Back to blog

Pertemuan pertama dengan skizofrenia

26 April 2016 - Posted in kesehatan mental Posted by:

Saya mulai banyak tertarik dengan isu kesehatan mental sejak saya menderita depresi. Saya banyak menulis tentang kesehatan mental, terutama pengalaman saya dengan depresi. Saya saat ini juga sedang membuat artikel ilmiah tentang depresi di Indonesia dan punya beberapa ide untuk penelitian. Saya juga mulai mencari-cari dan berteman dengan penderita kesehatan mental lainnya.

Dua minggu lalu saya bertemu dengan penderita bipolar. Setelahnya saya menulis tentang bipolar. Dua hari yang lalu saya bertemu dengan penderita schizophrenia.

Sebelumnya yang saya ketahui tentang skizofrenia hanya terbatas pada halusinasi dan delusi saja. Ternyata itu hanya secuil saja. Padahal saya dokter. Sebagai dokter, saya merasa saat pendidikan dulu tidak menganggap serius kesehatan jiwa. Saya yakin, mayoritas juga tidak tertarik dengan kesehatan jiwa. Yang penting penyakit dalam, anak, bedah, dan kebidanan. Saat rotasi kesehatan jiwa dimulai, kami satu kelompok mulai cemas, karena harus sering berada di ruang perawatan penyakit jiwa. Saat itu, kami masih biasa menggunakan kata gila. Dan rasanya dulu juga kami ga dibimbing dengan baik oleh senior ataupun supervisor.

Jadi, seperti apakah skizofrenia itu?

Well, agak horor. Saat kami bertemu, dia mendengar suara-suara  yang menyuruhnya untuk membunuh saya. Dia merasa dia adalah seorang yang dikirim surga untuk menyingkirkan makhluk-makhluk jahat. Dan saya adalah makhluk jahatnya. Untungya, dia sudah belajar untuk mengabaikan suara-suara tersebut beberapa tahun terakhir ini.

Teman saya mengatakan menderita skizofrenia itu seperti mimpi buruk. Kita melihat hal-hal yang aneh saat mimpi buruk, dan teror yang dirasakan. Hanya saja, penderita skizofrenia ga bisa terbangung dari mimpi buruknya. Jadi ga bisa membedakan mana yang mimpi, dan mana yang nyata.

Teman saya pertama kali merasakannya waktu kuliah sarjana. Dulu dia berpikir itu normal-normal aja. Dia yakin teman-temannya juga mengalaminya, cuma menyembunyikannya.

Tapi pada suatu hari, saat ketiduran di kampus dia tiba-tiba terbangun. Lalu pulang ke rumah jalan kaki, padahal jauhnya puluhan kilo meter. Seperti ada suara yang menyuruhnya untuk tetap berjalan. Jika berhenti maka rumah disekitarnya akan berteriak keras dan hanya berhenti kalau dia kembali berjalan.

Suara-suara tersebut tidak pernah berhenti. Jadi bisa kamu bayangin ga, kalau ada yang berbisik di telinga kamu 24 jam non stop tiap hari?

Teman saya pernah mencoba bunuh diri karena suara-suara tersebut tidak pernah hilang. Saat memberitahu orang tuanya, dia dikiri kerasukan jin dan diruqyah. Saat gagal, dia dikurung dalam kamar karena sering melakukan perbuatan aneh. Misalnya tiba-tiba pergi keluar rumah tengah malam, berjalan kaki puluhan kilometer, lalu ditemukan tanpa pakaian di sebuah pasar.

Menurut teman saya dalam skizofrenia ada gejala positif dan negatif.

Gejala positif adalah sesuatu tambahan yang ga diinginkan. Sementara gejala negatif adalah sesuatu yang dimiliki orang normal tapi menghilang pada skizofrenia.

Contoh gejala positif adalah delusi. Terkadang teman saya meyakini kalau dia adalah utusan dari surga, seperti yang saya tulis di awal. Halusinasi adalah contoh yang lainnya. Dia paling sering merasakah halusinasi dengar. Suara-suara itu selalu ada di kepalanya.

Sementara gejala negatif membuat dia kehilangan kemampuan orang normal. Misalnya kemampuan untuk mengekspresikan emosi, menjadi apatis. Kemampuan berbicara juga terganggu. Dia seringkali mengeluarkan kata-kata yang tidak saling berhubungan satu sama lain, jadi bicaranya susah dimengerti. Ini karena dia kehilangan kemampuan untuk menyatukan kata-kata.

Perjalanannya menuju kesembuhan lama, sebelas tahun. Beberapa tahun pertama orang tuanya membawanya ke ahli agama. Katanya kerasukan jin. Tapi ga pernah ada kemajuan. Lalu disarankan untuk dikurung saja. Lebih dari dua tahun dia dikurung dalam kamar, ga pernah pergi kemana-mana.

Suatu hari dia berhasil kabur. Dia ditemukan orang ga dikenal dekat terminal bis, lagi-lagi tanpa pakaian. Untung yang menemukan baik. Dia diantar ke rumah sakit jiwa. Disana dia akhirnya mendapat pengobatan. Setelah beberapa tahun, dia mulai terkontrol.

Sekarang dia bisa dibilang sembuh, tapi dia masih mengalami halusinasi. Bedanya dia sekarang bisa mengabaikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *