Back to blog

Kenapa saya mencoba mengakhiri hidup

17 September 2015 - Posted in depresi Posted by:

Sulit untuk memahami aktor sebesar Robin Williams melakukan bunuh diri. Kita semua merasa dia orang yang sukses, yang memiliki semuanya, tetapi malah bunuh diri. Menurut WHO ada 3000 orang yang meninggal karena bunuh diri setiap harinya, atau terjadi setiap 30 detik. Jumlah yang mencoba bunuh diri jauh lebih banyak, 20 kali lipatnya. Saya pernah menyaksikan seseorang bunuh diri dengan melompat dari sebuah menara. Saya pernah ditelepon teman saya yang berkata mau bunuh diri. Mereka semua ada di sekitar kita semua, sehari-harinya tidak tampak ada yang salah. Ganteng, cantik, sukses, disukai banyak orang, dan lain-lain.

Saya hampir mengakhiri hidup saya, hanya berselang satu hari setelah wisuda kelulusan master. Tapi dua polisi Swedia datang ke apartemen pagi-pagi sekali. Mereka menggedor pintu dengan amat keras, mencoba mendobrak masuk dan berteriak. Karena takut mereka memaksa masuk, akhirnya saya buka pintu. Kedua polisi tadi lalu menginterogasi saya dan menggeledah apartemen saya. Saya berhasil meyakinkan mereka dengan berbohong, bahwa saya tidak mencoba bunuh diri. Beberapa jam setelah mereka pergi saya menelepon ambulans untuk membawa saya ke rumah sakit, dan saya dirawat di bagian emergensi psikiatri dimana saya diikat selama satu minggu. Tidak ada teman saya yang tahu selama saya dirawat, saya merahasiakannya. Hal serupa terjadi lagi sehari setelah saya pulang ke Indonesia. Kali ini ayah yang berhasil mendobrak masuk ke kamar saya walau saya sudah membarikade pintu. Mama kemudian selalu tidur di samping saya sampai kemudian mama harus dibawa ke rumah sakit, dan akhirnya saya pun dipaksa menemui psikiater. Sekarang saya hanya menjalani hidup, sehari demi sehari. Entah hingga kapan.

Serangkaian kejadian yang menyakitkan terjadi sebelum dan sesudah wisuda kelulusan master saya. Ada perasaan dilupakan semua orang, teman, keluarga, dan orang-orang terdekat. Di saat yang sama teman sekelas saya sedang merayakan kelulusan bersama keluarga mereka jadi saya tidak bisa bicara kepada mereka karena saya ga mau mengganggu kebahagiaan mereka. Itu malah menambah depresi saya karena semua orang disekitar saya sedang berbahagia bersama keluarga mereka sementara saya sendiri. Saya sudah tidak bisa menelan makanan, semua yang dimakan dimuntahkan kembali. Setiap malam tidur adalah perjuangan yang amat horror, karena sepanjang saya berusaha tidur hal-hal yang menyakitkan itu muncul kembali dengan amat jelas. Saya merasa saya sudah tidak memiliki arti lagi. Bahwa kehadiran saya hanya akan membawa hal buruk bagi semua orang yang saya sayangi, terutama keluarga. Masih ada pula keharusan membuang semua furniture dan barang-barang di apartemen saya, termasuk membersihkan apartemen dan mengecatnya, sebelum saya pulang ke Indonesia di akhir bulan. Jika gagal, denda puluhan juta menanti saya. Saya sendirian di Swedia, di dalam apartemen 21 meter persegi lantai 8.

pisauKenapa bunuh diri? Saya ingin semua perasaan buruk menghilang dalam sekejap. Saya ingin bebas. Semua yang saya miliki dalam hidup menjadi tidak berarti tanpa kehadiran keluarga dan teman. Depresi juga sesuatu yang memalukan, aib bagi diri saya sendiri dan keluarga. Saya yang depresi, keluarga jangan sampai ikut menanggung aib saya. Saya ingin bebas, agar keluarga dan orang-orang terdekat juga terbebas. Tidak ada cara lain, saya harus mati. Pisau daging yang biasa saya pakai untuk memotong daging beku dan tulang sudah berada di tangan. Saya mengirim pesan minta maaf dan pamit ke salah satu teman saya. Menitipkan kata-kata terakhir untuk disampaikan kepada keluarga. Waktu itu minggu dini hari, pukul 2. Teman saya yang tinggal tidak jauh dari saya, Marvin lalu datang ke apartemen saya menggedor pintu cukup lama sambil berkata “Please Endri, open the door. Let me talk to you. I beg you”. Tapi saya tidak bergeming. Saya menunggu sampai dia pergi. Sayangnya saya tertidur karena hampir seminggu saya mengalami gangguan tidur. Sayangnya lagi saat terbangun dua polisi sudah berada di depan pintu. Teman saya, Kjel Olsson, yang mengirim kedua polisi itu. Dia yang menyelamatkan saya di Swedia.

Tak terhitung pikiran bunuh diri yang muncul setelah dua upaya diatas. Hanya sekedar pikiran memang, tidak dilakukan karena saya meningat Tuhan dan sadar bahwa keluarga dan orang-orang terdekat serta teman akan hancur hidupnya kalau saya mati dengan bunuh diri. Saya sebetulnya ga mau bunuh diri. Saya takut. Tuhan akan menghukum saya masuk neraka. Saya ga mau melakukannya, tapi saya ga bisa mengendalikan pikiran saya. Saya ingin hidup dan bahagia. Saya tahu sebetulnya akan menyusahkan banyak orang dengan bunuh diri.

Update 9 September 2016

Saya sudah berhenti minum obat dan sedang dalam masa observasi apakah saya akan tetap hidup tanpa periode depresi lagi selama satu tahun kedepan.

Sejak saya menulis blog ini ada ratusan orang yang menghubungi saya lewat chat, telepon, ataupun tatap muka. Semuanya pernah atau sedang mengalami masa yang sulit juga. Saya kemudian memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan menolong sesama penderita. Saya bisa dihubungi di wa 081322247454 atau di fb www.facebook.com/liquidkermit . Tidak banyak yang bisa saya lakukan selain menjadi teman berbagi untuk melewati masa-masa terburuk dalam hidup.

http://liquidkermit.net/perjalanan-menuju-kesembuhan/

30 Comments

Yogie 2 years ago

Come on Kermit,
we can make another project about dengue in Indonesia…….

Reply

harry 2 years ago

Terkadang kita sellu dihantui rasa bersalah, tidak diterima oleh orang lain, merasa sendiri, namun jangan sampai pikiran jadi kosong, selalu dekatkan dengan Tuhan. Insyaaallah terhindar dari rasa ingin mengakhiri.

mas endri, semangat!!

Reply

endri 2 years ago

Mengingat Tuhan memang menghindari saya dari mengakhiri hidup. Sayangnya itu ga cukup untuk keluar dari depresi. Beberapa teman saya yang sangat religius juga ada yang depresi. Depresi sama seperti batuk pilek, siapa aja bisa terkena.

Reply

Dini 2 years ago

I think you might have an Anxiety disorder. I have a friend who has an anxiety disorder, but he has a medication since a long time and now trying to stop it step by step with make the dosage less and less. The natural ways might you would like to try are you need to do pray, sports to boost your serotonin (it will be good 3/4 times a week) (maybe: gym, swimming, or etc), eat healthy, sleep at least 6-12 hours/day, fasting also helps a lot to boost serotonin in a long term, travel alone to have mindfulness meditation which can decrease anxiety and helps reduce the stress hormone, cortisol. Hope it will helps you, stay strong. My comment based on my friend’s experience, and it works for him beside I helped to support him do a natural cure. Hope you might wanna try it. ๐Ÿ™‚

Reply

endri 2 years ago

I don’t think I have an anxiety disorder. People with anxiety disorder are characterized by overwhelming feelings of anxiety and fear. My main symptoms are feeling down, hopelessness, and lost interest in everything, including life. People with depression may also experience some degree of anxiety.

Reply

Iyan Kushardiansah 2 years ago

Mit, gue sebagai orang lain, yang mungkin cuman pernah salaman sekali doang sama elu, liat semua ini gue kaget. aslinya.

Kalo lo ngerasa sendirian hidup di dunia ini, satu sisi ente bener banget mit, di sisi lain semua orang juga begitu mit, bukan ente doang. Yang perlu digali, apa yang sebenernya lu pengenin? more deep lagi, apa tujuan hidup lo?

Setiap keterpurukan akan di sambut penderitaan lain pada esok harinya. Itulah kenapa ada “Hope”, harapan yang diberikan Tuhan pada kita.

Apa itu sukses mit? ketika ilmu yang lu dapet bisa lu pake untuk bantu orang, ketika harta yang lu dapet membuat sekeliling lu sejahtera, Tapi jangan jadi lilin yah, yang akan habis meleleh untuk memberikan terang kesekitarnya.

And last point, you’re not alone. mail me!

Reply

someone graduated from sweden 2 years ago

In my opinion, measuring success from worldly things will only make you fall deeper in the well. Because it is not easy to please all people around us. If you believe in afterlife, success is when you are winning the paradise. As a Muslim, someone have responsibility to learn religious knowledge. Ilmu Dien is everything. Without it you will be losing your grip. People always recite Al-Fatihah in their prays. But only a few who understand the meaning. Ask to Him that you need to be guided in the right path. And don’t stop to seek the truth. What is the purpose of Human creation in this world? Again, it is not for achieving this and that academic degrees, or having great curriculum vitae and resume.

Reply

endri 2 years ago

True indeed. Every time people said that I smart, that I have achieved so many things, etc, my depression got worse. It makes me feels that I am an ungrateful bastard.

Reply

endri 2 years ago

justru sebaliknya, salah satu penyebab saya depresi adalah keinginan yang ga tercapai, ekspektasi yang ternyata berlebihan.

Reply

Iyan Kushardiansah 2 years ago

Belajar iklhas mit, kalo masalahnya nafsu keinginan yang ngga tercapai.
Keep the spirit, gagal itu harus berkali2 karena sukses itu cuma sekali… ^_^

Reply

Adjie 2 years ago

assalamualaikum, Dear Kermitt, try to go to the Mosque every Shubuh, do rawatib before Shubuh, dont force it, try to understand the Alfatihah, feel it, like you listen the answer of Allah after every Ayat you read, wassalamualaikum

Reply

someone graduated from sweden 2 years ago

Hej Kermit,

I think understand what you feel. I’ve been there, done that–thinking to suicide but having no courage to do it because I’m afraid to be condemned by God. I felt that the achievements I got are worthless. I was tired to live for making people impressed. I was fed up to be praised. I was anxious if people know I am actually not as amazing as they thought. I stopped using social media, I withdrawn myself from circle of friends. More importantly, I didn’t want my family and friends know that I am depressed. They would be worried. And I didn’t want it. I kept it all by myself.

I couldn’t count how many times the suicidal feelings crossed my minds. I even googled what are the best ways to suicide. Until I uttered that feeling to a group of friends, and my other half. And you know what, they were shocked, it’s unbelievable that me–a bright young girl with a list of achievements and who got scholarship to study in Sweden was depressed. It was shame to admit that I wanted to suicide. “Am I kind of a loser?” I thought. But surprisingly, their responds were positive. They didn’t judge me, they supported me.

I don’t know you well. We only exchanged some words through e-mail. I don’t know what is your religious affiliation. But if you are a Muslim, the solution is crystal clear: please re-orient your life goal to prepare for the afterlife world. It works for me. This world is no more worth than a wing of mosquito. So why we have to spent all energy and times for worldly things, and for making people impressed?

You can always contact me.

Reply

endri 2 years ago

You are so lucky you got positive responses. Mine was the opposite. Parents kept telling me that I am a bright student. They were questioning my medical doctor degree. “A doctor must be able to help himself”, so they said. They forced me to meet people (aunt, uncle, cousins) when I was really depressed. However, in the end they were the one who took care of me. Feeding me, kept me away from sharp objects, taking me to a psychiatrist, etc.

Responds from the first two friends I told about my depression were not positive either. One was avoiding my phone call. I haven’t talk again with the other one. Completely missing.

Reply

someone graduated from sweden 2 years ago

Hej, hu mรฅr du? How are you today?

Same here. It sounds so ungrateful when people claim me as one of the luckiest human beings on earth, while I kept ranting on about how depressing to be me. Sometimes, I even thought to switch place with people who didn’t have achievements, whose had so-so education and jobs, because the burden that I had just unbearable. (May God forgive me for my ungratefulness!)

I apologize, in my point of view as a depression survivor, the type of remarks like your Dad said, or some commentators in this blog is not useful in this situation. It just added more burden on your shoulders. I understand the fact that people have great expectation towards you will only make your depressions even worse. You are supposed to live not for making people think that you are good at this and that, or to become humanitarian volunteer etc. You have to stay alive because you are worth living.

I realized the time when I was depressed, I basically just needed to share what I felt. I was fortune to have friends who were not judgmental. I talked to them about my pain, sorrow, sadness. Also my anger that I couldn’t bear the over-expectations of people addressed to me. One of my friends (who also experienced near-suicide moment and depression) suggested me to go to psychiatrist to get some medication before it was too late (ed. before I ended up cutting my wrist?). I felt supported. Their emphatic responds were valuable to give me some more times to think clearer.

Finally, I talked to someone, then he told me about a Hadith:
Abu Hurayrah (may Allaah be pleased with him) narrated that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: โ€œWhoever throws himself down from a mountain and kills himself will be in the Fire of Hell, throwing himself down therein for ever and ever. Whoever takes poison and kills himself, his poison will be in his hand and he will be sipping it in the Fire of Hell for ever and ever. Whoever kills himself with a piece of iron, that piece of iron will be in his hand and he will be stabbing himself in the stomach with it in the Fire of Hell, for ever and ever.โ€ Narrated by al-Bukhaari, 5442; Muslim, 109.

I was absolutely scared when I was being told about that Hadith. It is good thing that remembering God had prevented us to commit suicide. Indeed, we are not authorized to kill ourself!

I am completely agree, depression can happen to anyone. It is so painful and hopeless to be there. “Sitting at a bottom of a well” is so lonely, dark, and cold. I know that. I’ve been there.

Please be patient, this sorrow is temporary, it will eventually pass by. You will get the reward of your patience, Inshallah. Remember that after every hardship there is ease, and we won’t be burdened by difficulties that we can’t bear.

I successfully climbed up and out the depression chamber after I re-oriented my life goal like I said above. When the afterlife is your purpose, inshaAllah you will find the escape route to get out from that darned well. Because you’ll know the worldly ambitions are nothing if they are not useful for the Day of Judgments.

About your friends who seem ignoring you, I am sorry to hear that. Perhaps they just don’t want to get in trouble if something bad happened on you. Especially Swedes, typically they show ignorance because they avoid to be trapped in problems (some social experiments show that, you can try watching sthmpanda channel on YouTube, they have some examples).

Reply

endri 2 years ago

Thank God we’re still alive to tell our stories ๐Ÿ™‚

Reply

palawa001@gmail.com 2 years ago

Ndri…teman sma ku..dahulu sering asik sndiri duduk di blakang, mebaca buku sambil mengkerutkan dahi..manfaatkan ilmu dan gelar yg tlah engkau raih..fokus hidup untuk membahagiakan orang lain..buat orang lain tersenyum atas bantuanmu..jadilah pejuang kmanusiaan..yakin!!! Kebahahiaan yg emgkau berikan melalui ilmu yg engkau punya justru akan membuatmu bahagia…dekatkan diri kepada Allah, dialah sang pemilik hati… Semangat endri, dirimu sangat berharga..

Reply

Anindya Pithaloka 2 years ago

Hai Mas Endri,

Saya “nyasar” kesini karena saya baca tulisan Mas yang disubmit di Get Happy.
Would like to say this very cliche, sappy, thingy: “I understand”.

Dan saya sangat paham dengan perasaan “ingin menghilang saja”. Atau “tidur lama sekali pokoknya maunya begitu bangun semua baik-baik saja”, dan perasaan “jatuh tapi tak jua menghantam dasar”. Semacam endless pit of hopelessness. Nothing really matter. Saya juga pernah menulis surat pamitan. Tapi saya umpel-umpel dan buang di tong sampah depan kamar.

Having been there, and still are, setiap upaya bangkit bisa dideskripsikan sebagai “two step forwards, one step backward”.

Anyhoo, well, here we are. Menjalani hidup sehari demi sehari. To tell our stories. And to listen to each other.

I do enjoy reading your blog (padahal lagi deadline) ๐Ÿ˜€

Reply

endri 2 years ago

Hahaha, maaf mengganggu deadline :p
Trims sudah mampir

Reply

Eric 2 years ago

Halo mas endri, terima kasih sudah sharing..
Saya juga sama ngerasain hal diatas beberapa tahun ini..
I always try sleep anytime i have, bukan karena capek, tp hanya utk mencoba menyingkirkan rasa hopeless. Now I didnt have any hobby n passion to achieve something either, i was gamer but now even i don’t enjot to do it anymore
Saya lulusan s2 itb, punya kerjaan tetap, rumah sendiri, but i am depression, just living like zombie.
Terakhir pernah coba ke psikiater, dikasih resep, tp sy rasa sy blm butuh obat..
lagi mencoba menghargai rasa sayang beberapa orang yg tahu sy depresi but they still smilling to me

Reply

endri 2 years ago

Halo Eric, saya bingung bagaimana membalas komentar Eric.
Saya sekarang lagi kambuh, jadi saya mengerti lagi rasanya hopeless.
Semoga mas Eric punya support system yang baik, keluarga, teman, dan orang-orang terdekat. Mereka memang ga membuat depresi hilang, tapi bisa mengembalikan semangat hidup.
Saya yakin mas Eric juga mengerti apa yang saya bilang.
Suatu hari, kita yang akan tersenyum kembali. ^_^

Reply

amsi 2 years ago

kang endri, masih kenal saya? jujur saya kaget pas baca postingan di atas. tapi saya yakin kang endri bisa melewati semua ini. saya mendoakan kang endri dari heningnya malam di selatan Cianjur, dan izinkan saya menyampaikan apa yang dibisikkan Abu Bakar ra kepada Nabi Muhammad saw saat mengalami rasa takut di gua Tsur ketika dalam perjalanan hijrah menuju Madinah, “laa tahzan innaLllaaha ma’anaa” … usah kau sedih dan khawatir, sesungguhnya Allah senantiasa bersama kita …
mohon maaf jika tulisan saya kurang berkenan di hati akang. semangat ! haturnuhun

Reply

endri 2 years ago

terimakasih mang Amsi ๐Ÿ™‚

Reply

Eiri 2 years ago

Terima kasih banyak Mas Endri, sungguh saya benar-benar berterima kasih atas tiap kata yang telah Mas Endri tuliskan dengan sangat jujur..
Mas Endri berhasil membuat saya menangis siang bolong di tengah-tengah jam kantor :’))

Alhamdulilah saya telah melewati salah satu fase kehidupan terberat saya tahun lalu.
Ya, rasanya sangat tidak nyaman, bahkan hanya dengan mengenangnya saja membuat saya jadi ingin menangis lagi :’)

Saat itu bahkan saya tidak bisa menceritakan pada keluarga saya sendiri karena merekalah salah satu sumber depresi saya. Terlebih saat itu saya sedang jobless, sakit-sakitan dan baru saja patah hati diselingkuhi calon suami saya, benar-benar merasa seperti sampah yang ditinggalkan semua orang. Saya penyakitan, tidak cantik, tidak jenius, tidak punya prestasi apa-apa yang membanggakan orang tua saya disaat hampir semua teman saya sudah jauh lebih sukses

Tapi pertolongan Allah ternyata benar-benar tidak pernah terlambat dan datang dengan sangat tak terduga, tiba-tiba untuk pertama kali dalam hidup saya merasakan yang namanya jatuh cinta pada pertemuan pertama dengan seseorang disaat saya bahkan merasa mungkin selamanya saya akan hidup sendirian tanpa pernah merasakan cinta lagi terhadap apapun. Itu rasanya seperti sangat mustahil, kuasa Allah sungguh nyata.

Kita semua benar-benar makhluk yang lemah ternyata. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa jika bukan Allah yang menolong kita.
Jangan pernah putus berdoa ya Mas, hanya itu yang bisa Mas lakukan sekarang

SEMANGAT!
Semoga kelak saya bisa membaca kisah bahagia Mas Endri yang berhasil melawan semua rasa depresi ini.
I love you, Mas Endri. *peluk hangat dari jauh*

Reply

endri 2 years ago

Halo Eiri, semoga suatu saat isi blognya berubah menjadi hal-hal yang bahagia. Peluk hangat juga

Reply

ilmi 1 year ago

hallo mas endri, salam kenal..
saya senang bisa menemukan blog ini. Saya pernah mengalami hampir semua yang mas tulis bertahun-tahun. saya pernah menemui psikolog dan masih berfikir untuk bertemu psikiater, terutama untuk mengobati insomnia dan nyeri di semua bagian tubuh. saya bahkan hampir menyerah untuk menyelesaikan kuliah saya yang sudah hampir memasuki masa DO karena sibuk dengan pelarian diri dari semua yang mengenal saya ketika musim kambuh yang datang.

Saya mencoba mendekatkan diri kepada Agama untuk mendapatkan ketenangan, namun… ketika kambuh, kondisi saya mengelabui saya kembali. Saya seperti orang hidup di gua yang menyendiri dalam gelap dan keluar jika ada kebutuhan mendesak yang harus terpenuhi..
Saya menjadi lebih emosional jika mendengar dan melihat sesuatu yang menyedihkan dalam perspektif saya, apalagi jika kondisinya hampir serupa dengan yang saya alami.

Saya tidak bisa bercerita dengan oranglain karena jarang ada yang mengerti, keluarga pun juga tidak bisa karena Orang tua saya juga sedang mengalami masalah.

Saya hanya berharap hidup nyaman, berdoa untuk bisa merasa bebas dan tertawa lepas..
menerima semua masalah ini dengan lapang dada … saya juga berharap orang-orang yang pernah mengalami seperti yang saya alami bisa mengecap rasanya bahagia… Amin… ^_^

Reply

endri 1 year ago

Hai Ilmi, trims sudah mampir. Mudah-mudahan sekarang sudah jauh lebih baik ya.

Reply

Flower 12 months ago

Hi Endri

Saya juga pernah depresi kelas berat.
Saat rumah tangga mengalami guncangan keras dan saat itu saya sedang hamil 9 bulan.
Sampai saat melahirkan dan pasca melahirkan sambil baby blues saya juga mentally down
karena rumah tangga bukan semakin membaik tapi malah tambah buruk.
Saya pernah stress sampai jalan kaki keluar rumah jam sebelas malam sambil nangis sendirian dan jalan aja tanpa tau tujuan.
Waktu itu merasa kalau bicara dengan siapapun tidak akan membantu. Termasuk bicara kepada orang tua saya.
Saya juga pernah nangis guling-gulingan dihalaman rumah sambil menjerit-jerit bak orang gila.
Saya bahkan pernah mengalami ketakutan sehingga tidak berani keluar rumah dan selalu mengunci jendela bahkan disiang hari. Kerjaan saya menangis dan ketawa di dalam kamar.
Saat itu saya merasa depresi sekali karena merasa hidup saya sudah tak ada artinya. Saya orang gagal yang hidupnya tidak berarti. Sebagai orang yang cenderung perfectionist, menerima kegagalan besar adalah hal yang sangat sulit buat saya.

Namun alhamdulillah nya saya tidak pernah tersirat sama sekali untuk bunuh diri. Saya lebih cenderung marah dan mengamuk. Saya juga tidak pergi ke psikiater walaupun sempat terpikir. Akhirnya saya terapi diri saya sendiri Alhamdulilah keluarga penuh kasih sayang dan memberikan banyak doa buat saya.
Sedikit-sedikit saya bangun kekuatan dan menata mental kembali. Saya memang memperbanyak ibadah. Selalu berzikir dan menyebut Allah dan jarang lepas dari al-qur’an. Saat itu untuk pertama kalinya saya khatam al-qur’an dan sampai sekarang sudah berkali-kali banyaknya khatam.
Secara pribadi saya merasa dengan membaca al-qur’an saya merasa tenang sehingga saya membacanya banyak sekali selama bertahun-tahun. Alhamdulillah itu menjadi terapi yang works wonder buat saya.

Maaf jadi panjang dan curhat.
Intinya saya juga tau gimana rasanya depresi sama hidup, menjadi hopeless dan merasa useless.
Semangat terus ya Endri!
Salam

Bertahun-tahun sampai akhirnya Alhamdulillah bisa menemua

Reply

endri 11 months ago

Hi, maaf sepertinya komentarnya terpotong. Atau memang belum selesai.

Ikut bahagia terapi kamu berhasil ^_^

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *