Back to blog

Ketika keluarga dan orang terdekat tidak memahami depresi

28 March 2016 - Posted in depresi Posted by:

Bagaimana menjelaskan tentang beratnya mengangkat sendok untuk sekedar makan?
Bagaimana membuat orang lain mengerti bahwa saya mati rasa dalam segala hal? Tidak bisa merasakan kebahagiaan dalam apapun.
Bagaimana menjelaskan bahwa saya menderita luar biasa sehingga merasa bahwa mati adalah satu-satunya jalan keluar dari penderitaan?

Ketika saya mengalami relaps Desember lalu, saya tidak bisa tidur. Saya berkata pada diri saya sendiri bahwa ini hanya ada dalam pikiran saya, bahwa saya terlalu banyak berpikir. Tetapi ketika saya tetap tidak bisa tidur walaupun telah minum obat tidur barulah saya paham. Orang normal jika minum obat tidur tersebut akan tidur puluhan jam. Tidak ada efeknya pada saya. Saya sakit. Hanya berfikir positif saja tidak cukup untuk mengobatinya. Betul saja, psikiater saya menaikkan dosis obat untuk saya, barulah saya bisa mulai tidur lagi. Depresi tidak hanya berada dalam pikiran saja, tetapi juga mempengaruhi fungsi tubuh. Salah satu fungsi lain yang terganggu adalah ingatan. Saya jadi mudah lupa. Depresi adalah sebuah penyakit, ini yang sulit dipahami banyak orang.

Bagaimana menjelaskan semua itu kepada orang yang belum pernah mengalami depresi? Berat mengangkat sendok? Orang lain akan pikir saya berlebihan. Mati rasa? Orang lain mencap saya tidak bersyukur.

Stigma tersebut sayangnya juga malah sering dilakukan oleh orang-orang terdekat. Orang-orang yang seyogyanya memberikan dukungan moral. Saya rasa penyebabnya adalah mereka terlibat secara emosional dengan saya, atau berharap lebih dari saya. Coba bayangkan kalau pesan kamu di whatsapp baru saya balas seminggu kemudian. Kamu pasti kesal. Atau orang tua yang harus melihat anaknya mengurung diri di kamar. Menurut saya orang-orang terdekat saya itu capek.

Selama saya terapi depresi justru orang-orang yang tidak terlalu saya kenal yang banyak memberikan dukungan moral. Sebagian dari mereka pernah menglami pula depresi jadi bisa lebih mengerti saya. Dan malah, orang-orang terdekat yang menghilang atau memiliki stigma buruk. Perlahan pertemanan saya pun berubah. Ada banyak orang-orang baru dalam kehidupan saya, sementara teman-teman dekat pergi.

Saya rasa ini perubahan yang tidak terhindarkan. Karena saya pun lebih nyaman dikelilingi oleh orang yang bisa mengerti saya dan memberikan dukungan moral. Sehingga saya tidak bersusah payah mencoba menjelaskan kondisi saya kepada orang yang tidak mampu mengerti. Saya tidak marah ataupun kecewa. Saya paham saya sulit dimengerti saat ini.

Pun tentang keluarga. Saya tidak banyak berdebat. Karena bukan berarti mereka tidak menyayangi saya. Mereka hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap saya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *