Back to blog

Perjalanan menuju kesembuhan

6 May 2016 - Posted in depresi Posted by:

Menengok setahun kebelakang, saya ingin menuliskan tentang orang-orang yang telah membantu saya pulih. Menariknya banyak dari mereka ini yang sebenarnya tidak saya kenal secara dekat. Cuma sekedar tahu dan pernah ketemu saja.

Seperti yang saya tulis di sini, saya hampir bunuh diri satu hari setelah wisuda. Saat itu saya masih berada di Swedia. Saya meninggalkan pesan ke teman sekelas saya. Tapi teman saya justru menelepon polisi dan kedua polisi menggedor pintu apartemen saya pagi-pagi sekali. Kalau teman saya ga menelepon polisi, saya bisa dipastikan telah meninggal saat itu juga. Dan mungkin masuk koran, jadi headline, mahasiswa Indonesia bunuh diri di Swedia. Di satu sisi saya beruntung saat itu saya berada di Swedia sehingga polisi setempat bergerak cepat. Bagaimana jadinya kalau di Indonesia? Apakah polisi akan datang ke tempat saya juga? Saya juga diperlakukan baik selama perawatan di Swedia, bukan diperlakukan sebagai kriminal.

Sayapun dirawat di unit psikiatri rumah sakit kota Malmo selama seminggu. Saya memaksa pulang karena saya harus pulang ke Indonesia dan apartemen belum saya bersihkan. Teman yang sama pula membantu saya saat saya bersih-bersih apartemen sebelum kepulangan ke Indonesia. Sebagai catatan, apartemen yang saya sewa harus dikembalikan seperti sedia kala. Semua furniture harus saya jual/sumbangkan. Bekas-bekas paku di dinding harus ditambal dan dicat. Pokoknya semua sudut apartemen harus bersih. Teman saya membawakan bahan untuk menambal tembok dan cat putih jadi saat itu saya tidak perlu beli.

Pulang ke Indonesia saya bukannya membaik tapi malah memburuk. Baru satu hari setelah saya pulang, saya kembali hampir bunuh diri. Kali ini digagalkan ayah saya. Minggu-minggu berikutnya saya terus memburuk. Saya bilang saya ini hampir menjadi orang gila yang suka ditemukan di jalan-jalan. Saya tidak merespon siapa pun. Saya tidak makan, tidak mandi, tidak pernah beranjak dari kasur saya selama beberapa minggu.

Sesekali saya menghubungi teman saya, dia psikolog klinis dan dulu kami bersama-sama menjadi relawan di sebuah Yayasan. Saat itu pikiran bunuh diri saya sedang pada puncaknya. Dia bilang akan datang menengok saya ke rumah. Tapi karena baru lahiran, akhirnya ga pernah terwujud. Saya yang satu waktu main ke rumahnya. Ini pertama kalinya saya terbuka soal depresi saya. cukup lega rasanya bisa bicara dengan bebas. Awalnya saya takut, ga mau sampai saya ketahuan depresi. Tapi teman saya sangat terbuka, mungkin karena kita juga kenal baik dan dia psikolog jadi pernah menangani orang-orang yang depresi juga. Saya bertemu dia beberapa kali di bulan-bulan berikutnya.

Setelah dipaksa ke psikiater oleh orang tua dan minum obat selama satu bulan saya akhirnya membaik dan merasa telah sembuh. Tapi, ternyata saya salah. Setelah putus obat saya ga bisa tidur empat hari, tanpa kantuk, tanpa rasa lelah. Kondisi saya menurun lagi. Pada saat ga bisa tidur itu pikiran saya melayang-layang ke mana-mana. Teringat kembali semua pengalaman buruk yang membawa saya kepada depresi. Setiap malam saya memukul-mukul tembok kamar saya karena tidak tahan dengan penderitaan yang saya rasakan saat pikiran saya melayang-layang. Saya tidak tahan terjaga sepanjang malam. Pikiran bunuh diri pun  kembali lagi. Usaha kembali berobat ke psikiater pun gagal, karena psikiater yang dimaksud malah tidak datang ke tempat praktek.

Periode tanpa tidur saya mungkin malah yang membawa saya ke perubahan besar berikutnya. Saya menghubungi beberapa teman sejawat, mencari tahu kenapa saya tidak bisa tidur. Saya teringat ada satu teman sekelas saya saat kuliah kedokteran dulu yang baru lulus jadi psikiater. Setelah chatting beberapa saat dia kemudian mulai terbuka bahwa dia juga pernah depresi. Ada beberapa hal penting yang saya dapat dari dia:
1. olahraga, dia menyembuhkan depresinya dengan lari
2. saya harus terbuka tentang depresi saya, untuk melawan stigma
3. merujuk saya ke guru kami berdua saat kuliah dulu, Prof Tutie
Dari ketiganya, yang pertama saya jalankan adalah berobat ke prof tutie, karena mendesak. Saya ingin bisa tidur lagi. Kesan pertama saya terapi oleh Prof Tutie merasa diperhatikan. Beliau mencatat setiap hal yang saya ucapkan. Beliau juga meminta saya datang seminggu sekali sambil dipantau apakah saya ada perbaikan atau tidak. Jadi tidak dikasih obat sekaligus sebulan. Akhirnya saya bisa tidur lagi. Leganya bukan main.

Saya pun mulai kemudian menulis. Yang saya tulis adalah apa yang saya alami selama menderita depresi. Buka-bukaan, jujur, seadanya. Tulisan-tulisan itu saya muat di blog saya dan saya share di facebook. Awalnya saya share karena saat itu saya sudah merasa ga punya harapan lagi dalam hidup. Jadi masa bodoh saya mau dikatain apa karena saya depresi, saya ga peduli, hidup saya sudah berakhir. Tapi justru semuanya mulai berubah sejak saat itu.

Seorang teman sekelas saya saat di Swedia dulu mengirimkan beberapa pesan melaui facebook. Dia kaget mengetahui saya depresi. Dia juga menyemangati saya untuk sembuh. Ada beberapa kata-katanya yang membuat saya menangis seketika itu juga. Walaupun kita berdua teman sekelas, tapi sebenarnya ga terlalu dekat. Jarang mengobrol bareng. Saya merasa terharu mendapatkan perhatian darinya. Sangat ga disangka-sangka. Teman-teman sekelas saya yang lain juga mulai menghubungi saya. Mereka ternyata pernah mengalami depresi juga, dan mereka berbagi dengan saya. Perkataan teman saya selalu saya ingat sampai sekarang. “Depression lies”. Depresi berbohong. Depresi berbohong kepada saya kalau saya ini produk gagal, ga berguna, dan ga punya masa depan.

Dalam seketika, saya mendapat puluhan pesan. Setengahnya berasal dari teman saya yang pernah mengalami depresi. Semuanya berbagi. Sebagian besar dari mereka tidak saya kenal dekat. Hanya sekedar tahu. Sungguh ga disangka, ternyata banyak sekali teman saya yang pernah mengalami hal yang sama seperti saya. Sekitar 50 orang! Semuanya sudah berhasil melaluinya, karenanya saya juga pasti bisa.

Salah satu yang menghubungi saya adalah teman lama saya dari jaman SMA. Kamipun banyak bercakap-cakap melalui facebook. Dia menjelaskan pengalamannya dengan depresi, sayapun begitu. Enak rasanya berkomunikasi dengan yang bisa mengerti penderitaan saya.

Saya diajak bertemu seseorang. Kami pernah bertemu dua kali dan mengobrol sedikit beberapa tahun yang lalu. Dia pernah mengalami hal yang sama selama lima tahun. Sebelum diajak bertemu oleh teman yang ini, saya mengurung diri di rumah, enggan melangkah keluar. Tapi setelah dibujuk saya pun bertemu dia dan suaminya, keduanya sama-sama pernah depresi. Dari dia saya mengetahui bahwa terkadang orang yang depresi hanya butuh curhat, tanpa di”judge”, tanpa dinilai. Sekedar didengar. Dan mereka berdua mendengarkan cerita saya tanpa banyak komentar. Merekalah yang pertama kali menemui saya untuk bicara terbuka tentang depresi. Uniknya, bukan datang dari sahabat saya, hanya teman sekedar kenal.

Suatu hari saya mendapat pesan dari teman yang lain. Dulu saat saya koas di RSHS dia chief residen. Sudah, hanya itu saja pertemuan kami dulu. Dia mengajak saya bertemu. Dia menjelaskan pernah mendalami kesehatan jiwa selama beberapa waktu walau bukan psikiater. Dan dia ingin bantu saya. Saya mendengarkan penjelasannya. Lalu, kamipun buat rencana untuk lari bareng setiap sabtu. Setiap sabtu kami bertemu, lari pagi, dan mengobrol tentang kondisi saya. Sekali lagi, ada seseorang yang mendengarkan cerita saya tanpa menilai saya. Dan lagi-lagi datang dari orang yang pernah saya temui satu atau dua kali saja.

Ada pesan lain dari adik kelas saya. Lagi-lagi saya tidak kenal, hanya sekedar tahu kalau dia adik kelas saya. Kami bertemu, saya bercerita tentang apa yang saya alami. Dia membawa saya keliling kota Bandung, pertamakalinya sejak saya berkuliah di Swedia. Ada satu hal yang membuat saya merasa baikan. Dipeluk. Sesuatu yang jarang dilakukan orang Indonesia. Dipeluk. Cerita saya yang panjang lebar ga banyak dikomentari. Mungkin benar adanya seperti yang tertulis di berbagai penelitian, pelukan menenangkan hati. Sesuatu yang lumrah saat di Swedia dulu tapi tidak pernah saya dapatkan semenjak saya pulang ke Indonesia.

Kegiatan lari pagi saya tidak dimulai dengan mudah. Dari mulai disarankan lari sampai beneran lari butuh waktu hampir dua bulan. Kini saya tahu, ini khas pada depresi. Awalnya mulai ada keinginan, tapi banyak alasan. Ga punya sepatu lah, malas keluar rumah lah, ga bisa bangun pagi lah, dan banyak lagi. Jadi teman saya, kakak kelas, cuma bisa ngajak saja. Ga bisa maksa. Karena dia juga saya mulai mau keluar rumah saat diajak nonton ke bioskop. Dan saat nonton pertama pas banget, kita nonton inside out. Seperti menonton penjelasan bagaimana reaksi pikiran kita saat menghadapi tekanan hidup. Setelah nonton film bareng-bareng nyari sepatu lari buat saya. Tapi saya masih beralasan ga nemu yang cocok. Berikutnya kami berdua jadi sering bareng nonton film. Setelah berminggu-minggu akhirnya saya beli sepatu lari. Dan minggu berikutnya dia nemenin saya lari pagi di Pajajaran. Sabar banget. Saya yang awal mulanya cuma kuat lari satu lapangan tapi tetep ditemenin. Ga ditinggal lari. Saya berhenti dia ikut berhenti. Rutin setiap minggu selama dua bulan lebih sampai akhirnya saya bisa kuat lari 5km. Hehe, bangga dong. Saya pernah menulis tentang pengalaman lari saya di tulisan yang lain. Saya merasa setelah rutin lari pagi, mood saya mulai meningkat, ga depressed lagi. Saya lari tiga kali seminggu, di tiga tempat berbeda, dengan partner beda-beda pula. Saya memang beruntung.

Sejak saya depresi saya ga bekerja. Tapi untungnya saya sering diajak kakak kelas saya (yang lain lagi) di penelitian dia. Saya dilibatkan dalam penelitiannya, dan sering pula diminta untuk mengajar. Ini penting dalam kesembuhan saya. Karena dengan begitu, saya tidak memarkir diri saya di kamar selamanya, saya jadi rutin keluar rumah dan berinteraksi sosial dengan banyak orang. Dan pada saat saya mengajar saya merasa bahwa saya ternyata masih berguna. Saya bukanlah manusia gagal seperti yang sering dibisikkan depresi kepada saya.

Setelah rutin keluar rumah, PR selanjutnya adalah bepergian jarak jauh. Dulu saya kalau ke Jakarta saya selalu menginap di teman sekelas saya jaman kuliah dulu. Kita berdua dulu nonton konser bareng, nonton bola bareng di GBK, dan lain-lain. Sepertinya memang tempat yang pas untuk saya kunjungi berikutnya. Dan bahagianya saya, masih dijinkan nginep disana. Orang tuanya tahu kalau saya sedang depresi, pernah mencoba bunuh diri, dan hal-hal lainnya. Tapi mereka tetap berbaik hati dan menerima saya. Dan mereka ga menginterogasi saya tentang kondisi saya. Hanya mengobrol hal-hal lain saja. Oh iya, saya di Jakarta ga banyak pergi kemana-mana, cuma ke nikahan temannya teman saya. Selebihnya hanya di rumah saja. Saya masak disana. Hehe. Kebetulan pembantunya sedang tidak ada jadi saya bantu masak. Sudah lama saya tidak masak padahal saat di Swedia saya masak tiap hari. Teman sekelas jaman kuliah yang lain pun lalu datang. Kita bertiga ngobrol seperti jaman kuliah dulu. It was fun.

Tapi jalan panjang menuju kesembuhan tidak sepenuhnya mulus. Saya mengalami relaps di bulan Desember dan Januari. Padahal sebelumnya dokter sedang menurunkan dosis obat saya perlahan. Kalau lancar Januari adalah bulan terakhir saya minum obat. Tapi, saya malah relaps. Depresi muncul lagi. Saya mengurung diri lagi di kamar. Saya berhenti dari pekerjaan yang baru saja saya dapat. Saya ga bisa tidur sebulan lebih. Obat tidur pun tidak mempan. Saya kembali terpuruk. Tidak ada penyebab khusus saya relaps. Tiba-tiba saja. Perasaan ingin bunuh diri pun kembali lagi. Benar-benar seperti dulu lagi. Saya berhenti olah raga, berhenti nonton bareng, berhenti membantu penelitian teman saya, berhenti bertemu teman-teman, facebook pun saya tutup, blog saya tutup, whatsapp dan telepon tidak saya hiraukan. Beberapa teman panik mencari saya karena tiba-tiba hilang di facebook, blog tidak bisa diakses, telepon ga diangkat, whatsapp ga dibales. Saya benar-benar menghilang dan menghindari teman-teman saya. Di awal tahun 2016 saya menangis lama sekali. Saya kira tahun 2016 akan menjadi awal yang baru bagi saya. Tetapi saya malah kembali terpuruk. Sepertinya saya ga akan pernah bisa lepas dari depresi. Depresi selalu mengikuti saya kemana pun sampai kapan pun. Saya pun merasa saya tidak akan memiliki karir dan masa depan.

Tapi perlahan saya mulai bangkit lagi. Saya mulai membalas pesan teman-teman saya di whatsapp. Saya menulis lagi. Saya mengaktifkan kembali facebook saya. Saya mulai berlari lagi. Saya mulai keluar rumah lagi. Nonton bareng lagi. Tapi saya lakukan semuanya satu per satu. Saya tidak memaksakan untuk langsung berubah semuanya sekaligus. Saya mulai memperlakukan diri saya lebih baik. Ketika saya beranjak dari kasur saya, saya berkata “endri hebat, sekarang sudah bisa pergi dari kasur”. Saat saya hanya membalas whatsapp dengan pesan pendek seperti “ya” atau “tidak”, saya menyemangati diri saya “setidaknya sekarang sudah dibalas, nanti-nanti bisa mulai mengobrol”. Perlahan saja, lihat perubahannya.

Ada satu orang yang menemani saya sejak awal hingga sekarang. Dia teman sekelas saya. Dan padahal dia juga selama beberapa tahun menderita depresi. Dia amat sabar saat pesannya tidak saya balas. Pun saat ajakannya untuk telepon tidak saya respon. Saat saya merasa sedang tidak bersemangat dia selalu bilang “it’s ok to feel that. you’ll feel better someday”. Tidak pernah memaksa saya saat saya sedang memenjarakan diri.

Kini saya sudah punya pekerjaan yang sepertinya akan sangat saya sukai. Setelah ditolak puluhan organisasi, akhirnya saya malah mendapat pekerjaan di bidang yang saya sukai sejak lama. Dan bidang ini sangat jarang ada diu Indonesia. Pas banget. Saya juga sekarang hidup sendiri di Jakarta. Saya juga sudah mampu mengendalikan mood saya walau tanpa obat. Secara klinis saya belum betul-betul pulih, karena belum satu tahun tanpa gejala depresi. Tapi saya sudah merasa bisa berfungsi secara maksimal lagi.

Ada ratusan orang yang menghubungi saya sejak saya menulis. Sebagian diantaranya saya tidak kenal. Sebagian diantaranya saya bantu karena mereka punya masalah kejiwaan juga. Ada yang ikut saya lari bareng. Ada yang saya temani ke psikiater/psikolog. Ada yang menjadikan saya tempat curhat. Ada yang sesekali ngobrol santai. Dengan itu, saya merasa saya bersyukur saya pernah menderita depresi. Saya merasa kini saya bisa mengalami semua macam perasaan dan merasa tidak perlu menyembunyikannya. Bahwa sedih, bahagia, marah, dan lain-lain hanya sekedar emosi yang normal. Bahwa tidak apa-apa merasa sedih dan mengkespresikannya saat semua orang di sekeliling hanya mengkespresikan kebahagian mereka. Saya pun kini merasa lebih perhatian dengan orang-orang yang mengalami masalah kejiwaan. Saya memulai komunitas depresi kecil-kecilan. Saya bertemu dengan penderita bipolar, skizofrenia, gangguan cemas, berkepribadian ganda, dan lain-lain. Saya tidak lagi memiliki stigma buruk terhadap mereka. Kini saya mengerti bagaimana rasanya memiliki gangguan jiwa.

Setahun berjuang melawan depresi, saya rasa saya tidak akan pernah sembuh dari depresi. Walau berdasarkan kriteria klinis seseorang dinyatakan sembuh jika tidak mengalami gejala depresi dalam setahun penuh, saya kira seseorang penderita depresi selalu hidup bersama depresi. Yang berbeda adalah kini saya menemukan cara untuk kompromi dengan depresi saya. Setiap pagi depresi selalu membuat saya bertahan di kasur, tetapi kini saya sanggup menghadapinya dan tetap bangun dari kasur. Depresi tetap berbisik saya harus menyendiri, tetapi kini saya menemukan jalan agar saya tetap dikelilingi teman-teman. Seperti John Nash di film Beautiful Mind yang tetap berhalusinasi tetapi bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang cuma ada di pikirannya. Hidup dengan depresi kini seperti mengendarai sepeda. Pada saat awal belajar sepeda, pasti sering terjatuh. Saat sudah mahir, resiko terjatuh tetap ada. Seperti hidup dengan depresi, selalu ada resiko relapse. Tapi setelah mahir bersepeda, sudah bisa mengendalikan sepeda sedemikian rupa agar tidak terjatuh. Dan sama seperti belajar naik sepeda, pada satu titik tiba-tiba tahu saja bagaimana mengendalikan mood agar tidak jatuh kedalam depresi lagi. Tidak jelas bagaimana saya bisa mengendalikan mood saya, seperti klik dan jadilah.

Banyak orang yang hadir pada saat saya berjuang melawan depresi. Sebagian besar dari mereka tidak pernah saya duga akan membantu saya. Sebaliknya, banyak teman yang tidak menunjukkan batang hidungya dan malah menghindari saya. Saya tidak kecewa, saya paham tidak mudah menghadapi orang yang depresi. Karenanya saya bersyukur saya tetap dikelilingi teman-teman. Bantuan yang mereka berikan sebetulnya sesuatu yang kecil. Banyak yang sekedar mendengarkan saya, hanya mendengarkan, tidak berkomentar, tidak pula mencoba memberi solusi. Tapi justu ini yang sulit didapatkan. Kita sepertinya terbiasa menilai seseorang dan otomatis memberi saran. Beberapa orang hanya sekedar menyapa saya sesekali lewat email, facebook, ataupun whatsapp. Mereka tetap menyapa walaupun jarang saya balas. Ini terlihat sepele, tapi saya merasa bahwa kehadiran saya masih berarti, sesuatu yang sulit dirasakan jika sedang menderita depresi.

Dalam proses kesembuhan ini saya juga banyak bertemu dengan banyak orang yang menghubungi saya karena tulisan saya di blog. Beberapa mengijinkan saya untuk membantunya. Seperti ngopi santai di kafe sambil curhat, ikut olahraga bersama saya, saya antar ke psikolog/psikiater, atau hanya sekedar teman curhat. Saya yakin ini juga membantu saya untuk pulih. Dengan membantu orang lain saya merasa saya masih berarti karena bisa membuat perbedaan pada hidup orang lain. Jadi saya membantu diri saya sendiri dengan membantu orang lain. Saya paham betul bagaimana tidak enaknya menderita depresi, apalagi sendirian. Saya yakin sebagian besar penderita depresi menghadapinya sendirian. Saya ga mau ada yang berjuang melawan depresinya sendirian. Karena untuk melawan penyakit yang membuat kita kesepian harus dilawan dengan bersama-sama.

Saya pun saat ini sedang merencakan untuk mendirikan lembaga non-profit sebagai pusat penelitian kesehatan mental bersama beberapa teman. Saya merasa saya makin tertarik dengan dunia kesehatan mental. Saya sedang menulis systematic review tentang depresi di Indonesia sebagai independent researcher. Di kepala saya juga ada puluhan ide penelitian yang nantinya bisa digunakan untuk mengadvokasi pemerintah agar kesehatan jiwa tidak dinomor kesekiankan lagi. Sederhana saja, coba google “bunuh diri” maka hasilnya adalah berita-berita tentang bunuh diri. Seharusnya yang muncul adalah pusat informasi kesehatan jiwa, tulisan-tulisan yang membuat penderita berpikir ulang, call center pencegahan bunuh diri dan lain-lain. Ini yang ingin saya perjuangkan.

Dengan semua yang saya lalui selama setahun ini, saya ingin bisa menolong orang lain juga. Jadi kalau ada yang sekedar ingin ngobrol dengan saya atau ingin ditemani saya bisa dihubungi lewat email saya (myself at liquidkermit dot net) atau whatsapp saya (0813 2224 7454) atau melalui facebook saya (http://www.facebook.com/liquidkermit). Saya akan dengan senang hati menolong. Saat ini saya tinggal di jakarta tapi saya cukup sering ke Bandung pada saat akhir pekan.

10 Comments

Fad 1 year ago

saya selalu membayangkan ada media untuk sekedar saling berbagi cerita tentang depresi. sya dan teman2 pasti paham betul betapa pentingnya teman berbagi. tidak perlu ia piskolog sejati asal ia mau berbagi. tolong dikontak kalau mas Endri ingin mewujudkan project itu. Kakak saya menderita bipolar disorder dan karena itu turunan sy tau syndrom tersebut ada jugadalam diri saya. sejak saat itu sy berniat membantu orang2 yg sama. akhir akhir ini akan masuk ke indonesia Human library, empat kita saling berbagi cerita.
and its such a news from heaven. dan begitu juga ketika saya smpe di blog ini, another news from heaven is all on its way.

Reply

endri 1 year ago

Hej Fad. Cheers

Reply

Aruma 1 year ago

Nemu blog kang endri di FB (lupa siapa yang share). Penasaran klik karena nama liquidkermit serasa familiar waktu masih kuliah, akhirnya ingat krn namanya sering muncul di milis fkup. Hehe…

Saya ga tahu rasanya depresi gimana. Pernah sahabat saya didiagnosis MDD saat kuliah, tapi toh ternyata saya ga bisa bantu banyak. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing2 dan jarang ketemu juga karena beda departemen. Dan benar kata kang endri, itu bisa menimpa siapa saja.

Hidup makin kesini juga ternyata makin sedikit teman yang bisa diajak bicara dibanding awal-awal masa kuliah. Hehe… Teman-teman yang saya pikir dulunya tidak terlalu dekat, bisa dengan mudahnya menceritakan beban pikirannya hanya dengan mengandalkan satu atau beberapa kesamaan. Misal sama2 satu SMA, satu kota, atau karena sama2 pernah merantau. Habis itu ya kembali ke kesibukan masing-masing.

Tetap semangat ya, kang!
Saya cuma bisa bantu doa saja.
Semoga kang endri dimudahkan untuk bisa bantu orang lain dan bertemu banyak orang baik.
Semoga kang endri juga dimudahkan untuk bisa merasa happy setiap harinya.

Jangan lupa untuk jalan-jalan random kalau ada waktu. 🙂

Reply

endri 11 months ago

hmmm, milis fkup yang kini tinggal kenangan
jalan-jalan random itu maksudnya apa? mau ke Flores, tapi turun di lombok, terus naik perahu ke Aceh?

makasih ya doanya, dapet doa dari kamu berasa happy

Reply

vici 1 year ago

Akhirnya saya menemukan blog tentang kisah hidup seseorang berkaitan dengan kejiwaan. Saya mengerti bagaimana rasanya hidup dengan perasaan depresi, karena sejak kecil bahkan hingga dewasa saya dikelilingi oleh sanak saudara mulai dari depresi hingga schizophrenia. Betapa hebatnya orang orang yang bertahan untuk memdampingi dan juga turut andil dalam menyembuhkan penyakit ini. Saya juga sedang berusaha keras untuk terlepas dari depresi yang hampir setahun ini saya derita. Saya rasa penderita tentang psikologis ini ada di sekililing kita. Namun tak banyak memang yang peduli tentang hal ini. Kasih sayang dari orang orang di sekiling kita lah yang membantu untuk menguatkan. Terima kasih sudah sharing.

Reply

Ismihandini 12 months ago

Senang bisa menemukan blog ini, sangat membantu saya untuk lebih memahami apa yang sedang dialami oleh anak saya..

Tetap semangat ya mas Endri dan semoga banyak lagi kemudahan yang akan diperoleh untuk mewujudkan cita cita mulia membantu sesama

Reply

Taslim Subang 8 months ago

Iya emang bener kaya gini rasanya depresi. Tapi sekarang ini saya bersyulkur merasa ada fokus dan tujuan serta ketenangan lagi dalam hidup ini. Terimakasih semuanya…!

Reply

Ipeh alena 3 months ago

Saya pun melakukan hal yang sama, ketika mendapati teman saya tengah depresi. Mengajaknya berkomunikasi sedikit sambil cerita kalau saya pun pernah mengalami hal tersebut. Persis seperti yang mas Endri alami, dulu saya gak ngeh sampai2 solat pun gak ada rasa. Sampe kejepit pintu ga ada rasa sakit atau terkejut. Bener2 ga ada rasa2 yg bikin WAH gitu.

Dan dari pengalaman tersebut saya percaya, Tuhan akan selalu jadi tempat pertama tapi saya manusia yang butuh pertolongan manusia juga. Minimal buat interaksi. Jadi ga melulu hanya sekadar lemah iman dan segala macam judge yg bukannya ngebantu malah memperparah.

Semangat Mas, kita emang tampak seolah minoritas tapi percayalah, kita memiliki pengalaman hidup yg kaya dan akan mempermudah kita berempati pada orang lain.

Reply

endri 3 months ago

Hai Ipeh, makasih udah baca blog saya. Salut ama kamu yang udah nemenin temennya mengatasin depresi. We are winner, indeed.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *