Back to blog

Pelampung atau life jacket?

11 May 2018 - Posted in umum Posted by:

Pada saat naik motor, maka wajib menggunakan helm. Helmnya pun berstandar SNI. Saat naik mobil ya menggunakan sabuk pengaman. Begitu juga saat naik pesawat. Selama lampu sabuk pengaman menyala, harus selalu dipakai walaupun pada saat hendak parkir. Biasanya penumpang udah ga sabaran lepas sabuk dan mulai bongkar bagasi untuk ambil koper dan tas.

Semua aturan itu lumayan sering ga diikuti di kota besar. Pasti sering kan liat orang naik motor tanpa helm? Naasnya, justru anak yang hampir ga pernah pakai helm. Saya pernah menulis ini disini.

Tapi kondisi di daerah lebih kacau balau. Pengendara motor yang memakai helm adalah minoritas. Kondisi sabuk pengaman di mobil lebih parah lagi. Hampir semuanya ga pernah pakai. Atau kalaupun dipakai, tidak dipakai dengan baik. Sabuk ditempelkan setiap saat lalu saat pengemudi duduk, sabuk cuma dilingkarkan ke badan agar terlihat dipakai.

Nah, apalagi kalau kita bicara soal pelampung. Tragis banget. Saya sendiri pada awalnya paling males pakai pelampung, panas dan ga nyaman. Tetapi suatu hari, speed boat yang saya naiki dihantam ombak tanpa henti. Kini saya tidak akan melakukan perjalanan laut tanpa ada pelampung yang baik didekat saya.

Saya sering melakukan perjalanan laut karena Indonesia adalah negara kepulauan. Banyak tempat yang saya kunjungi merupakan daerah kepulauan, termasuk pulau-pulau terpencil yang setiap bulan saya datangi. Saya mewajibkan kapal yang saya naiki untuk memiliki pelampung dengan jumlah sesuai penumpang. Tapi ternyata itu tidak cukup. Kualitas pelampung yang dimiliki di kapal-kapal ini memprihatinkan. Hampir semuanya adalah bekas dengan kerusakan disana sini misalnya sobek, talinya putus, bau, tipis, dan lain-lain. Maklum, di daerah.

Akhirnya saya berhasil meyakinkan kantor untuk membeli sejumlah pelampung baru yang portabel agar mudah dibawa-bawa. Pelampung yang seperti berada di pesawat, bisa dikembungkan. Sayangnya kemudian terkendala petugas keamanan bandara yang pernah menyita pelampung kami karena mengandung gas CO2 terkompresi. Padahal setelah saya cari sana-sini, seharusnya pelampung seperti itu boleh masuk kedalam pesawat beserta satu tabung CO2 cadangan. Maskapai Garuda Indonesia pun sebetulnya sudah mengijinkan, tetapi ya ga bisa juga karena sebelum masuk pesawat sudah ditolak petugas keamanan bandara yang otoritasnya dibawah PT Angkasa Pura. Merekapun tidak konsisten karena terkadang membolehkan tapi terkadang menolak. Daripada gambling, akhirnya saya mencoba untuk dipaketkan saja ke tempat dimana saya akan membutuhkan pelampung. Lagi-lagi terkendala perusahaan logistik yang pastinya menggunakan pesawat untuk mengirim barang. Opsi terakhir menggunakan jasa logistik yang melalui laut, tetapi waktu pengiriman menjadi terlalu lama. Akhirnya saya menyerah, pelampung dengan gas CO2 mangkrak di gudang.

Setelah mencari informasi disana-sini, dan bertanya ke teman di Swedia yang memiliki yacht, barulah saya tau bahwa spesifikasi pelampung berbeda-beda tergantung kebutuhannya. Singkatnya untuk perjalnan melalui laut saya membutuhkan pelampung tipe 1 yang tersertifikasi USCG (United States Cost Guard). Spesifikasi penting yang dimiliki pelampung tipe 1 ini adalah jika walaupun tenggelam dalam kondisi tengkurap, si pelampung akan otomatis membuat badan menjadi terlentang dengan posisi wajah diatas air. Karena itulah istilah yang lebih tepat adalah Life Jacket (atau baju penolong). Selain itu, juga memiliki daya apung setidaknya 100 Newton. Jadi gak heran kalau sangat tebal. Yang saya foto disini adalah merk Survitec dari Amerika dengan tipe yang bisa ditumpuk. Ada juga yang tipenya seperti rompi.

 

Berikut 5 tipe pelampung berdasarkan standarisasi USCG

Tipe 1 (disebut juga offshore life jacket atau commercial life jacket atau baju penolong)

Bisa digunakan untuk semua perairan: samudra bebas, laut berombak, atau perairan terpencil yang akan membutuhkan waktu lama jika perlu penyelamatan. Biasanya tebal banget. Memilik daya apung paling tinggi dibanding tipe lain, warnanya cerah, mampu membalikan badan didalam air sehingga wajah menghadap atas terbebas dari air. Daya apung setidaknya 100 Newton, sementara tipe 1 versi gas CO2 memiliki daya apung setidaknya 150 Newton.

Tipe 2 (disebut juga near-shore life vest)

Untuk perairan yang tenang dimana penyelamatan dapat dilakukan dengan cepat. Dapat membalikan orang yang tenggelam sehingga wajah berada diatas permukaan air, tetapi tidak selalu berhasil. Masih tebal juga tetapi tidak setebal tipe 1. Daya apungnya 70 Newton.

Tipe 3 (disebut juga floation aid atau pelampung)

Tipe 3 biasanya digunakan para pelaut dimana rescue bisa dilakukan dengan cepat. Tipe 3 tidak membatasi pergerakan penggunanya baik saat diluar air maupun didalam air. Saat didalam air, penggunanya harus memposisikan kepala mereka sendiri agar wajah berada diatas air sehingga tidak cocok pada saat tidak sadar. Daya apungnya 70N dan nyaman untuk dipakai sepanjang perjalanan (karena tidak tebal dan tidak membatasi pergerakan).

Tipe 4 (atau disebut juga throwable devices)

Ini pelampung yang bisa dilemparkan kepada yang membutuhkan. Biasanya bentuknya seperti donat. Pasti pernah lihat kan? Sayangnya tipe 4 ini bukan untuk yang tidak bisa berenang, atau tidak sadar, ataupun perairan yang sangat bergelombang. Daya apungnya 75N.

Tipe 5 (atau special devices)

Ini adalah pelampung khusus untuk keperluan khusus. Hanya untuk digunakan sesuai dengan labelnya, misalnya kayak, ski air, dan lain-lain. Daya apungnya 70-100N. Biasanya dilabel sebagai tipe 5 dengan performa tipe 2 atau tipe 5 dengan performa tipe 3.

 

Sementara itu Uni Eropa menggunakan klasifikasi sebagai berikut:

50N (atau buoyancy aid/pelampung)

Untuk yang bisa berenang dan di tempat yang pertolongan dapat didapat dengan cepat. Daya apung 50N dan hanya digunakan untuk sebagai alat bantu mengapung saja.

100N (life jacket)

Untuk yang bisa ataupun tidak bisa berenang dan digunakan di laut dekat. Tidak ada jaminan jika penggunanya tidak sadar.

150N (life jacket)

Untuk semua orang di semua perairan kecuali perairan yang sangat buruk seperti saat badai.

275N (life jacket)

Untuk semua orang di semua kondisi, termasuk jika membawa barang berat.

 

Sayangnya pelampung-pelampung seperti ini mahal dan susah dicari. Pasti tidak ada yang jual di daerah yang sering saya kunjungi. Pelampung yang saya pakai harganya diatas 1 juta, jauh lebih mahal dibandingkan pelampung yang sering beredar di pasaran berharga seratusan ribu. Di Jakarta, pelampung seperti ini bisa dibeli di Lindeteves Trade Center, Glodok.

Di Indonesia sendiri penggunaan pelampung diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 tahun 2015. Disana tidak disebutkan spesifikasi pelampung yang diperlukan untuk berbagai keperluan. Permenhub 25 hanya menyebutkan tentang lampu pada pelampung dan peluit yang wajib ada.

 

Referensi

USCG: https://www.dco.uscg.mil/CG-ENG-4/PFD/

Permenhub 25 – 2015 http://hubdat.dephub.go.id/km/tahun-2015/1751-peraturan-menteri-perhubungan-republik-indonesia-nomor-pm-25-tahun-2015-tentang-standar-keselamatan-transportasi-sungai-danau-dan-penyeberangan

Survitec http://survitecgroup.com/product-list/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *