Back to blog

Pulau Batu Atas

1 October 2017 - Posted in umum Posted by:

Belakangan ini saya merasa kurang berkomunikasi dengan baik melalui whatsapp dan fb saat ada yang menghubungi. Salah satu penyebabnya karena saya sangat sering berada di luar Jakarta, terutama sejak bulan Mei. Terkadang saya hanya satu minggu saja berada di Jakarta dalam satu bulan, atau hanya saat akhir pekan saja, menurunkan pakaian kotor untuk dikirim ke penyedia jasa laundry lalu angkut baju bersih lagi dan numpang tidur untuk keesokannya terbang kembali. Tempat yang saya kunjungi ini seringkali daerah terpencil, dimana internet, listrik, dan bahkan air adalah komoditas mewah. Hasilnya, saya baru bisa membalas satu persatu pesan yang masuk saat saya akhirnya punya akses internet. Dengan cara begitu, semua pesan bisa saya balas, tapi menjadi kurang berisi karena saya balas semuanya dalam sekali duduk.

Saya mau mulai menulis tempat-tempat yang saya kunjungi. Sesekali biar ga melulu isinya tentang depresi. Untuk edisi pertama, ada pulau terpencil di Sulawesi Tenggara. Pulau Batu Atas. Pulau paling luar di Sulawesi Tenggara. Secara administratif keseluruhan pulau merupakan satu kecamatan, yaitu kecamatan Batu Atas, bagian dari Kabupaten Buton Selatan yang baru memisahkan diri dari induknya yaitu Kabupaten Buton pada 2014.

Posisi Pulau Batu Atas

Transportasi menuju kesana bisa menggunakan kapal kayu dari Pasar Wameo di Kota Baubau. Jadwal berangkatnya tidak tentu, biasanya setiap 2 hari sekali, tetapi harus dipastikan dengan menghubungi ABK kapal. Kapal akan berangkat pada malam hari dan perjalanan memakan waktu 5-8 jam pada kondisi cuaca teduh melewati Laut Banda. Kapal tiba di pulau batuatas pada shubuh atau pagi hari. Hati-hati, masing-masing kapal punya tujuan yang berbeda di Batu Atas. Di Pulau Batu Atas ada 7 desa, masing-masing punya dermaganya tersendiri. Jadi harus memastikan kapal yang dgunakan ke desa yang hendak dituju. Beberapa desa berada pada satu jalur jalan desa, tetapi beberapa desa lain berada di balik bukit. Kalau salah tujuan, bisa berabe. Harga tiketnya sekitar 70 ribu rupiah. Oh iya, Baubau dapat dijangkau dengan pesawat Garuda Explore atau Wings air dari Makassar dan Kendari. Perjalanan dari Makassar tidak sampai 1 jam, sementara dari Kendari hanya setengah jam. Pesawat yang digunakan adalah ATR-72 . Pesawat dengan mesin baling-baling berkapasitas 72 penumpang. Opsi lain adalah menggunakan ferry dari Kendari ke Baubau selama 4 jam.

Kapal Kayu

Perjalan ke Batu Atas pada shubuh

Bisa juga charter speed boat. Dengan speedboat, perjalanan menjadi hanya kurang dari 3 jam. Tetapi sppedboat keberangkatannya shubuh atau pagi sebelum jam 6. Ini karena ombak saat siang dan sore terlalu bahaya. Dalam satu tahun kalender, cuaca yang dikenal teduh adalah September Oktober dan April. Sementara Januari-Februari dan Juli adalah musim gelombang tinggi yang sangat dihindari kapal besar sekalipun.

Speedboat

Dermaga Desa Batu Atas Timur

Lokasi desa di Pulau Batu Atas

Seperti saya sebutkan di awal, ada tujuh desa di Pulau Batu Atas. Di sebelah utara pulau secara berturut-turut (dari Timur) ada Desa Batu Atas Timur, Tolando Jaya, Wacuala, dan Taduasa. Sementara di balik bukit di selatan pulau ada Batu Atas Barat, Wambongi, dan Batu Atas Liwu. Satu-satunya puskesmas dan SMU ada di Batu Atas Timur. Sementara itu ada dua SMP dan 9 SD. Hampir semua jalan desa sudah disemen, mesikpun lebarnya hanya cukup untuk satu mobil. Lagipula hanya ada dua mobil di pulau. Satu ambulans milik puskesmas, dan satu pickup yang biasa digunakan mengangkut barang di utara pulau. Jalan ini merupakan tumpukan batu berongga yang dihancurkan menjadi kecil lalu ditumpuk dan kemudian disemen. Makanya ketika saya lari keliling pulau disana, terasa sekali rongga saat saya injak.

Puskesmas Batu Atas

Sekolah

Sekolah

Jalan desa

Sedikit sejarah tentang pulau ini, berdasarkan beberapa cerita yang saya dengar dari masyarakat disana, awalnya pulau ini hanya merupakan persinggahan nelayan asal Buton. Lama kelamaan makin banyak dan mulai mendirikan rumah. Hingga kini penduduk batu atas mencapai 10 ribu orang. Memang di setiap desa rumah saling berdekatan dan ditempati banyak orang.

Pulau ini secara morfologi terdiri dari batuan hitam berongga. Saya bukan ahli perbatuan, jadi saya ga tau apa nama batu ini. Seperti di kebanyakan pulau-pulau kecil, air menjadi masalah. Apalagi struktur pulau yang pada dasarnya bebatuan. Jadi sumber utama air adalah hujan. Masyarakat yang telah beradaptasi selama puluhan tahun kini punya tempat penampungan air yang luar biasa besar. Terkadang air masih harus dibawa dari derah lain. Sebetulnya ada beberapa sumur air, tapi arinya terasa payau.

Pulau Batu Atas terdiri dari batuan seperti ini

Hebatnya meskipun bebatuan, tetap saja ada pohon yang bisa tumbuh seperti pisang dan pepaya. Sementara itu, masayrakat pun memanfaatkan kayu untuk kayu bakar. Sementara bebatuan dihancurkan oleh masyarakat untuk dibangun jalan, fondasi rumah, pengganti batu bata, dan pagar. Beberapa masyarakat menjadian ini sebagai mata pencaharian dengan menjual batu yang sudah dihancurkan.

Anak kecil mengangkut kayu bakar

Listrik di pulau sangat terbatas. Hanya beberapa rumah yang punya panel surya, itupun hanya cukup untuk lampu atau isi ulang batere hp. Beberapa rumah lain menggunakan generator tetapi bahan bakarnya mahal, sekitar dua kali lipat dari harga di pulau Jawa. Sementara itu, sejak Juni sudah ada akses sinyal GSM telkomsel. Hanya bisa untuk SMS dan telepon, itupun seringkali bermasalah, dan cakupannya hanya di desa Batu Atas Timur dan Tolando Jaya. Sebagian desa Wacuala masih tercakup. Maklum hanya menggunakan menara kecil portabel.

Pulau ini tidak terlalu besar dan bisa dikelilingi dengan jogging. Jalan-jalan utama sepertinya cuma sekitar 8 km, sisanya gang desa dan hutan batu. Sesuai namanya, seisi pulau ini berbatu. Pulau ini cukup terjal dari pesisir pantai. Puncak tertinggi pulau ada di bagian Barat, sekitar 200m. Lumayan untuk latihan lari nanjak bagi yang suka.

Sunset dari puncak pulau

Sunset dari puncak pulau

Mata pencaharian utama di pulau ini adalah nelayan. Nelayan disini berlayar hingga jauh. Daerah utama yang dituju adalah wilayah timur Indonesia, seperti Ternate dan Papua. Tidak jarang, para pelaut Batu Atas bahkan sampai di luar negeri seperti Filipina, Malaysia, Kamboja, Cina, dan negara-negara pasifik. Sekali berlayar, biasanya minimal 1 bulan. Sebelum berlayar, para laki-laki mengumpulkan bahan makanan untuk keluarganya. Karena tidak ada listrik untuk kulkas, masyarakat mengawetkan ubi kayu dengan cara dijemur. Ubi kayu yang sudah diawetkan bisa bertahan berbulan-bulan. Sebagian ubi kayu ditanam warga di bebatuan, sebagian lagi didatangkan dari Kota Bau Bau atau flores di Selatan karena cukup dekat.

Cuaca sebelum pulang masih cerah

Dalam perjalan pulang, kapal yang saya tumpangi dikepung ombak dan cuaca yang tidak bersahabat. Padahal saat itu bulan September yang dibilang paling teduh. Dengan asumsi teduh, kami cukup pede pulang ke Baubau pada siang hari padahal biasanya sangat tidak disarankan. Perjalan pulang membutuhkan waktu hampir dua kali lipat dari saat kami pergi ke Batuatas. Jika cuaca lebih buruk, mungkin nasib saya akan tragis.

One Comment

Bambang Setiohadji 2 months ago

indahnya p Batu Atas mengingatkan saya yang saat lulus doktewr bertugas di P Buru, berbagai etnik membuat kita bersyukur berkesempatan menimba kenangan

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *