Back to blog

Panduan transportasi umum ke Pasar Ikan Modern Muara Baru

9 July 2019 - Posted in kesehatan Posted by:

Saya suka banget masak dan makan ikan. Makanya saya selalu bahagia kerja di berbagai pulau terpencil di Indonesia. Bisa menikmati ikan bakar segera setelah ikan ditangkap. Segar!

Akhir pekan lalu saya berkunjung ke pasar ikan baru di Muara Baru. Sebelumnya saya pernah beberapa kali kesana dengan bersepeda, tapi selalu di pagi hari saat pasar sudah tutup. Kali ini tujuannya memang mau makan makanan laut jadi pergi di sore hari.

Sorga baronang

Pasar ikan baru mulai buka pukul 17.00 WIB, sementara baru mulai ramai penjual pada pukul 18.00. Saya sengaja atur agar tiba disana sekitar pukul 17.30-18.00. Berangkat menggunakan transjakarta koridor 1 dari halte transjakarta Bundaran HI menuju halte Kota. Ternyata kalau hari Sabtu bus transjakarta penuh sekali. Efek keberadaan MRT, sekitaran Bundaran HI selalu dipenuhi turis dari berbagai daerah. Setelah menolak naik beberapa bus yang terlalu penuh, akhirnya dapat duduk di bus ke-4 pada pukul 16.30. Perjalanan lancar lalu disambung bus 12B Senen-Pluit. Ga perlu bergerak jauh saat turun di halte Kota, cukup geser sedikit ke gerbang untuk tujuan Pluit. Berikutnya adalah ujian kesabaran. Jalanan sekitar kota hingga simpang kopi kali besar sangat macet di hari Sabtu. Saya ga kebayang kalau harus menyetir di kemacetan seperti ini. Untungnya saya menolak punya mobil, jadi anak gowes dan transjakarta saja. Setelah belok kiri di simpang tersebut jalanan lancar dan turun di SDN Penjaringan atau Muara Baru. Jangan lupa untuk maju ke bagian depan bus karena pemberhentian yang dimaksud tidak dilengkapi halte transjakarta. Berikutnya menyebrang jalan dan naik angkot KWK merah tujuan Muara Baru. Dengan modal 3 ribu rupiah untuk bayar angkot tibalah di pasar ikan. Total perjalanan yang disertai macet adalah 1.5 jam.

Berikut ini tips untuk belanja di PIM Muara Baru
1. Pakai sepatu yang anti licin
Meskipun ada embel-embel Tsukiji-nya Indonesia, tapi yang namanya pasar ikan ya basah. Genangan disana sini. Banyak juga pedagang yang mondari-mandir bawa ikan segunung di koridor sempit, senggol sana sini karena jalanan antar lapak sempit dan licin.

2. Pakai celana pendek?
Saya lebih nyaman dengan celan pendek karena banyak cipratan air dari lapak yang memindahkan dagangan kedalam baskom dan ember. Kalau celana panjang kan nanti kena cipratan jadi bau. Kecuali kalau sayang ama kulitnya ga mau kena air bau ikan ya pakailah celana panjang.

3. Pahami harga
Namanya pasar tradisional meskipun disebut modern ya tetap saja penjual suka memasang harga semaunya. Jadi, pahami harga pasaran sebelum belanja disana. Terutama saat akhir pekan dimana banyak turis, bisa saja penjual sengaja memasang harga lebih tinggi dari biasanya. Bisa ditawar sih, tapi tetap harus sadar harga berhubung skill tawar-menawar ibu saya ga menurun lewat genetik.

4. Bawa keranjang belanjaan
Di kunjungan berikutnya saya akan bawa drybag dan keranjang belanjaan biar nyaman bawa pulang belanjaan. Inget, saya naik bus. Keberadaan plastik kresek agak langka disana.

5. Sabar dan jangan terlalu berharap
Kalau mau menikmati belanjaannya langsung, harus sabar. Di lantai dua ada beberapa lapak yang menerima bahan mentah untuk dimasak. Berhubung akhir pekan sangat ramai, nyari tempat duduk amat susah. Kayaknya mending bawa tikar piknik buat lesehan. Kulitas masakannya ya harap dimaklum. Tiap lapak harus memproses banyak sekali masakan jadi rasanya seadanya. Cumi saya misalnya terlalu lama dimasak sampai konsistensinya mulai menjadi karet.

6. Akhirkan belanja
Kalau mau makan-makan di lantai dua dan sekalian bawa pulang belanjaan, lebih baik belanja khusus untuk dibawa pulang setelah selesai makan-makan saja. Biar bawaannya masih seger berhubung menunggu masakan dihidangkan akan memakan waktu yang amat sangat lama.

7. Siap keramas
Menunggu makanan matang di lantai dua bisa jadi perlu satu jam atau lebih. Selama itu pula akan kena asap bakaran makanan laut. Sekujur tubuh dan rambut pastinya akan berbau ikan dan asap. Jangan lupa mandi dan keramas sepulangnya.

8. Bawa tunai
Kalau akan kalap beli ikan dan kawan-kawannya, bawalah uang tunai yang mencukupi. Sementara lapak untuk masak bisa dibayar dengan gopay.


Jalur pulang kurang lebih sama, tapi turun dari angkotnya pas setelah dia putar arah. Jangan di Masjid Luar batang. Karena meskipun bisa naik bus tj di masjid luar batang dengan naik dari depan dan bayar tunai, tapi disitu jadi tempat mangkal bajaj. Males aja. Setelah angkot memutar, turun lalu jalan kaki kearah halte tj Pakin. Dari situ bisa naik 1A (PIK-Monas-Balai kota), 2E (Rusun Rawa Bebek), 12 (tanjung priok – penjaringan), 12A (kota – penjaringan) atau 12B (Pluit-Senen). Di akhir pekan akses ke halte Museum Fatahillah sangat padat dengan orang dan pedagang kaki lima jadi lagi-lagi, sabar ya.

 

Foto: Pucuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *