Back to blog

Kuliah di luar negeri, depresi, dan bunuh diri

11 August 2017 - Posted in depresi Posted by:

Kalau baca cerita dan lihat foto-foto pelajar Indonesia di luar negeri tampaknya belajar di luar negeri itu sangat asyik. Bisa jalan-jalan ke tempat-tempat cantik dan belajar di universitas ternama.

Di balik cerita dan foto wah itu sebetulnya ada cerita yang sangat jarang diungkap. Tentang perjuangan berat baik itu di sisi akademis dan kehiduan pribadi sehari-hari.

Saya sendiri kuliah S2 di Swedia. Kalau buat saya masa 2 tahun di Swedia tidak ada yang membuat saya depresi. Faktor penyebab saya depresi semuanya dari luar akademis dan kehidupan di Swedia. Tulisan ini berdasarkan pengalaman banyak pelajar Indonesia di luar negeri yang berbagi cerita kepada saya.

Saya adalah survivor depresi dan bunuh diri. Semoga tulisan ini berguna buat kamu. Apa itu depresi bisa kamu baca disini:

Yang saya tahu tentang depresi saya

Kenapa saya mencoba mengakhiri hidup

Cerita kami tentang depresi

 

1. Cultural clash
Pada awalnya segala sesuatu di tempat baru di luar negeri berasa indah. Jalanan yang bersih tertata. Bangunan-bangunan gedung yang menarik. Alam yang cantik. Pokoknya kesan pertama selalu baik.

Lama kelamaan saat mulai beradaptasi bisa mulai merasakan adanya ketidakcocokan dengan situasi baru. Di Swedia misalnya, bisa merasa sangat kesepian karena orang Swedia tidak suka mengobrol dengan orang asing. Di Swedia mengetuk pintu apartemen sebelah untuk memperkenalkan diri saja dianggap sangat aneh. Teman sekelas hanya teman saat di kampus, setelah jam belajar selesai semuanya pulang ke rumah masing-masing dan tidak ada apa-apa lagi. Di Swedia pula malam itu sepi, tidak seperti di Asia. Pukul 7 sebagian besar orang berada di rumah, bukan nongkrong di mall. Sebagian ada sih di bar. Hari Minggu tidak jauh berbeda. Jadwal bis malah semakin jarang. Jika kamu menggunakan beasiswa seperti saya dulu, mungkin harus berhemat dengan masak tiap hari. Kalaupun mau makan diluar, susah menemukan rumah makan (yang terjangkau) di malam hari. Makin membuat kesepian.

Meskipun setiap negara (atau bahkan kota) berbeda, tetapi selalu ada budaya yang tidak cocok bagi kita orang Indonesia. Ketidakcocokan ini bisa membuat homesick. Atau bahkan menimbulkan depresi. Ada begitu banyak hal yang biasa dilakukan di Indonesia kini tidak bisa lagi. Ada begitu banyak kemudahan di Indonesia kini menjadi sulit di luar negeri.

2. sistem pendidikan
Masuk di universitas ternama bukan berarti menjadi pintar dan hebat seketika. Masuk di universitas ternama artinya satu: kerja keras. Karena universitas ternama punya tuntutan yang tinggi terhadap para siswa nya. Ditambah lagi sistem pendidikan yang sangat berbeda dengan di Indonesia. Kuliah di luar negeri tidak banyak kuliah. Lebih banyak diskusi dan tugas mandiri. Betul-betul harus mandiri. Dosen tidak akan memberi tahu buku apa yang harus dibaca. Mahasiswa punya kebebasan. Tapi justru dari kebebasan ini yang sering membuat pelajar Indonesia menjadi stress karena saat di Indonesia kuliah adalah mendengarkan dosen berbicara di depan dan mencatat. Di luar negeri berbeda. Mahasiswa yang bersuara, berdiskusi, berdebat. Menghadiri kuliah sama sekali tidak cukup. Ada ratusan jam di perpustakaan dan flat yang dihabiskan demi bisa lulus suatu mata kuliah. Tugas sebagian besar adalah essay. Menulis essay ini jarang dilatih di Indonesia sehingga banyak yang kelabakan karena ini (termasuk saya).

Perbedaan sistem pendidikan ini pada akhirnya yang sering membuat pelajar jadi tertekan. Ditambah cultural clash diatas. Hasilnya kalau tidak mampu beradaptasi bisa membuat jatuh kedalam depresi.

3. Winter depression
Banyak dari pelajar Indonesia ingin melihat salju saat belajar di luar negeri. Semua ini tergambar dari banyak sekali foto-foto bersama salju yang diposting pelajar Indonesia. Bahkan dulu teman-teman saya sampai mengadakans sesi foto bareng saat salju pertama muncul.

Tetapi musim dingin bukan hanya salju. Musim dingin juga gelap. di Swedia matahari muncul pukul 10 pagi dan sudah tenggelam sekitar pukul 3 sore. Berangkat kuliah gelap, pulang pun gelap. Di siang hari pun langit sering gelap berawan, tanpa matahari. Membosankan. Ga seperti yang pada umumnya diceritakan para lulusan luar negeri dan dibayangkan calon pelajar.

Musim dingin di negara belahan bumi utara dan selatan bisa menimbulkan gangguan jiwa. Teman saya sendiri mengalaminya. Dia dari Uganda, negara tropis sama seperti Indonesia. Efeknya dia menjadi lemas, ga bergairah, murung. Sering bolos kuliah dan sering terlambat mengerjakan tugas. Setiap hari menunggu matahari muncul di balkon apartemen.

Terdengar konyol memang, kurang matahari. Seperti superman yang mendapat kekuatan dari sinar matahari ternyata manusia juga sama. Kondisi ini mempengaruhi semua orang, tidak hanya yang berasal dari negara tropis. Winter depression ini begitu umumnya sehingga tersedia semacam kapsul tidur untuk terapi cahaya matahari. Ada juga suplemen vitamin D yang sering dikonsumsi. Atau lampu yang bisa mensimulasikan cahaya matahari. Teman saya begitu, dia beli banyak lampu untuk apartemen nya. Apartemen dia jauh lebih terang dari saya.

4. Kehilangan

Kehilangan sesuatu atau seseorang (putus cinta, anggota keluarga meninggal, meninggalkan keluarga di Indonesia) saat sedang belajar di luar negeri bisa sangat mempengaruhi kamu. Lebih dari jika kamu sedang di Indonesia. Karena kamu jauh dari orang-orang terdekat dan ada beban akademis yang juga harus dipikirkan. Pada siapa harus bercerita? Pulang tidak semudah itu. Perjalanan belasan hingga puluhan jam dengan tiket yang tidak murah. Walaupun ada video call, tetap saja tidak cukup.

 

Meskipun sebagai pelajar di luar negeri bisa lebih rentan terhadap depresi, tetapi untungnya universitas-universitas di luar negeri (terutama di negara maju) punya sistem untuk membantu pelajar.

Apa yang harus dilakukan kalau kamu mengalami masalah saat belajar di luar negeri?
1. Teman internasional
Teman internasional, terutama yang berasal dari negara maju sudah lebih terbiasa dengan kesehatan jiwa. Saya sendiri mendapat respon yang segera. Teman Uganda saya menggedor pintu tengah malam waktu saya hendak bunuh diri, atas perintah teman dari Swedia. Teman Swedia saya ga berhenti disitu, dia menghubungi polisi setempat. Saat pada akhirnya semua teman sekelas tahu, semuanya memberi dukungan positif, termasuk teman yang sebetulnya tidak dekat sekalipun. Jadi kalaupun kamu ga deket ama teman internasional, coba bicara saja. Mereka peduli, dan tahu apa yang harus dilakukan.

Ga ada yang salah untuk bercerita ke teman-teman sesama Indonesia. Terutama kepada yang bisa kamu percaya. Sayangnya, kesehatan jiwa belum menjadi pembicaraan yang umum. Bisa jadi mereka bingung bagaimana harus merespon, karena sebelumnya belum tahu apapun soal kesehatan jiwa dan mungkin ini pertama kalinya mereka harus berhadapan dengan kesehatan jiwa. Dari kamu.

Pokoknya coba bicara. Curhat. Berikan kesempatan kepada teman kamu untuk mengerti dan membantu. Mungkin beberapa (banyak) akan memberi respon yang tidak baik, yang membuat kamu makin terpuruk. Seperti “ini hanya ada di pikiran kamu”, “cari perhatian”, “kurang ibadah”, dan lain-lain. Tapi saya cukup yakin akan ada yang pada akhirnya memberikan dukungan bagi kamu. Coba bicara juga dengan orang yang tidak terlalu dekat. Terkadang ada untungnya bicara dengan teman yang ga terlalu dekat. Mereka ga terlalu kenal kamu, jadi ga akan membandingkan cerita kamu dengan persepsi mereka akan kamu. Bagi mereka, kamu adalah kertas kosong. Begitupula mereka bagi kamu. Lagipula, semua orang pada awalnya tidak berteman bukan?

Kenapa saya menempatkan ini pada nomor 1? Karena kamu akan sangat butuh teman untuk menemani langkah kamu saat kamu berusaha lepas dari cengkeraman penyakit jiwa. Proses penyembuhan seringkali memakan waktu yang lama. Seorang teman bisa mengurangi beban kamu sehingga meskipun masih sangat berat tapi kamu akan sanggup menjalaninya.

2. Academic counselor
Saya bersyukur pernah bersekolah di Swedia. Negara yang sangat mengagungkan kesimbangan kehidupan kerja dan pribadi/keluarga. Orang tua misalnya boleh ambil cuti saat anaknya sakit, tanpa ada surat dokter sekalipun.

Meskipun saya baru memberi tahu academic counselor saya setelah saya lulus. Tapi saya tahu academic counselor saya sangat peduli keadaan mahasiswa. Teman sekelas saya mendapatkan personal mentor (saya) untuk urusan akademik karena dia mencari pertolongan dari academic counselor untuk gangguan cemas yang dia alami.

Karena saya sendiri lah mentor untuk teman saya, maka saya tahu betul apa yang bisa diperoleh dari academic counselor. Teman saya bertemu academic counselor secara rutin. Saya pun dulu secara rutin berdiskusi dengan academic counselor tentang progress teman saya. Saya merasakan betul dedikasi academic counselor demi keberhasilan teman saya. Bukan hanya di dunia akademik, tetapi juga dalam kehidupan pribadi.

 

3. Dosen
Teman saya dulu sering mendapatkan kompensasi. Seperti deadline yang dimundurkan, kesempatan mengulang diluar jadwal (berkali-kali), dan bimbingan khusus. Seperti teman internasional, dosen di Swedia dulu sangat peduli mahasiswanya. Saya yakin mereka sudah sering mendapatkan mahasiswa berkebutuhan khusus. Kebetulan pula, saya berada di kelas kecil. Satu angkatan hanya 35 orang, sehingga dosen hapal setiap orang. Saya mendapat cerita dari sesama mahasiswa indonesia di Swedia kalau di jurusannya sampai disediakan penerjemah bahasa isyarat di mata kuliah yang padahal menggunakan banyak matematika demi mengakomodasi mahasiswa tuna rungu.

Supervisor tesis saya tahu kalau saya depresi dan pernah mencoba bunuh diri. Hingga sekarang dia masih menghubungi saya, terutama kalau saya tidak ada kabar setelah beberapa lama. Walaupun dia sudah bukan supervisor saya lagi, tetapi Fredrik (nama supervisor saya) masih menolong saya untuk menerbitkan hasil penelitian saya, karena saya sempat menghilang saat saya depresi. Betul-betul menjalan peran sebagai pendamping.

Negara lain mungkin tidak seistimewa Swedia. Tidak ada salahnya dicoba. Tidak akan menyelesaikan masalah kamu 100% memang. Tidak pula menghilangkan masalah kesehatan jiwa kamu, tapi setidaknya beban kamu berkurang.

4. Klinik
Jika kampus kamu menyediakan klinik, pergilah ke klinik. Coba cari tahu apakah klinik ini menyediakan konseling kesehatan jiwa. Kampus-kampus di negara maju sudah biasa menerima siswa yang membutuhkan konseling. Kamu akan terkejut ketika tahu banyak mahasiswa yang menggunakan layanan konseling kampus. Masalah kesehatan jiwa memang sangat besar. Apalagi di kelompok umur remaja dan dewasa muda.

Sisi negatifnya dari kinik ini adalah karena banyak pengunjungnya, maka kamu akan kesulitan untuk membuat janji. Harus antre. Padahal saat mengalami gangguan jiwa, kita perlu bantuan segera. Tapi saya akan tetap menyarankan untuk pergi ke klinik ini.

5. Profesional diluar kampus
Cara paling cepat adalah menemui profesional diluar kampus. Apalagi kalau klinik di kampus harus antri. Kendalanya bisa jadi harus bayar, tergantung skema asuransi yang dimiliki. Kalau saya dulu di Swedia punya asuransi kesehatan yang sama dengan warga Swedia karena saya kuliah lebih dari 10 bulan. Ada batas atas pengeluaran untuk kesehatan. Kalau tidak salah sekitar 2 juta rupiah per tahunnya. Setelah 2 juta, seluruh biaya adalah gratis.

Asuransi kesehatan untuk pelajar di tiap negara bervariasi antar negara, dan mungkin juga antar universitas dan masa studi. Silahkan dipelajari apa saja yang tercakup dalam asuransinya.

Penting untuk diingat, tidak cukup sekali atau dua kali saja untuk menemui profesional ini. Kamu bisa mencari saran dari academic counselor universitas. Penting juga untuk ada teman yang mau menemani. Kamu jangan sampai sendirian.

 

6. Suicide hotline
Saya pernah melakukannya di Swedia. Saya langsung dibawa ke unit gawat darurat psikiatri di rumah sakit. Negara maju umumnya (jika tidak semua) punya suicide hotline, baik itu yang disediakan negara ataupun LSM. Kamu akan tetap anonim. Semua laporan pikiran bunuh diri akan ditindaklanjuti dengan serius. Silahkan cari suicide hotline di negara masing-masing. Indonesia, seperti kebanyakan negara berkembang lainnya ga punya suicide hotline (pernah punya tapi sudah lama tidak aktif).

 

Kalau perlu menghubungi saya untuk tanya-tanya atau ngobrol bisa hubungi saya di fb atau whatsapp +62 813 2224 7454

13 Comments

anonim 3 months ago

Halo Mas Endri, salam kenal. Saya berterima kasih sama mas karena mas sudah mau bercerita mengenai hal yang pastinya sangat berat untuk bisa diceritakan di media umum seperti ini. Mohon maaf sekali mas untuk saat ini, saya hanya bisa menggunakan identitas anonim (email yang saya gunakan pun email sekunder) karena saya masih segan jika orang lain mengetahui saya terkena masalah ini (maka dari itu saya salut sama mas yang bisa bercerita 🙂 )

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S2 di suatu kampus ternama di negeri kita, melanjutkan S1 dari kampus yang sama. Semenjak SMA, saya sudah curiga memiliki gejala depresi dan keinginan bunuh diri, namun dulu karena saya kira mungkin itu hanya perasaan saya saja, dan mungkin saya malu jika saya bilang saya punya masalah tersebut, maka saya membiarkan begitu saja. Tapi ternyata masalah tersebut menjadi semakin parah ketika saya menempuh pendidikan S1 dan S2 ini. Depresi saya menjadi semakin parah.
Saya benar-benar kehilangan motivasi. Setiap hari ibarat saya menarik tumpukan karung pasir yang amat sangat berat hanya untuk menjalani kehidupan di hari itu. Bangun tidur capek, sebelum tidur juga capek. Tidur seakan hanya memberi efek penyegaran yang sangat sedikit buat saya. Kemudian, mood saya hampir setiap saat berada dalam kesedihan. Dan saya jarang sekali merasa tenang, saya lebih sering merasa panik dan takut, membuat saya menjadi lelah padahal saya belum melakukan kegiatan berat apapun. Saya menjadi merasa tidak berguna dan tidak berharga untuk hidup. Waktu penyelesaian studi S1 dan S2 saya pun menjadi terhambat, saya lulus mepet disaat hampir DO untuk S1, dan untuk S2 hanya menyisakan 1 semester lagi. Kalau mau dijabarkan lebih lanjut masih banyak yang bisa saya ceritakan. Tetapi daripada hanya menambah energi negatif, sebaiknya saya stop sampai disini 🙂

Intinya, melalui komentar ini saya hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih karena mas mau berbagi pengalaman mas. Selama saya mengalami perasaan yang saya jabarkan di paragraf sebelum ini, saya seperti mau jadi gila. “Apa gue doang kali ya yang ngerasa begini?” “Gue ini gak normal berarti?” “Apa mungkin emang perasaan gue doang?” “Berarti gue gak berguna sebagai manusia?””Apa mending gue mati aja ya, toh gak ada yang peduli ini?” Dan masih banyak lagi pikiran negatif yang menyerang. Tapi kini, saya tau bukan cuma saya aja yang merasa seperti itu. Depresi itu nyata, bukan hanya perasaan saja. Bukannya kita yang malas. Bukannya kita gak mau berusaha. Hanya saja, perasaan ini sangat menyiksa. Dan siksaan ini yang membuat kita susah untuk maju.

Saat ini saya masih berjuang menghadapi depresi saya. Saya ingin sembuh dan bisa berkegiatan dengan normal. Postingan dari mas benar-benar membantu saya cukup banyak, setidaknya saya menjadi lebih tenang. Mungkin untuk bisa benar-benar sembuh membutuhkan waktu agak lama karena akar dari depresi saya cukup dalam, tetapi saya yakin bisa. Saya juga ingin membantu teman-teman lain yang bernasib sama agar mereka tidak terlalu lama tersiksa di sumur depresi yang dalam. Itu menjadi salah satu motivasi saya.

Sekali lagi, terima kasih Mas Endri 🙂

Reply

endri 3 months ago

Kamu cerita ga membuat energi negatif koq. Justru mengeluarkan energi negatif, berbagi jadi energi negatifnya keluar.

Dan iya, bukan kamu sendiri saja yang mengalamin ini. Dan kamu ga harus sendiri.

Agak sedikit cliche, tapi komentar kamu di blog saya ini mungkin membuat orang lain merasa yakin kalau mereka juga ga sendiri. Karena ternyata ada saya dan kamu yang juga mengalami hal yang sama.

Terimakasih anonim, dan selamat berusaha menyelesaikan S2 nya

Reply

seseorang 3 months ago

Salam kenal mas Endri,

Terima kasih sudah berbagi mengenai depresi ini, di mana masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan di Indonesia. Saat ini saya sedang s2 di Belanda, dan saya juga mengalami depresi. Tahun pertama saya hancur lebur. Saya tidak lulus hampir di semua mata kuliah, hingga saya memutuskan untuk pindah jurusan di tahun kedua. Namun di balik itu semua, saya jadi merasa lebih mengenal diri sendiri. Kesempatan ini yang, somehow, membuat saya bersyukur. Mungkin kalau saya tidak depresi, saya tidak bisa mengenal diri saya sedalam ini. Saya jadi mengerti keterbatasan dan kelebihan saya secara menyeluruh. Saya jadi tahu pada kondisi apa saya harus berhenti ataukah masih bisa untuk mendorong batas saya lebih jauh lagi.

Btw, saya mau menambahkan beberapa saran untuk menghadapi depresi berdasar pengalaman saya:

1. Berhenti merokok (bagi yang masih merokok)
Jika sedang stress, biasanya orang2 punya pelarian, dan itu bisa bermacam2 jenisnya. Saya adalah salah satu yang, dulu, menjadikan rokok sebagai pelarian. Lama kelamaan saya merasa stress saya makin bertambah ketika sedang merokok. Jantung berdebar makin cepat, keringat dingin, dan pikiran tidak fokus. Akhirnya pada satu titik, saya memutuskan untuk berhenti merokok dan alhamdulillah gejala2 tadi berkurang banyak. Walaupun tidak serta merta menghilangkan depresi tapi ini sangat berpengaruh baik bagi saya.

2. Switch from coffee to tea
Tidak bisa dipungkiri ngopi adalah aktivitas yang menyenangkan bagi saya. Tapi saat saya mulai kuliah di sini, ditambah dengan pressure perkuliahan yang tinggi, ngopi bikin saya makin merasa panik. Setelah saya cari info, ternyata karena cafein yang memicu jantung untuk bekerja lebih cepat, dan itu makin membuat depresi saya makin bertambah. Akhirnya saya coba ganti dari ngopi menjadi ngeteh, karena saya dapat info kalau teh itu bersifat menenangkan. Namun saya juga tidak menghentikan aktivitas ngopi saya 100 persen, hanya mengurangi dan menggantinya dengan teh. Hasilnya cukup signifikan untuk meredam depresi saya. (Note: ngeteh nya tanpa gula)

3. Olahraga
Biasanya saat depresi saya kumat dan mulai terlintas pikiran yang gak baik, saya mengalihkan nya ke olahraga. Cukup joging aja di sekitar housing, atau naik sepeda keliling kota (kebetulan di Belanda infrastruktur untuk pengguna sepeda sudah sangat baik), atau kalau lagi males keluar saya melakukan yoga di kamar (di Youtube banyak video2 tentang yoga atau meditasi). Pokoknya alihkan pikiran ke aktivitas fisik.

4. Menerima keadaan
Nah hal ini yang paling sulit bagi saya. Menerima keadaan bahwa saya sedang depresi, saya tidak bisa mengendalikan keadaan, saya kalah, saya gak berdaya. Insting saya selalu mengatakan untuk terus mencoba dan mencoba lagi jika gagal, tapi kondisi mental dan fisik saya tidak sependapat dengan itu. Kontradiksi ini yang bikin tingkat depresi saya bertambah. Akhirnya saya coba ikhlas menerima ini semua, go with the flow, toh kalau kata Barasuara di lagu Taifun: di dalam hidup ada saat untuk berhati-hati atau berhenti berlari. Dengan menerima kondisi kita apa adanya, kita jadi mengerti kekurangan kita. Dan ketika kita mengerti kekurangan kita, di situlah kita bisa mencoba untuk memperbaiki kekurangan2 tersebut.

Itu tadi beberapa hal yang saya lakukan untuk menghadapi depresi, sisanya saya juga melakukan persis sama dengan yang dilakukan mas Endri. Sampai sekarang pun saya juga masih depresi, namun sudah cukup berkurang dibanding beberapa minggu sebelumnya. Tapi saya yakin, seperti apapun hasilnya, kondisi ini pasti akan ada akhirnya. Insya Allah.

Salam.

Reply

endri 3 months ago

Hei seseorang. Diluar semua yang kamu lakukan diatas, kamu terapi juga ga? Di Belanda rasanya klinik di kampus untuk mental health bagus. Ada banyak yang saya kenal berkunjung ke klinik. Anyway, kamu bisa hubungi saya lewat blog, whatsapp, atau fb kalau merasa perlu temen bicara.

Reply

seseorang 3 months ago

Halo mas Endri,

Sebenarnya ada program stress management dari kampus, tapi selalu full booked dan saya ga kebagian. Saat ini saya mulai menjalani terapi di GGZ di kota saya tinggal, setelah mendapat rujukan dari rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Saat ini saya juga mengkonsumsi obat penenang dan anti depresan.

Mengenai percobaan bunuh diri yang hampir saya lakukan, saat itu terlintas di pikiran saya untuk mati. Belum terpikir dengan cara apa. Namun saat itu alhamdulillah saya bisa mengendalikan diri saya kembali, dan langsung menuju ke rumah sakit terdekat. Saya masuk ke emergency dan bilang “Please help, I was going to kill myself”. Pihak rumah sakit langsung dengan sigap membawa saya ke ruang rawat. Sample darah saya diambil, psikiater menanyakan kondisi saya, dan saya diminta untuk menjalani terapi keesokan harinya.

Alasan saya berpikir untuk mati saat itu karena saya merasa tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelamatkan studi saya. Semua jalan sudah saya coba, tapi semuanya gagal. Sekarang ini saya masih coba untuk menenagkan diri dan coba untuk ikhlas. Dan sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, menjadi ikhlas dan menerima keadaan itu memang sangat berat. It is easier said than done.

Reply

endri 3 months ago

Thank you
Untuk masih hidup

Reply

Pejuang 3 months ago

Dear Seseorang,

You are not alone. I was in your position too, terancam dikrluarin dari program krna saya gak lulus 3/4 dari jumlah matakuliah keseluruhan. Saat itu Saya merasa sangat2 terpuruk, merasa bodoh, merasa hancur banget, dan parahnya, Saya tidak pernah membicarakan ini ke orang lain karena Saya takut dengan judgement orang lain. Kemudian saya ke student counsellor, dan akhirnya membuka diri, dan benar bahwa Saya terkenan Anxiety tapi masih modest level, karena Saya merasa hampa dan luluh lantah habis. Saya kecewa dengan diri sendiri, karena Saya tahu Saya sudah berusaha tp makul saya tetap ada yang gagal juga, dan Saya masih belum mau menyerah dengan kuliah Saya, Saya masih mau berjuang, tetapi terpuruk juga dengan situasi gagal makul. Namun Alhamdulillah saat itu Saya tidak pernah berpikiran utk bunuh diri, krna ada spark kecil dalam hati untuk keep pushing through, gagalnya saya di makul2 tadi, bukan berarti Saya akan gagal selamanya, dan karena ingat juga bahwa bunuh diri adalah dosa (krna saat itu walau sudah terpuruk, Alhamdulillah I still get the control untuk hal2 semacam suicide, tidak pernah terlintas sedikitpun utk itu, thankfully). Juga karena keluarga Saya terus mendukung melalui telepon video call.

Pada akhirnya saya melakukan banding ke fakultas utk dicabutnya keputusan withdrawn td, dalam keadaan terpuruk, Saya harus kesana kemari mengumpulkan evidences utk tidak withdrawn atas dasar anxiety, panic attack, depression yang Saya alami..

Singkat cerita, prosesnya panjang, saya diizinkan utk mengulang dn sempat gagal lagi, dikasi kesempatan terakhir, akhirnya saya lulus, dan kembali melanjutkan kuliah terakhir untk lulus yang sedang saya lakukan..

Memang prosesnya dari anxiety, panic attack and depression ke situasi saya kembalai normal itu lamaaaaa sekali, mungkin ada hampir 6 bulan – 1 tahun tp saya tetap bersyukur bahwa gradually saya bisa getting better.

My story menunjukukkan untuk Seseorang, bahwa kamu juga bisa! There’s always be another way! Dan ketika kita gagal, buka n berarti kita bakal gagal berkali, bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan, KITA PUNYA KEMAMPUAN ITU, KITA PERLU YAKIN, dan kemarin betul katamu Seseorang bahwa situasi depresi membuat kita jauh lebih kenal diri kita, kita jd jauh lebih menghayati dan merefleksi hidup kita, ini yang saya rasakan juga setelah mengalami mood disorder saat mengalami anxiety, saya juga jadi sering baca buku motivasi reliji yang dibuat2 org Indonesia. Kemarin Sayabaca buku JANGAN PERNAH MENYERAH Sebab Allah bersama kita, author Adilla Dharma, if you have a chance, that book is soo recommended lah.. dan menaikkan keyakinan kita pada diri sendiri juga pada Allah SWT. Waktu say kuliah di LN (west) jarang bgt ada ukhuwah utk recharge iman, as you know yang bnyk nightlife, dan peopel yang so individualist.. dan mau cerita ke org juga saya selalu menahan itu krna takut judgement juga gak semua org mendukung kita.. itu bagian yang aku hindari bgt.. sehingga akusering ngerasa isolated bgt dalam diri walau kalu diluar saya selalu berhasil poker face ke orang2, mereka kira saya baik2 saja..

Pokoknya SESEORANG, badai pasti berlalu, semua yang terjadi ada hikmahnya tp kita nggak tahu, nanti baru kita ketahui, dan KAMU PASTI BISA LULUS, you have to work it out somehow! Minta banding dari nilai gagalnya, atas dasar mental health, find people yg humble buat bagi ilmu dan diskusi tentang mata kuliah, you’ll find the person. Pkoknya kalau kita terus berusaha walau badai menerjang, pasti akan ada hasil, jd DONT EVER QUIT!!! Seorang pelaut yang handal bukan yang mengarungi lautan yang tenang tetapi lautan yang penuh badai!

Salam KITA PASTI BISA!!

Reply

siapa 3 months ago

Halo Mas Endri,

Hampir sama dengan komentar2 yg lain, saya juga ingin berterima kasih dengan Mas Endri, karena Mas Endri inilah kita merasa tidak sendiri. Terus menulis ya Mas Endri, tulisanmu ini membuat orang lain tenang.

Bicara tentang pendidikan, rasa kesepian dan perasaan depresi,
Saat itu saya masih kuliah di salah satu kampus ternama di Indonesia untuk mendapatkan gelar sarjana (saya msh lulusan diploma). Karena perasaan sok kuat saya ini, sambil kuliah saya juga bekerja.
Jam kerja yg padat ditambah tugas kuliah yg juga tiada ampun, setiap hari itu terus yg saya lakukan, sampai saya kelelahan dan ditambah perasaan kesepian karena saya tinggal sendirian di Jakarta. Saya merasa tertekan sekali, dan terus-terusan mengeluh, sering saya bertanya dgn diri sendiri ‘apa sih yg saya mau?’ ‘kenapa saya harus hidup?’ ‘kenapa Tuhan tidak kunjung membuat saya mati aja?’

Senangnya, kondisi tersebut bertambah buruk saja, dan tahun lalu saya juga harus rela drop out dari kampus. Saya terpuruk sekali, merasa sendirian, dan tidak tau apa masa depan saya masih bisa saya perbaiki.
Perasaan kesepian sering saya rasakan, tapi saya juga takut sekali dengan keramaian apalagi kalau sudah harus menghadiri acara keluarga.
Saat saya sedang bekerja pun sambil ngetik bisa datang air mata padahal saya sedang konsentrasi kerja tapi tiba2 mood saya ingin menangis saja, kadang kalau tertawa dengan teman pun bisa tiba2 menangis, berlebihan sekali memang..

Sampai saat ini saya masih berjuang dengan depresi yg saya alami, meskipun rasa depresi sudah banyak berkurang dan tidak separah dulu. Saya jg masih takut untuk berbicara kepada keluarga ataupun teman terdekat tentang yg saya alami ini.

Dan lagi, saya pikir, daripada saya terus-menerus menyalahkan diri sendiri, menyalahkan keadaan dan Tuhan mungkin dengan membuat diri saya lebih berguna bagi orang lain bisa menjadi jalan untuk saya untuk lebih mensyukuri keberadaan saya di dunia. Semangat!

Reply

endri 3 months ago

Gapapa. Mungkin kamu belum siap untuk bicara. Untuk sementara saya wakili lewat tulisan-tulisan saya di blog. Yang penting sekarang kamu ga merasa sendirian mengalami ini. Kalau kamu baca komentar-komentar lainnya, banyak yang lagi berusaha untuk pulih.

Reply

AEU 3 months ago

Dear mas Endri,

Saya nangis waktu baca blog kamu. Saya sangat sangat sangat familiar dengan semua perasaan2 “hadiah” dari depresi. Buat orang2 yang tidak pernah menderita depresi, mereka tidak tau kalau depresi itu lebih sedih dari sinetron yang paling konyol dan lebih menakutkan dari film horror manapun. Karena itu saya mau berterima kasih mas, karena mas sudah mempunyai keberanian yg luar biasa untuk menulis blog ini dan menunjukkan kepada orang2 depresi lainnya kalau kami tidak sendirian, ada orang diluar sana yang mengerti. God bless you mas Endri, semoga kita semua diberikan kesembuhan dari depresi ini.

Best Regards

Reply

endri 3 months ago

AEU, semoga kamu sudah pulih ya dari depresi.

Reply

Pejuang 3 months ago

Dear Seseorang,

You are not alone. I was in your position too, terancam dikrluarin dari program krna saya gak lulus 3/4 dari jumlah matakuliah keseluruhan. Saat itu Saya merasa sangat2 terpuruk, merasa bodoh, merasa hancur banget, dan parahnya, Saya tidak pernah membicarakan ini ke orang lain karena Saya takut dengan judgement orang lain. Kemudian saya ke student counsellor, dan akhirnya membuka diri, dan benar bahwa Saya terkenan Anxiety tapi masih modest level, karena Saya merasa hampa dan luluh lantah habis. Saya kecewa dengan diri sendiri, karena Saya tahu Saya sudah berusaha tp makul saya tetap ada yang gagal juga, dan Saya masih belum mau menyerah dengan kuliah Saya, Saya masih mau berjuang, tetapi terpuruk juga dengan situasi gagal makul. Namun Alhamdulillah saat itu Saya tidak pernah berpikiran utk bunuh diri, krna ada spark kecil dalam hati untuk keep pushing through, gagalnya saya di makul2 tadi, bukan berarti Saya akan gagal selamanya, dan karena ingat juga bahwa bunuh diri adalah dosa (krna saat itu walau sudah terpuruk, Alhamdulillah I still get the control untuk hal2 semacam suicide, tidak pernah terlintas sedikitpun utk itu, thankfully). Juga karena keluarga Saya terus mendukung melalui telepon video call.

Pada akhirnya saya melakukan banding ke fakultas utk dicabutnya keputusan withdrawn td, dalam keadaan terpuruk, Saya harus kesana kemari mengumpulkan evidences utk tidak withdrawn atas dasar anxiety, panic attack, depression yang Saya alami..

Singkat cerita, prosesnya panjang, saya diizinkan utk mengulang dn sempat gagal lagi, dikasi kesempatan terakhir, akhirnya saya lulus, dan kembali melanjutkan kuliah terakhir untk lulus yang sedang saya lakukan..

Memang prosesnya dari anxiety, panic attack and depression ke situasi saya kembalai normal itu lamaaaaa sekali, mungkin ada hampir 6 bulan – 1 tahun tp saya tetap bersyukur bahwa gradually saya bisa getting better.

My story menunjukukkan untuk Seseorang, bahwa kamu juga bisa! There’s always be another way! Dan ketika kita gagal, bukan berarti kita bakal gagal berkali, bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan, KITA PUNYA KEMAMPUAN ITU, KITA PERLU YAKIN, dan kemarin betul katamu Seseorang bahwa situasi depresi membuat kita jauh lebih kenal diri kita, kita jd jauh lebih menghayati dan merefleksi hidup kita, ini yang saya rasakan juga setelah mengalami mood disorder saat mengalami anxiety, saya juga jadi sering baca buku motivasi reliji yang dibuat2 org Indonesia. Kemarin Sayabaca buku JANGAN PERNAH MENYERAH Sebab Allah bersama kita, author Adilla Dharma, if you have a chance, that book is soo recommended lah.. dan menaikkan keyakinan kita pada diri sendiri juga pada Allah SWT. Waktu say kuliah di LN (west) jarang bgt ada ukhuwah utk recharge iman, as you know yang bnyk nightlife, dan people yang so individualist.. dan mau cerita ke org juga saya selalu menahan itu krna takut judgement juga gak semua org mendukung kita.. itu bagian yang aku hindari bgt.. sehingga akusering ngerasa isolated bgt dalam diri walau kalu diluar saya selalu berhasil poker face ke orang2, mereka kira saya baik2 saja..

Pokoknya SESEORANG, badai pasti berlalu, semua yang terjadi ada hikmahnya tp kita nggak tahu, nanti baru kita ketahui, dan KAMU PASTI BISA LULUS, you have to work it out somehow! Minta banding dari nilai gagalnya, atas dasar mental health, find people yg humble buat bagi ilmu dan diskusi tentang mata kuliah, you’ll find the person. Pkoknya kalau kita terus berusaha walau badai menerjang, pasti akan ada hasil, jd DONT EVER QUIT!!! Seorang pelaut yang handal bukan yang mengarungi lautan yang tenang tetapi lautan yang penuh badai!

Salam KITA PASTI BISA!!

Reply

Abdi 2 months ago

Hai Mas Endri, saya tau blog mas karena baca blog kakak tingkat saya yang sudah selesai S2 di Jepang. Dengan membaca tulisan ini (di luar konteks depresi, dsb) saya jadi punya pertimbangan lagi buat kuliah di luar negeri. Apalagi saya punya keinginan kuliah di Swedia juga. Ditambah, saya orang yang tidak bersemangat kalau tidak kena cahaya matahari, tipikal orang tropis (mungkin). Terima kasih sudah berbagi 🙂 Keep up the good work, mas!

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *