Back to blog

Gelisah dan melambat

13 April 2016 - Posted in depresi Posted by:

Ini merupakan tulisan ketiga tentang gejala depresi secara mendalam. Tulisan-tulisan sebelumnya tentang gejala depresi: mati rasa, mood depresi.

Kali ini saya mau membahas gejala depresi yang ketiga seperti tertulis dalam Diagnostic and Statistic Manual (DSM-IV) yang dibuat oleh Asosiasi Psikiatri Amerika dan digunakan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Depresi menyebabkan seseorang menjadi gelisah (agitation) atau menjadi lambat (retardasi psikomotor).

Depresi saya dimulai kurang lebih dua minggu sebelum saya wisuda. Pada awalnya saya tidak bisa diam, saya resah. Saya tidak bisa duduk, mondar-mandir di dalam apartemen. Tangan saya berayun-ayun, saya mengepalkan tangan dan memukul-mukulkan ke telapak tangan yang lain. Saya juga tidak bisa fokus. Saat itu saya harus membuat presentasi dari tesis teman saya, tapi rasanya sulit sekali untuk fokus, duduk dan mengerjakannnya.

Menurut penelitian, seseorang yang gelisah bisa saja berbahaya karena tidak mampu mengatur impuls tindakannya, dan tidak bisa diajak kerja sama. Tapi, biasanya kegelisahan bermanifestasi dalam bentuk gerakan-gerakan yang tidak ada artinya sebagai bentuk keresahan dalam hati. Menarik-narik rambutnya, meremas-remas tangan, mondar-mandir, melakukan gerakan yang tidak disadari, menyeret kaki, dan mengepal-ngepalkan tangan merupakan contoh yang sering bisa diamati.

Kegelisahan bisa jadi timbul karena gangguan cemas. Gangguan cemas merupakan salah satu gangguan mental yang sering timbul bersamaan dengan depresi. Saya pernah bertemu dengan penderita gangguan cemas. Dia memikirkan segalanya. Besok mau berangkat jam berapa lewat jalur mana, pekerjaan-pekerjaan yang belum diselesaikan, nanti makan siang akan seperti apa, pokoknya cemas dan tidak mau diam.

Selain gelisah, seseorang yang depresi juga bisa melambat atau disebut juga retardasi psikomotor. Yang menjadi lambat bukan saja suatu gerakan, tetapi juga berpikir menjadi lambat. Berbicara menjadi lambat, dan menunjukan emosi pun menjadi sulit.

Retardasi psikomotor membuat suatu aktivitas yang sebelumnya bisa dianggap otomatis atau biasa menjadi sulit karena bergerak dengan amat perlahan, misalnya mandi, mengenakan pakaian, memasak, menggosok gigi, dan lain-lain. Ini juga membuat sesuatu yang awalnya tidak membutuhkan banyak upaya menjadi tidak terbayangkan, misalnya berjalan, bangun dari kasur, dan makan. Aktivitas yang membutuhkan banyak pergerakan pun menjadi mustahil seperti belanja, keluar rumah, bekerja. Yang paling menyebalkan ini juga menyebabkan saya menjadi terlihat bodoh karena terjadi perlambatan berpikir sehingga mengambil keputusan menjadi sesuatu yang sulit dilakukan, misalnya saja memutuskan mau belanja apa untuk kebutuhan sehari-hari.

Yang paling sering dialami penderita depresi adalah kesulitan bangun tidur dan keluar rumah. Saya selama berminggu-minggu hanya berteman dengan kasur saya, tanpa mandi berhari-hari. Sulit bangun dari kasur ini berbeda dengan yang dialami banyak orang, karena ini bukan karena malas. Rasanya berat aja, seolah-olah tidak bertenaga, atau diikat.

Bagaimana mengatasi kegelisahan dan perlambatan ini?
Rasa gelisah saya hilang sendiri jadi saya tidak tau bagaimana mengatasinya. Lagipula rasa gelisah saya tidak terlalu mengganggu.

Minum obat-obatan psikiatri dapat membantu menghilangkan gejala psikomotor. Akan tetapi, beberapa obat-obatan juga dapat mengganggu fungsi psikomotor. Misalnya golongan obat benzodiazepin karena menimbulkan efek sedasi. Pun begitu dengan beberapa obat golongan neuroleptic.

Harus ada orang lain yang membantu mengatasi retardasi psikomotor. Dulu ada teman saya yang meminta saya mengajar. Waktu itu sangat berat membuat presentasi untuk mengajar, termasuk keluar rumah. Tapi ketika saya sudah mengiyakan untuk mengajar, saya terpaksa memaksakan diri untuk menepatinya. Sehingga saya pun menghabiskan berhari-hari untuk membuat presentasi, sesuatu yang normalnya bisa saya kerjakan dalam satu hari. Pada saat mengajarpun saya merasakan dengan jelas bahwa saya berpikir dengan jauh lebih lambat. Kuliah yang harusnya diberikan dalam waktu lima jam pun akhirnya selesai dalam waktu kurang dari tiga jam, karena banyak yang yang tidak jadi saya sampaikan. Otak saya masih sibuk memproses apa yang akan saya sampaikan, tapi karena terlalu lama akhirnya saya potong.

Ada pula yang mengajak saya bertemu baik itu hanya untuk sekedar bertemu mengobrol, atau menonton, atau olahraga. Saya merasa semuanya ini membantu saya yang sebelumnya hanya diam diatas kasur. Saya seolah anak kecil yang sedang belajar bergerak dan berpikir, semakin sering dilakukan semakin cepat pula saya menjadi mahir dan keluar dari perlambatan yang diakibatkan depresi.

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *