, sepertinya menunjukan masalah sangat tidak normatif. Menyalahi tataran nilai. Merusak ketenteraman. Tapi keliru. Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi, salah satunya adalah saling membantu. Kalau hidup sudah sempurna, lalu apa yang akan dibantu? Kalau semua orang menyembunyikan kesulitan dibalik senyuman, bagaimana bisa membantu? Terbukalah, dan biarkan orang mengulurkan tangan. Diantara uluran tangan akan selalu ada yang berkata buruk. Biarkan, itu hanya minoritas. Dan diantara yang memberikan uluran tangan, ada yang keliru dalam memberikan bantuan. Biarkan, mereka ga mengerti kebutuhan seorang penderita depresi. Tapi perhatikan bahwa keberadaan kamu masih ada artinya. Seburuk-buruknya kamu, setidakberharganya kamu dibuat oleh depresi, kehadiran kamu masih bernilai. Lihat saya, saya blak-blakan tentang pergulatan saya dengan depresi, apa yang terjadi kemudian dengan saya? Saya tidak menjadi semakin hancur. Sebaliknya, saya mendapatkan banyak teman baru.

Menolong orang lain dapat membantu diri merasa berharga lagi. Coba, bantu satu orang saja. Membantu satu orang mungkin tidak akan mengubah dunia. Tapi bagi orang yang kita tolong, itu sangat berarti karena mungkin kamu hanya satu-satunya yang menolong. Dan cukup menolong dalam hal kecil sekalipun. Rasakan pada saat orang yang ditolong mengatakan terima kasih. Saya beruntung, dalam perjalanan terapi saya, saya diberikan kesempatan untuk menolong banyak orang. Tampaknya banyak yang membaca blog saya dan merasa terbantu, setidaknya membuat seseorang merasa tidak sendirian. Saya juga beberapa kali diminta mengajar statistik dan metode penelitian di unpad. Bukan kelas resmi. Sepertinya diada-adakan. Mengajar membuat saya merasa masih berguna. Masih ada yang terbantu dengan hadirnya saya. Saya masih berharga.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *