Back to blog

Kepergian seorang teman yang bunuh diri

30 May 2016 - Posted in depresi Posted by:

Lima hari yang lalu saya mendapat kabar teman saya meninggal dengan bunuh diri. Saat itu saya sedang berada di Sulawesi Tengah untuk keperluan pekerjaan. Saya langsung merasa kaget dan terpukul. Dia memang punya pikiran bunuh diri sudah lama, tapi dua minggu terakhir saya malah merasa dia ada kemajuan.

Saya sebelumnya tidak mengenal dia. Dia menemukan blog saya tentang depresi dua bulan yang lalu. Kemudian dia menghubungi saya melalui whatsapp. Besoknya kami langsung bertemu di cafe di Bandung. Kami berbicara banyak saat bertemu, kebanyakan saya hanya mendengar ceritanya dengan seksama sambil sesekali saya bilang saya mengerti apa yang dia alami. Kami bertemu sekitar jam 10 pagi dan pulang jam 6 malam. Dia bercerita mulai dari masa kecilnya sampai lulus S2 dengan predikat cum laude. Dalam ceritanya saya tidak bisa mengidentifikasi pemicu depresinya. Dia bilang dia tiba-tiba saja kehilangan tujuan hidup dan mati rasa. Segala pengobatan pernah dia jalani, mulai dari pengobatan modern sampai ke dukun.

Kami sepakat malamnya akan saya antar ke psikiater yang merawat saya. Karena sudah malam, saya tidak menunggu dia sampai selesai konsultasi dengan psikiater. Dia meminta saya untuk pulang saja dan bertemu di lain waktu.

Kami tidak pernah berjumpa lagi. Komunikasi kebanyakan hanya melalui whatsapp. Dia sangat berterima kasih telah bertemu dengan saya. Dia merasa selama ini melaluinya sendirian saja. Dia mengira dia satu-satunya di dunia yang mengalami ini semua. Anak dan istrinya pun sama sekali tidak tahu apa yang dia alami, termasuk luka bekas sayatan di tangannya yang dia bilang hanya jatuh dari motor. Dia takut kalau keluarganya tahu akan meninggalkan dia.

Walaupun kami sering ngobrol di whatsapp tapi kami tidak pernah bertemu lagi. Janji untuk bertemu saat dia konsultasi ulang ke psikiater pun tidak pernah terjadi. Dia tidak pernah datang kembali ke psikiater walau sudah saya bujuk, walau saya tawarkan akan saya temani, walau saya bilang saya akan jemput.

“Lagi pengen mati”, biasanya pesan whatsapp dia dimulai dengan kata-kata itu. Kemudian saya ajak ngobrol, terkadang saya telepon. Saya ga pernah membujuk dia untuk tidak bunuh diri. Saya hanya ajak mengobrol saja agar bebannya bisa berkurang. Dua atau tiga kali saya masih sigap. Tapi besoknya, besoknya lagi, dan lagi saya mulai kehilangan kata-kata. saya bingung menghadapi seseorang yang berkata tiap hari mau mati. Satu hari dia menulis “Dri, gw tadi mau ngebut terus nabrak tembok aja, tapi ga jadi”.

Setelah tiap hari mendengarkan ceritanya upaya bunuh dirinya, perlahan-lahan dia mulai membaik. Dalam dua minggu terakhir sebelum dia meninggal dia pernah berkata dia sudah mulai semangat lagi dan akan pergi ke psikiater dan mulai berolahraga. Dia sudah tidak menulis ingin mati lagi. Saya merasa ini adalah sebuah kemajuan yang positif. Tapi saya ternyata sangat keliru.

Kamis pagi 26 Mei 2016, istrinya menemukan dia tergantung tak bernafas.

Istrinya menemukan kontak saya setelah membuka handphone suaminya.

Saya belum sempat bertemu istrinya dan keluarganya karena masih sibuk dengan pekerjaan saya. Saya perlu memberi pengertian kepada mereka. Saya ingin mengatakannya langsung, tidak melalui telepon. Walau mungkin istrinya sudah bisa membaca isi percakapan kami di whatsapp.

Kini saya bisa mengerti bahwa penderitaan karena bunuh diri tidak hanya dialami oleh yang melakukannya, tetapi juga dialami oleh orang-orang sekitarnya. Saya yang hanya mengenalnya selama dua bulan saja merasa sangat terpukul dan hampir jatuh kepada depresi lagi. Saya tidak bisa membayangkan penderitaan istrinya yang melihat langsung suaminya telah meninggal dengan gantung diri.

Ini mengingatkan saya kembali bahwa orang yang menderita depresi dan gangguan mental lainnya sangat mahir berpura-pura baik-baik saja. Saya juga dahulu begitu, bisa tersenyum bahagia walau sebenernya sedang menahan diri untuk tidak bunuh diri.

7 Comments

fauzi 1 year ago

Nice blog. Keyword google saya ingin mati mengantarkan gw kesini. sebenernya gw jg sering kyk begini ni lalu timbul pertanyaan knp gw hidup? Apa tujuan gw hidup? Kenapa tuhan menunjuk gw tuk hidup knp kgk orang lain aja yg hidup toh duniapun baik-baik saja tanpa gw.

Reply

endri 1 year ago

Halo Fauzi, itu bagian dari gejala depresi. Membuat kita merasa ga berharga lagi. Tapi kalau sudah terapi, kita akan mulai merasa ada artinya lagi.

Reply

yong 1 year ago

pakdhe gue beberapa bulan yang lalu jga gini, gantung diri. dia sudah lama sakit skizo, tiap bulan kontrol ke rumah sakit. tapi beberapa bulan sebelum dia bunuh diri, dia murung, sedih seperti orang depresi, dan selalu bilang kalau dia mau mati. sampai akhirnya dia ditemukan tak bernyawa, tergantung di kusen jendela.

Reply

Arun 9 months ago

Saya benar-benar kagum sama mas, bisa men support orang yang tadinya nggak dikenal, dengan support yang tidak judgemental. Anda berhati emas, mas. Saya juga pernah depresi, dan saat itu saya juga menarik diri dari teman-teman saya. Saya sendiri juga sadar kalau saya memberi energi negatif ke teman-teman saya. Dan beberapa teman saya pun merasa ‘fed up’ dengan kenegatifan saya yang nggak hilang-hilang. Orang yang bisa ‘tahan’ (apalagi memberi support terus menerus) terhadap orang depresi, dia adalah orang yang sangat baik. Saya tersentuh.

Reply

endri 1 month ago

Terimakasih. Saya cuma blogger koq.

Reply

Art 2 months ago

Halo, Kak Endri, setelah membaca beberapa posts dan komentar, saya baru sadar saya dulu juga sempat mengalami gejala depresi. Dulu saat studi S1 sering banget muncul pertanyaan di dalam pikiran saya sendiri “Apa sih gunanya aku hidup?” “Kayaknya kalo aku mati juga gak bakalan ada yang peduli” dan semacamnya.

Biasanya sih itu muncul kalau saya lagi capek dan saya sendirian (karena kuliah merantau), saat saya merasa gak ada satu orang pun di samping saya untuk membantu saya melewati beban dan tanggungjawab yang saya punya. Apalagi saya tergolong orang yang cukup tertutup. Saya punya beberapa teman, sering juga main bareng, tapi sering kali saya merasa bahwa mereka hanya teman main, bukan orang-orang yang benar-benar ada buat saya pada saat-saat sulit saya.

Saat ini saya tidak pernah lagi merasa begitu, karena saya bersama keluarga saya.

Saya setuju, nampaknya salah satu penyebab munculnya dan yang membuat depresi semakin parah itu rasa kesepian.

Pada akhirnya saya sadar bahwa menghilangkan ekspektasi terhadap orang-orang sekitar itu penting banget buat menekan perasaan ditinggalkan.

Bagi saya, keluarga adalah orang-orang yang sebenar-benarnya peduli pada saya, maka mereka adalah orang yang paling tahu saya karena saya terbuka pada mereka.

Dan lagi, menurut saya satu-satunya tempat untuk berharap adalah Tuhan. Saat kita melepaskan semua ekspektasi, kekecewaan, dan menyerahkan kehidupan kita sepenuhnya di tangan Tuhan, rasanya hidup ini lebih mudah untuk dijalani.

Wah kepanjangan komen.

Intinya, tulisanmu bagus , Kak, dan sudah saya share untuk teman saya juga.

Reply

endri 1 month ago

Terimakasih. Semoga tulisannya bisa membantu banyak orang.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *