Back to blog

Gangguan tidur pada depresi

15 April 2016 - Posted in kesehatan Posted by:

Kita sudah setengah jalan membahas gejala depresi secara mendalam. Kali ini gejala kelima tentang gangguan tidur. Gejala sebelumnya dapat dibaca pada tautan berikut: mati rasa, mood depresi, gelisah dan melambat, dan perubahan berat badan.

Insomnia terburuk yang pernah saya alami adalah saat saya tidak bisa tidur sama sekali selama empat hari, tanpa merasa kantuk ataupun lelah. Semua upaya saya untuk tidur tidak ada artinya. Menutup mata hanya memicu gelombang pikiran di kepala dan mengembalikan semua kenangan buruk di masa lalu. Saya tidak sempat untuk memikirkan ke depan, pada saat saya memaksa diri saya untuk tidur pikiran saya terjebak di masa lalu. Disaat itu pula perasaan bunuh diri muncul kembali. Setiap malam seperti arena perang antara saya dan pikiran saya yang menyuruh saya untuk mengakhiri hidup.

Saya berakhir keluar dari insomnia terburuk tersebut, dengan modal obat antidepresan dan antipsikotik. Insomnia tersebut muncul saat saya berhenti minum obat secara mendadak karena merasa telah sembuh.

Insomnia membuat hidup dengan depresi menjadi lebih buruk. Saya merasa ditelan dari dalam. Seperti ada monster yang hidup dalam kepala saya dan mengambil alih hidup saya. Kebalikan dari orang normal yang pikirannya menjadi tenang saat tidur, insomnia membuat saya tidak pernah hidup dengan damai. Pikiran saya selalu berada dalam mode “fight” or “flight”, seperti sedang menghadapi seseorang yang mau membunuh saya.

Periode insomnia saya terjadi lagi pada saat saya mengalami relaps, hampir dua bulan lamanya. Meskipun saya memejamkan mata pada pukul 9, tetapi saya masih terjaga saat shubuh dan baru tertidur setelahnya. Tidak lama, karena 3 jam berikutnya saya sudah terbangun lagi dengan sakit kepala. Apa yang terjadi dari pukul 9 sampai shubuh? Gelisah diatas kasur, bergerak kesana kemari, berubah posisi sedemikian rupa. Sementara itu pikiran cemas. Seperti orang dengan gangguan cemas, semuanya menjadi terpikirkan, yang sudah terjadi dan yang belum terjadi. Pikiran seperti tidak ada tombol power yang bisa dimatikan. Sialnya lagi, pikiran malah semakin aktif kalau saya menutup mata dan berusaha untuk tidur.

Menariknya saya juga pernah mengalami hypersomnia. Pada saat sebelum saya relaps, terapi saya berjalan dengan sangat baik. Dosis obat mulai berkurang sampai hampir bebas obat. Saya akan mudah tertidur saat malam dan baru bangun setelah 10 jam. Pada saat bangun, kepala saya tidak sakit, tetapi seperti tidak berenergi. Kepala saya seolah ingin melanjutkan tidur sampai esok hari. Di siang hari saya akan tertidur lagi, tanpa banyak usaha, selama setidaknya 3 jam. Karena saya tidak tau harus beraktifitas setiap hari. Sudah bosan setiap hari hanya di rumah. Tidur pun menjadi aktifitas paling sering. Saya bisa tidur tiga kali sehari.

Ada teman saya, yang juga depresi. Dia tidak mengalami insomnia seperti saya. Justru sebaliknya, dia maunya tidur terus. Sampai pernah janjian mau lari pagi tapi dia terlambat bangunnya.

Menarik bagaimana depresi bisa menimbulkan gejala yang sangat bertolak belakang. Mekanisme patofisiologinya tidak diketahui.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *