Back to blog

Odading, cakue, cakwe

29 December 2018 - Posted in kesehatan Posted by:

Hari ini saya menyempatkan diri untuk beli odading (atau cakwe) di GOR Pajajaran. Harusnya sih kemarin, hari Jumat, tapi kemarin ga jadi. Iya, odading. Penting.

Kita harus kembali ke 3 tahun yang lalu, 2015. Saat itu kegiatan saya yang teratur hanya lari 3-4 kali seminggu. Masing-masing di tempat yang beda, masing-masing dengan orang yang beda. Saparua, Saraga, Pajajaran, Brigif. Sesi Jumat adalah sesi dengan Itcha, yang kebetulan juga yang pertama kali ngajakin lari.

Punya temen lari ini penting karena jadi alasan buat saya di pagi hari untuk bangkit dari kasur dan keluar dari rumah. Semalam sebelumnya, ini jadi alasan untuk tetep bertahan hidup. Biasanya saya tidur lebih awal (dengan pil tidur) agar esoknya ga telat bangun. Sekitar jam 9 malam lah udah tidur. Dengan 4 kali seminggu seperti ini, pola tidur saya jadi teratur walaupun memang masih pakai pil tidur, ga masalah. Untuk hari-hari yang besoknya ga lari ya dibahas lain kali aja.

Di suatu waktu, Itcha ga bisa nemenin lari Jumat pagi. Lupa, kalau ga salah sedang ke Jakarta atau Belanda. Eng ing eng. Padahal lagi kumat. Tapi untungnya ada odading sebagai gantinya Itcha. Jadi seminggu sebelumnya, pas pulang saya lihat ada gerobak yang jualan odading di GOR Pajajaran. Pengen, tapi udah kenyang sarapan pasca lari. Pengennya tertunda. Jadi, saya niatkan tidur seperti biasa dengan pil tidur biar ga usah berjibaku dengan keingininan untuk mati. Paginya saya tetep bangun dengan semangat jajan odading setelah lari. Akhirnya dibeli? Iya, dibeli. Enak? Ga, hahaha. Mahal pula. Lebih enak odading yang dulu biasa lewat depan rumah saat saya masih kecil.

Hari ini juga ga ada Itcha, tapi demi odading (yang tetep rasanya biasa) saya bangun pagi, naik motor setengah jam, bayar 15 ribu akses ke trek lari GOR Pajajaran dan pulangnya beli odading.

Ini ga enak banget diceritain, ga jadi bunuh diri demi odading.

One Comment

Ardiyan 9 months ago

Seriusan mas Endri, ini antara mau ketawa apa mau nangis sayanya. Apapun alasan kita tetap hidup, itu patut diperjuangkan. Hidup odading! 😊😊😊😊😊😊

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *