Back to blog

Depresi dan ga berenergi

16 April 2016 - Posted in depresi Posted by:

Ini tulisan keenam dalam serangkaian blog tentang gejala depresi secara mendalam. Gejala sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut: mati rasa, mood depresi, gelisah dan melambat, perubahan berat badan, insomnia dan hypersomnia

Banyak orang hanya tau depresi sekedar gangguan dalam pikiran. Kalau mendengar kata depresi, pasti yang terbayang adalah mood dan sedih. Tapi depresi juga menimbulkan efek pada tubuh. Pernah merasakan lemah letih lesu lemas lelah lunglai ga berenergi setelah seharian beraktivitas? Depresi rasanya seperti itu, tapi sepanjang hari, dan setiap hari.

Konon menurut penelitian ini berhubungan dengan enzim monomanim-oksidase (MAO). Enzim ini merusak neurotransmiter seperti serotonin, norepinefrin dan dopamin yang semuanya dibutuhkan untuk regulasi mood dan semangat. MAO, katanya berada pada level tinggi pada penderita depresi. Tuh kan, depresi ga cuma ada di pikiran.

Pada saat saya depresi saya berasa seakan ditarik ke bawah, tengkurap. Postur saya berubah, jelas terlihat lesu. Bernafas juga rasanya berat di dada. Pergerakan saya perlahan tak bertenaga. Saya ga mau melakukan apapun. Terdiam di atas kasur. Tapi, tidur juga tidak mengembalikan energi seperti pada orang normal. Tidur hanya berarti sekedar melepaskan diri dari pikiran yang melayang-layang dan emosi. Saat bangun, saya lemes. Bahkan saya merasa pagi adalah saat paling tidak bertenaga. Hilangnya energi ini membuat kegiatan yang mudah seolah-olah membutuhkan banyak kekuatan.

Di periode depresi pertama saya, saya beneran seperti pasien stroke. Hanya diam diatas kasur, bergerak pun jarang. Suara yang keluar dari mulut saya ga bisa difahami, itu juga kalau lagi keluar suaranya. Lebih seringnya saya menggunakan bahasa kedipan mata. Hari-hari hanya bangun pagi, diam diatas kasur menunggu malam tiba, tidur lagi. Tibanya malam adalah saat paling tidak dinanti, karena saya tahu besok juga akan sama.

Dan setiap pagi saya akan bertanya-tanya, “apakah saya akan bisa melalui hari ini?”

Depresi dan lemas seperti ayam dan telur, mana yang duluan? Orang yang merasa energinya habis beresiko depresi, begitu pula sebaliknya depresi membuat saya lemah sekujur tubuh.

Hilangnya energi ini membuat kerja kacau. Performa menurun drastis, layaknya orang yang ga tau apa-apa.

Kalau kamu baca tulisan saya ini mungkin kerasa hiperbola, dilebih-lebihkan. Tapi sungguh rasanya seperti itu. Seperti orang yang baru terkena stroke dan lumpuh. Mau angkat tangan aja dramatis. “TANGAN, angkat! tangan, ANGKAT!”, pikiran memrintahkan otot untuk berkontraksi tapi harus dipaksa.

Bagaimana mengembalikan energi
Tidur cukup. Ini paling penting, tetapi juga paling susah didapat karena biasanya depresi disertai insomnia atau hypersomnia. Gangguan tidur memperburuk perasaan lesu. Kalau perlu, minta obat tidur kepada dokter.

Olahraga. Memulainya sangat sulit. Bagaimana ga, wong gerak diatas kasur aja susah. Tapi harus dipaksakan. Minta bantuan teman untuk memaksa, atau menemani olahraga. Olahraga bisa apa saja. Saya lari. Teman-teman saya ada yang yoga, boxing, renang. Ga usah khawatir ga kuat olahraga. Saya juga awalnya cuma kuat satu keliling lapangan bola. Kalau ga kuat lari, jalan aja cukup. Waktu pulih dari periode depresi yang pertama, yang saya lakukan hanya jalan mondar-mandir didalam kamar. Itu karena sebelumnya saya hanya terbaring diatas kasur, hingga berjalan saja susah. Saya inget, setelah jalan mondar-mandir rasanya badan jadi pegel. Mirip orang yang baru mulai berolahraga.

Perlakukan diri dengan baik. Jika pekerjaan menjadi terbengkalai, jangan marahi diri sendiri. Sebaliknya, berikan semangat setiap membuat sebuah kemajuan. Setiap kemajuan kecil patut disyukuri. Kalau dalam seharian yang berhasil dilakukan hanya bernafas, ga apa-apa. Puji diri sendiri. Puji diri setiap berhasil melewati hari, betapa buruknya pun hari itu. Cintai diri sendiri. Jangan khawatir tentang kerjaan, perbaiki perlahan. Tapi sebelumnya, perbaiki diri. Kembalikan semangat. Kalau memungkinkan, bicarakan dengan bos di kantor atau orang tua, berikan penjelasan agar mereka mengerti. Kalau tidak berhasil, ga apa-apa. Kita penderita depresi memang paling sulit dipahami. Jangan terlalu mengkhawatirkan orang disekitar, fokus pada diri sendiri. Nanti kalau energi sudah kembali, performa pekerjaan akan membaik secara perlahan.

Sabar. Dengan upaya yang luar biasa sekalipun perbaikannya akan perlahan. Kalau ada yang bilang ada terapi depresi yang manjur, itu bohong. Tiap orang sembuh dengan cara yang berbeda. Ada yang hanya butuh 6 bulan, ada yang lima tahun, ada yang sering relapse seumur hidup. Dalam masa penyembuhan, kita bakal mempelajari diri sendiri dan belajar mengendalikan mood. Dan mempelajari diri sendiri, seumur hidup juga ga akan cukup.

5 Comments

Ismihandini 2 years ago

Terima kasih …sudah mau berbagi, sangat membantu utk saya memahami kondisi anak saat ini ?

Reply

endri 2 years ago

senang bisa membantu, semoga anaknya bisa segera pulih 🙂

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *