Back to blog

Men do cry

10 June 2017 - Posted in depresi Posted by:

Saya gak ngumpulin statistik dari orang-orang yang menghubungi saya karena saya memang jarang tanya umur dan karakteristik demografi lainnya. Tapi secara kasar, saya bisa menarik kesimpulan tentang jenis kelamin. Saya memang ga nanya jenis kelamin ke siapapun, tapi hanya menebak dari nama dan foto profil. Dan dari situ, sepertinya lebih dari 90% yang menghubungi saya adalah perempuan. Tapi, dari sekitar 10% laki-laki itu, biasanya kondisinya lebih parah daripada rerata yang perempuan. Kenapa seperti itu?

Saya laki-laki juga. Jadi mungkin bisa sedikit punya pemahaman tentang kenapa ada perbedaan statistik yang luar biasa besar. Laki-laki dan perempuan punya gejala yang sama, menurut pengalaman dan pengamatan saya. Gejala utamanya ya salah satu diantara mood depresi/sedih atau mati rasa. Sama. Seperti itu. Gejala lainnya juga sama. Perubahan berat badan, ganguan tidur, gangguan konsentrasi, dll.

Yang membedakan depresi di laki-laki dan perempuan terutamanya adalah bagaimana reaksi terhadap depresi itu sendiri. Laki-laki, well, harus “laki”, karena kami “laki”. Ini sepertinya tertanam begitu kuat dalam pikiran para pria, termasuk saya. Jadi hal pertama yang dilakukan ketika mengalami gejala depresi adalah “jalanin aja”, “laki-laki harus kuat”, “nangis ga laki”. Film, iklan, kehidupan sehari-hari, dan sejarah selalu menggambarkan laki-laki itu cool, macho, kuat, pemimpin. Tentara, pekerja bangunan, hingga mahasiswa jurusan teknik semuanya identik dengan laki-laki. Bekerja pun identik dengan laki-laki. Konsekuensinya, laki-laki lebih cenderung diam, tidak mencari pertolongan. Ga juga bercerita, karena akan membuat diri terlihat “lemah”. Akhirnya berujung kepada seolah-olah depresi pada laki-laki cenderung lebih parah. Ini, mungkin karena yang akhirnya mencari pertolongan adalah yang memang sudah ga sanggup lagi menutupinya.

Laki-laki juga saya amati lebih susah dalam mencari kata-kata untuk menggambarkan apa yang mereka alami. Saya juga. Mungkin ini membuat laki-laki lebih banyak menyalurkannya ke dalam bentuk amarah, perilaku kasar, dan mudah tersinggung. Di beberapa literatur malah dituliskan tentang kabur ke alkohol dan obat-obatan. diluar kondisi depresi pun laki-laki memang lebih jarang berbicara soal perasaannya ke orang lain, terutama keluarga. (sambil lihat cermin). Apalagi dengan petugas kesehatan.

Bahkan ketika sudah dinyatakan menderita depresi pun, laki-laki masih berusaha menolak dan ga mau menjalankan terapi. Disini kekhawatiran tentang stigma yang akan merusak karir, atau kehilangan teman karena ga lagi “hormat”.

Laki-laki lebih banyak bunuh diri dibanding perempuan. Secara statistik, perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri ataupun punya pikiran bunuh diri. Tapi kematian karena bunuh diri jauh lebih banyak pada laki-laki. Pada penderita depresi, laki-laki punya risiko 8 kali lipat lebih tinggi untuk meninggal karena bunuh diri. Semakin muda perempuan, semakin tinggi kemungkinan percobaan bunuh dirinya berhasil. Sementara di laki-laki, merata di semua umur. Laki-laki cenderung menggunakan cara-cara yang lebih berhasil. Belum diketahui secara jelas kenapa laki-laki dan perempuan punya perbedaan pilihan tentang bagaimana mengakhiri hidupnya.

Let’s talk
Mari bicara

3 Comments

Almi 5 months ago

It’s been a long time yah mas endri, seneng liat tulisannya mas endri lg..
Mas endri tetep semangat yaa 😀

Reply

Depresi 1 month ago

Saya ketik kata depresi di google dan merasa tertarik unt baca tulisan anda. Saya pernah depresi, dan sekarang syukurlah bisa lepas dari krisis tersebut. Berkat itu saya paham betul kondisi apa yg dialami orang saat depresi dan apa yg dibutuhkan.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *