Back to blog

Mati rasa

11 April 2016 - Posted in depresi Posted by:

Saya sudah hampir satu tahun terapi depresi. Kini saya sudah jauh lebih baik dan hampir pulih seutuhnya. Tapi saya masih ingin menulis tentang pengalaman saya menderita depresi.

Menjelaskan depresi kepada orang yang belum pernah menderita depresi sangat sulit. Jadi saya ingin mencoba menjelaskan satu-persatu gejala depresi secara mendalam. Kali ini tentang mati rasa, atau dalam bahasa Inggris disebut emotional numbness.

Seperti anak kecil pada umumnya, pada saat kecil saya biasa bermain dengan mainan saya. Ada banyak. Mobil-mobilan, binatang plastik, robot-robotan dan lain-lain. Terkadang saya membawa mainan saya berpetualang di hutan rimba, mobil-mobilan dan binatang plastik bisa berbicara satu sama lain. Misinya satu: mengalahkan penjahat yang menguasai hutan rimba dan membebaskan penghuni hutan. Di kesempatan lain saya menjadi astronot dan menjelajahi angkasa raya bersama teman-teman robot saya.

Saya tidak mengerti kenapa pada saat kecil bermain bersama mainan tersebut bisa menyenangkan.

Tapi saat saya tumbuh dewasa, saya semakin sulit berkhayal bersama mainan saya. Tidak lagi menyenangkan. Satu persatu mainan saya dibuang atau diberikan kepada anak kecil yang lain.

Apakah kalian juga seperti itu? Berhenti bermain dengan barbie dan robot karena itu tidak lagi menyenangkan?

Depresi rasanya seperti itu. Yang awalnya menyenangkan seperti bermain dengan mainan, kini tidak lagi. Hanya saja, depresi membuat segala hal menjadi tidak menyenangkan sama sekali. Mati rasa.

Mati rasa adalah ketidakmampuan untuk merasakan apapun. Sesuatu yang biasanya membuat saya tersenyum kini wajah saya tidak bergerak. Hal yang membuat saya marah juga mendapat respon apatis. Emosi tidak lagi hadir. Depresi membuat hidup merasa tidak berarti hingga pada satu titik sesuatu tidak lagi memberikan rasa. Menunjukan emosi sepertinya terlalu melelahkan. Ada juga yang dikarenakan mekanisme proteksi diri dari penderitaan. Sebuah proses syok dimana kita tidak sanggup lagi menerima kenyataan yang terjadi secara emosional. Pikiran kita melindungi dirinya sendiri dari rasa nyeri.

Banyak pengguna narkoba yang mencoba menghilangkan penderitaannya dengan cara ketergantungan obat atau alkohol. Ketergantungan obat adalah salah satu cara melarikan diri dari perasaan sakit dan mencapai mati rasa.

Permasalahan dengan mati rasa adalah memang saya terhindar dari penderitaan, tapi saya juga menjadi tidak dapat merasakan kebahagiaan.

Orang di sekitar saya mungkin mengartikan mati rasa saya dengan apatis atau antisosial. Beberapa mungkin merasa saya tidak lagi peduli akan apapun, termasuk pertemanan. Memang, mati rasa pun membuat saya berhenti membalas sapaan. Orang lain bisa pula merasa saya menjauh. Mereka tidak mengerti bahwa ini adalah bagian dari depresi. Depresi bukan hanya berarti kesedihan atau menangis.

Saya berusaha melakukan aktivitas yang dulu saya sukai seperti travelling, fotografi, memasak, dan lain-lain. Tapi itu malah membuat saya frustasi, karena saya tidak lagi menikmatinya. Pada suatu titik, mati rasa pernah membawa saya berpikir untuk mati saja. Kenapa? Karena tanpa perasaan, mati dan hidup sama saja. Pikiran bunuh diri saya berubah, jika pada awalnya karena ingin menghentikan penderitaan, kini karena tidak bisa merasa. Bertahan hidup tanpa merasakan apapun merupakan suatu hal amat berat. Sungguh.

Bagaimana mengatasi mati rasa?
Saya menulis. Saya menulis apa yang saya rasakan, walaupun isinya mati rasa. Menulis bisa membantu saya mendeteksi perubahan emosi sekecil apapun. Ketika saya membaca kembali tulisan saya terkadang saya melihat bahwa sebenarnya saya tidak mati rasa total. Bahwa sebenarnya saya merasa, tapi depresi menipu otak saya. Mengetahui bahwa saya sebenarnya masih merasa, walaupun amat kecil, perlahan mampu membuat saya mengenal rasa kembali. Orang lain melakukan hal yang berbeda tapi serupa. Misalnya melukis, fotografi, atau kegiatan-kegiatan kreatif lainnya.

Jika sebelum mati rasa pernah merasakan penderitaan yang luar biasa. Maka mati rasa merupakan proses untuk mengurangi penderitaan. Kalau penderitaanya sudah terlewat, hal yang traumatik sudah tidak ada, maka bisa mulai dengan menyadari bahwa terhindar dari rasa menderita tetapi juga mencegah kebahagian. Harus mulai mengembalikan kembali kemampuan untuk merasa, walau mungkin nanti akan bisa merasakan penderitaan lagi. Segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan waktu. Seiring berjalannya waktu, penderitaan akan berkurang. Sehingga sudah waktunya bisa merasa lagi. Tidak perlu terlalu khawatir dengan penderitaan yang dulu dirasakan. Kini berikan jalan untuk kebahagiaan.

Jangan memaksakan diri untuk merasakan sesuatu yang ekstrim. Memaksakan diri untuk bahagia misalnya dengan melakukan hobby. Mulai dari sesuatu yang kecil. Saya memulai dengan merasakan bahwa saya masih ada artinya. Buktinya masih banyak teman saya yang menghubungi saya, walaupun tidak pernah saya balas. Itu langkah kecil yang penting. Tidak apa-apa jika belum bisa merasa bahagia. Pada waktunya akan datang. Tapi tugas pertama adalah mengembalikan emosi secara perlahan. Emosi apapun itu, ya betul. Termasuk rasa menderita. Ini akan memberikan jalan untuk emosi yang lain.

Mencari pertolongan dari terapis yang baik. Ini bisa psikolog/psikiater, atau teman, atau keluarga. Terkadang, obat bisa menjadi jawaban. Tapi juga terkadang obat pula yang menjadi penyebab mati rasa. Harus sering dikomunikasikan dengan terapis sejujurnya, terbuka apa adanya, untuk disesuaikan terapinya.

Kalau kamu saat ini merasa seperti yang saya tuliskan diatas, segera cari bantuan. Bisa dari teman, psikolog, psikiater, keluarga, siapapun.

30 Comments

silvia 6 years ago

saya juga mati rasa mas. tidak bisa menangis ataupun tertawa. apatis. bagaimana ini?

Reply

dhea 3 years ago

sama kak🙃

Reply

dhea 3 years ago

sskrg gmn kak udh bisa baikan?

Reply

Jefriimaulana@gmail.com 6 years ago

Saya sudah hampir setahun merasakan prasaan mati rasa atau prasaan hampa tidak ada semngat hidup, penyebab nya adalah rasa kehilangan yg sangat luar biasa mungkin bagi org yg tdk pernah mngerti bagaimna rasanya memandang itu hal yg sangat bodoh.. Sudah saya coba untuk membangkit kan emosi tpi hasil nya sama saya terjatuh lagi di.titik awal kehampaan dan mati rasa itu.. Apa yg harus aku lakukan ? ?

Reply

Febri Angkara 5 years ago

wah ada yang sama yah saya juga cma saat tertentu bisa menangis selebih nya gk bisa bahkan gk tau bagaimana menangis itu kalau soal tertawa saya hanya menirukan ekspresi orang lain, jujur ada keluarga yang meninggal dan juga kakek saya di kota sebelah meninggal yang saya bisa katakan cam “A” atau menganggap ya sudah. sedangkan saya selalu merasa ada yang hilang

Reply

endri 5 years ago

Febri, kamu bisa pulih koq. Seperti saya. Mungkin perlu waktu yang ga sebentar, tapi kalau terapi (ataupun cara lainnya) kamu bisa kembali seperti Febri yang sehat.

Reply

Widya 5 years ago

sy pernah nangis secara terus menerus selama setahun lebih karena keholangan sekaligus kecewa yg mendalam dgn seseorg. lalu sy bangkit. dan kecewa lagi. dan sudah 2 blnan ini sy merasa mati rasa. sy berusaha bangkit namun mood menjadi turun naik. bagaimana cara penanganannya?

Reply

nuraeni 5 years ago

2 hari lalu saya menangis secara terus menerus tentang seseorang dan kondisi di ruang lingkup kerja merasa diri karena sangat diasingkan ,rasa marah benci , jijik terhadap diri sendiri membuat aq sangat depresi hingga lupa rasanya lapar , ngantuk , dan karna saking sakitnya , air mata mengering dan sembab yang membuat wajah sya bengkak , sampai hari ini saya gak bisa ngerasain sedih atau menangis seperti mati rasa , sampai bertemu sosok “seseorang itu pun ” tetap saya tidak merasakan apapun , apakah ini termasuk mati rasa yang dimaksud, karena otak melindungi rasa sakit di dada kemeren yang sangat sakit hingga rasa sakit tak tertahan itu tidak bisa aku rasakan kembali .

Reply

endri 5 years ago

Halo Nur, maaf saya baru membalas. Seharusnya saya membalas sejak lama. Apa yang kamu sampaikan sepertinya iya mati rasa. Kalau kamu merasa gejala yang lain juga kamu alami, baiknya segera cari pertolongan. Mati rasa bisa menjadi sangat berbahaya karena pada satu titik kamu mungkin akan merasa mati rasa terhadap hidup kamu secara keseluruhan. Kamu akan butuh dukungan teman dan keluarga, jadi jangan ragu untuk menghubungi mereka dan bercerita kepada mereka.

Reply

Fitri 5 years ago

Saya juga. Sedang merasakan.setiap mengingat masalah itu sy selalu menangis berhari-hari. Tapi sekarang mengapa utk menangis sudah tidak bisa lagi?. Bahkan kehilangan kucing membuatku merasa ya sudahlah. Pekerjaan di kantor semua jadi buruk krn sikap apatis sy yg mendominasi. Semua hobi yg sy lakukan terasa hambar.apa ini termasuk depresi?

Reply

endri 5 years ago

Halo Fitri, saya ga bisa menjawab apakah kamu depresi atau tidak. Pertama, saya bukan psikiater/psikolog dan kedua, tidak mungkin menentukan depresi hanya dari cerita pendek saja. Kalau kamu merasa sangat terganggu dengan apa yang kamu rasakan, baiknya kamu coba cari teman untuk bercerita dan apabila kondisi kamu tidak membaik, tidak ada salahnya untuk menghubungi psikolog/psikiater terdekat. Mereka akan lebih tahu apakah kamu perlu terapi atau tidak.

Reply

muhammad niko 5 years ago

Mba, saya niko. seorang siswa berumur 15 tahun dan dari gejala yang saya baca saya juga mengalami mati rasa. walaupun sekarang sudah tidak dalam keadaan tertekan, saya tetap tidak bisa merasakan dengan baik. khususnya marah. well, memang selain mental numbness ada faktor lain yg buat saya gabisa marah seperti sumbu emosi saya yang panjang, ego yang tinggi, dll. tapi, ya, saya merasa mengalaminya. Tapi, saya bukan seperti gaada tujuan hidup. saya punya plan jangka panjang, saya ingin jadi psikolog atau psikiater dan walaupun hati saya nggak merasakan apapun, logika saya mengambil alih peran perasaan, dia mengamati orang dan mengidentifikasi perasaan dan emosi orang, tapi saya tetap gak merasa apapun. apa sebaiknya saya tetap bertemu psikiater?

Reply

Ana 4 years ago

Halo sudah 9 tahun ini saya mati rasa. saya masih bisa sedikit sekali merasakan emosi tapi tidak sepenuhnya. Saya merasa seperti tidak memiliki semangat dalam melakukan apapun. Disuatu waktu saya pernah sembuh total dengan sendirinya tetapi entah kenapa tidak bertahan lama, ujung2nya balik2 lagi dengan kondisi seperti ini. Saya kebingungan ketika membalas emosi teman bicara saya bahkan saya juga bingung harus bicara apa. Kepala saya seolah-olah banyak sekali pikiran padahal tidak ada pikiran yang mengganggu tapi entah kenapa rasanya kepala saya sangat penuh. Pada 3 tahun awal saya mati rasa saya benar2 menjadi sangat pendiam, anti sosial, dan bersikap “sangat baik” agar orang mau berteman dengan saya tapi diri saya menolak untuk itu karena itu sangat berbanding 180 derajat dengan karakter asli saya. Alhasil saya mengalami peperangan batin yang sangat menyiksa bahkan hingga memuat batin saya sakit dan kepala saya pening, bahkan untuk berbicara saja tidak tahu harus menjawab apa. Pada tahun ke 4 saya mulai membiasakan untuk bersikap “palsu” walaupun tidak sesuai dengan batin saya. dan pada tahun ke 6 hingga saat ini saya masih bersikap “palsu” seolah2 bahagia dan memiliki emosi padahal di dalam hampa, kosong dan tidak merasakan apapun. Hingga saya lelah dalam keadaan seperti ini. Sebenarnya masih banyak hal yang bisa saya sharing tp sepertinya tidak hehehe. Mungkin ada yang mengalami hal seperti ini atau hanya saya satu2nya?

Reply

neni 4 years ago

hampir satu tahun saya mengalami mati rasa , rasanya itu hampa gak bisa merasakan emosi yang orang lain rasakan , penyebabnya mungkin karena orang tua saya yang tempramental dan pilih kasih pada saya, dan saya menjadi orang yang anti sosial, memilih menyendiri dan sulit berbicara dengan orang lain bila bersama diri sya sendiri , jadi saya harus meniru apa yang teman saya lakukan
ketika ada yang marah saya selalu terkesima dan malah tertawa tapi itu gak pernah dirasakan
seperti gak ada beban hidup saya menjadi orang yang dingin

Reply

Sedikit cerita ttg saya 3 years ago

Ini tentang aku yang pernah terpuruk meratapi kemalangan dengan sedih dan tangis tiada surut, menyalahkan takdir suram yang tak sudi membiarkan senyum tenang bahagia hadir disela kehidupan yang ku jalani. Kecewa yang ku terima membuatku pandai bersandiwara seakan semua baik – baik saja hanya karna tak ingin ada yang terluka, khawatir, dan iba. Hingga batas ku lepas kendali, ingin hentikan segala topeng bodoh penuh kemunafikan ini. Terlalu naif ku lakukan sampai kini,  tiada pedulikah aku pada diri sendiri?

Sia – siakah aku selama ini bertahan dengan perih, sesak dan pening?Sampailah aku pada titik tak lagi peduli pada sekitar merespon pun sebatas kebutuhan sosial sesuai attitude yang biasa disuguhkan dalam beberapa novel yang kubaca. Tulus?ntahlah aku tak mengerti kata itu aku hanya sedang memerankan tokoh protagonis sesuai dunia fiksi. Hanya itu caraku menutupi hati yang telah mati rasa pikiran yang tak berarah mata yang selalu mematap kosong tak miliki minat maupun mimpi tekad dan ambisi sudah hancur diyakini dan skrg ku bertahan pada napas sebatas tuntutan sang ilahi .

Reply

hanna zahira 3 years ago

saya merasa dunia tak berpihak pada saya. jauh dari orang tua, tanpa sahabat yg mengerti, dan teman seapartemen yang seakan abai dan tak mempedulikan saya.

pernah selama sebulan saya mengurung diri di kamar. main game, tapi setelah lelah, lagi-lagi saya merasakan sendiri dan sepi. nelpon dengan keluarga hanya bertahan 10 menit, itupun saya sudah bosan dan kehabisan topik pembicaraan. rasanya apa yg saya rasakan, keadaan tempat belajar, teman teman- semua itu tak perlu diceritakan.

frustasi.! kenapa saya tidak merasakan apapun?!
dengarkan saja cerita konyol anak serumahmu itu, nongkrong bareng, cekikikan kayak dulu. apa salah nya?

berulang kali saya teriakkan itu ke diri saya. tapi tak bisa.! terlalu malas melakukannya. seolah-olah itu kegiatan tak berguna.

dan dalam setiap sujud, setiap doa, yg kupinta berulang kali hanya satu.
yaa Allah, kembalikan perasaanku. yaa Allah buat aku merasakan kebahagian.

berulang-ulang.

suatu saat, aku seperti tersadar. kebiasaanku menjadi ganjil.
aku sering nonton drama korea yang dulunya sangat aku benci. aku suka bermain game yang dulunya tak kubutuhkan sama sekali. aku tak lagi menulis sebagaimana dulu-seharipun tak kutinggalkan. aku tidak belajar. aku tidak merapikan kamar. bahkan lemariku sudah berubah fungsi menjadi gudang.
aku selalu begadang. jika dulu aku hanya begadang sampai jam 1, sekarang sampai pagi. lalu tidur sampai kakiku tergerak untuk pergi shalat.
jikalah tidak ada shalat, mungkin selama seminggu aku hanya tengkurap diatas kasur.
aku tak berinteraksi dengan anak kamar sebelah, hanya dengan teman sekamar jika diperlukan.
aku tak bicara ketika makan, tak bicara ketika piket, tak bicara sama sekali. membisu.

kebiasaan ini terus berulang. sampai aku berpikir, ada yang tidak beres dalam hidupku.

pernah terpikir untuk pergi menemui psikiater. tapi,, ohh. aku tidak lagi di indonesia sekarang. dan aku pasti kebingungan jika berobat ke dokter disini.
kulihat video motivasi, kubaca lagi novel-novel yg aku suka. kubaca lagi tulisan-tulisan yang tak pernah diterbitkan.

tapi itu semua tidak semenarik dulu.
sampai sekarang juga begitu.

dan sekarang, aku bersyukur kuliah membebankan tugas sebagai pengganti ujian naik tingkat.
tersibukkan oleh sesuatu.
walau senyuman masih terkurung dalam garis lurus di wajahku.

wahaii.. melengkunglah engkau dengan tulus. terbukalah dan biarkan aku tertawa.

*saya suka menulis, hehe. malah kebawa curhat disini. 🙂
btw, makasi mas sudah berbagi pengalaman.

saya harap, perlahan, penyakit tak kasat mata ini segera minggat dari hati.

Reply

Apiah 2 years ago

saya juga merasakan seperti kamu, saya seakan gatau lg apa yg harus saya lakukan, saya menjadi seperti orang lain dan hidup bukan pada diri saya, hal yg tdk biasa saya lakukan menjadi saya lakukan, saya seperti seseorang yg sedang mencari diri yg baru dengan perasaan hampa dan kosong, saya ga tau apa yg sedang saya alami, pikiran saya terasa kosong, pandangan saya terhadap orang lain menjadi biasa saja dan orang2 di sekeliling saya yg saya kenal lama atau baru saya kenal pun saya merasakan hampa. seperti orang bingung dan tdk punya tujuan. sampai ssya merasa seperti robot melakukan aktivitas tp dengan pikiran, penglihatan dan mata yg kosong.

Reply

Ryukiiraka@gmail.com 2 years ago

Ya gitu deh hidup

Reply

Hamerwan 2 years ago

Saya jga rasakan hal yg sama. Mungkin krna rasa kecewa yg berat. Benar smuanya jd terasa biasa bisa saja, hampa, bingung, tdak punya tujuan dan tidk ada smangat ntuk mlakukan apapun dan ini sdah brjln 2 bln.
Sdah coba kmpul sama teman2 nongkrong2 breng di cafe smbil dngern live music tp ttep sama, apa lgi pas udah pulang smpai di rumah smua trasa kosong. coba bangkit, coba usaha tp ttep gagal. Mungkin ini yg namanya depresi berat

Reply

Bantu Saya 2 years ago

Saya ga tau apa namanya ini,tapi semua yang saya rasakan selama ini tak sesuai dengan apa yang saya tampilkan dihadapan orang”, seolah ada celah yang membatasi semua ini.Saya merasa sangat bingung dengan diri saya sendiri, bahkan saya bingung dengan apa yang saya coba utarakan ini.

Intinya saya merasa sekarang ini bukan diri saya sendiri, di saat dulu saya bisa merasakan hal yang sangat membahagiakan dan menyedihkan di hidup saya,tapi sekarang saya bahkan tak bisa menjemput kedua kata itu untuk datang di kehidupan saya lagi.

Seakan mereka meninggalkan saya dengan rasa yang engga tau apa ini namanya, saya mencoba untuk menikmati dengan rasa yang telah hadir di diri saya sekarang ini,tapi hasilnya saya semakin tak bisa mengenali siapa saya sebenarnya.

Bahkan saya tak bisa merasakan bagaimana lelah nya hidup saya ini, di saat teman” saya menyuruhkan untuk istirahat lahh, tapi saya berkali” bilang apa yang harus di istirahatkan di saat saya tak merasakan lelah sama sekali.

Saya pernah berniat untuk bunuh diri beberapa kali, tapi lagi” saya bingung kenapa saya bunuh diri,tapi di sisi lain saya ingin mengakhiri semua ini. Di setiap malam perang batin selalu terjadi, saya bahkan meninggalkan waktu tidur saya,makan saya, hobi saya, dan bahkan kewajiban saya.

Rasa kesepian selalu hadir walau saya berada di keramaian, dan saya pun seolah berfikir sangat keras sampai saya merasa pening tapi lagi” saya engga tau apa yang saya fikirkan.

Intinya saya sekarang ini sangat frustasi dengan diri saya sendiri,saya benci diri saya,saya ingin pergi dari semua ini tapi lagi” saya kembali berfikir apa yang terjadi dengan saya sekarang ini? kenapa saya bisa merasakan hal ini? Kenapa saya hidup diantara dua fikiran yang saling bertentangan seperti sekarang ini.

Reply

twinkle patrick star 2 years ago

boleh cerita? jadi aku yakin aku ga punya depresi atau mental illness apapun. tapi belakangan ini aku kayak hampa aja. Ada sedih ada seneng habis itu hampa lagi. Kayak ada sesuatu dipikiran gitu tapi gatau isinya apa, bukan sesuatu yang bisa diceritain juga. Tapi aku masih bisa ketawa bisa sedih gitu. Temanku bilang itu Numb kayak ga bisa merasakan sedih ataupun senang, seperti hidup kita di pause. Ada banyak hal dipikiran dan dihati, tapi no reason dan gabisa diutarakan keorang2:((

Reply

Ibu rumahtangga 2 years ago

Kyanya aku juga mengalami mati rasa setelah saya mengalami PTSD karena panik attack akhirnya jadi anxiety disorder . Apakah ini bisa di obati ke psikiater ? Kka dlu bisa sembuh bagaimana ?

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *