Back to blog

Kenapa maksa 10 km?

25 January 2019 - Posted in depresi Posted by:

Hari ini alarm berbunyi pukul 4.45. Alarm hari Jumat memang saya atur begitu. Lebih pagi dari hari yang lain karena hari Jumat merupakan sesi lari bebas dan terjauh selama satu minggu. Sementara hari-hari lainnya fokus pada hal tertentu saja dan lebih singkat. Di Jumat ini saya rencanakan 10 km. Setelah lari saya masih harus gowes ke kantor sehingga agar saya bisa tiba di kantor sebelum 7.30, maka lari pun harus dimulai lebih awal.

Setelah ke kamar mandi dan persiapan printilan, saya baru mulai berlari sekitar 5.50. Awalnya “mager” karena melihat langit diluar yang masih gelap walaupun sudah menunjukan pukul 5.30. Akhirnya tetap keluar karena satu minggu ini selalu gagal lari. Dengan kondisi langit yang gelap, saya tahu bahwa kemungkinan saya akan kehujanan dan menyiapkan zip bag untuk dompet dan hp. Bodohnya, zip bag itu tidak terbawa.

Saat pemanasan, betis kanan terasa tidak enak, ada rasa nyeri. Lutut kanan juga kurang nyaman. Sedikit menyayangkan keputusan untuk menggunakan deker lutut baru yang tidak terlalu membatasi pergerakan. Khawatir deker lutut ini kurang memberi sokongan bagi lutut. Nyeri makin bertambah di 100 m pertama. Dulu juga sering mengalami ini di betis kanan, tapi akhirnya setelah 1 km nyeri mulai menghilang. Jadi tadi saya abaikan juga. Masa seminggu ini gagal terus lari?

Deker lutut baru ternyata sangat nyaman, pergerakan kaki kanan tidak terhambat. Tidak berasa menggunakan deker tetapi lutut tetap enak. Kecepatan lari saya juga tidak terpengaruh dengan menempelnya deket, tapi saya lari santai saja pagi itu. Tidak mencoba untuk terlalu memaksakan. Jalanan sepi dan gelap. Tidak banyak yang beraktivitas di jalur yang biasa saya lalui. Bertemu satu orang pelari di bawah jembatan kereta di perempatan cikini proklamasi, berlawanan arah dengan saya yang menuju bundaran HI. Kendaraan juga sepi padahal jam sudah mulai pukul 6 pagi, biasanya motor dan mobil sudah mulai ramai. Sedang menikmati lari, gerimis mulai turun. Saya abaikan, sambil “duh, lupa ga bawa zip bag, kan repot nanti kalau hujan makin besar”. Betul saja, gerimis makin besar hingga akhirnya hujan deras.

Pitstop pertama, toilet Taman Situ Lembang. Baru 4.5 km. Lumayan basah kuyup. Beruntung hp saya tidak rusak tersiram hujan. Bersama saya, ada satu orang pelari yang juga berlindung dari hujan. Melihat hujannya, saya tahu hujan seperti ini awet muda. Mau memaksakan lari dihujani, tapi hp pasti rusak. Akhirnya pit stop pertama berlangsung satu jam sampai hujan mereda menjadi sebuah gerimis saja.

Pitstop kedua di pos ronda kosong. Baru berhasil menambah 3 km saat hujan mulai deras kembali. Kali ini lebih basah kuyup dari sebelumnya. Padahal tinggal lari 2.5 km menuju apartemen, sambil membayangkan bubur ayam atau mie rebus. Duh. Cuma bisa ngelamun di pos kosong. Setelah sekitar 45 menit melanjutkan perjalanan sambil gerimis yang lumayan deras. “Kalau hp sampai mati, ya mari beli hp baru saja”, pikir saya walau kalau sudah kejadian pasti nyesel, banget.

Pitstop ketiga, dibawah jembatan kereta manggarai-cikini. Hujan betul-betul deras. Basah sangat kuyup. Ini pitstop terlama pagi itu. Sambil berlindung, memperhatikan kelakukan pengendara motor dan mobil saat melintasi persimpangan berlampu lalu lintas. Motor dan mobil saat melihat hijau tancap gas, biar kebagian lewat tanpa harus berhenti. Saat lampu mulai kuning, tancap gas makin dalam sambil membunyikan klakson. Lampu merah? Terobos! Selama dari arah lain masih belum berjalan, terobos saja walaupun merah. Motor dan mobil, sama saja. Makin beringas saat hujan deras. Siapa bilang pengendara mobil lebih santun dan ga ugal-ugalan? Siapa bilang kelakuan pengendara motor lebih parah? SAMA

Hujan masih lumayan deras, saya paksakan lari segmen terakhir karena terlalu lama menunggu hujan reda. Saya akan sangat terlambat ke kantor. Masih harus gowes ke kantor dibawah hujan soalnya. Segmen terakhir ini paling susah karena banyak genangan air dan diciprati mobil (mobil, catat, mobil!) yang melibas genangan air dengan kecepatan tinggi walau ga jauh dari situ ada saya. Kampret!

Kenapa sih harus maksa 10 km? Kenapa ga pulang naik taxi saja? Sempet kepikiran sih. Apalagi di pitstop terakhir pas pemberhentian halte feeder transjakarta. Belasan bus tj lewat, beberapa mengajak saya naik bus saja hujannya deras katanya. Bus nya juga kosong semua, tampaknya orang lain banyak yang belum berangkat kerja. Saya tetap memaksakan memenuhi target 10 km karena pasti bisa. Karena semingguan ini selalu gagal memenuhi target untuk lari, terutama karena mental mager. Karena begitulah rasanya saat ada pikiran bunuh diri. Udah deh akhiri saja, mari kita mati ini. Tapi, hujan pasti berhenti (walau di pitstop terakhir tidak ada tanda-tanda hujan akan berakhir). Hujan memang ga berhenti, tapi toh saya bisa menyelesaikan 10 km, walau basah kuyup. Begitupun dengan bunuh diri. Saat memutuskan untuk tidak dilakukan, bukan berarti sudah keluar dari lorong gelap. Tapi dengan memutuskan untuk tidak mati disaat itu, membuka kesempatan untuk bisa melihat bahwa hujan pada akhirnya reda.

Reward untuk hari ini adalah mie rebus lengkap dengan bakso, telur, dan cabe rawit. Ga ada sayur karena kehabisan. Ah ya, saya tetap gowes ke kantor dan ini saya menuliskan blog ini di kantor. Pulang juga akan tetap gowes. Semoga tidak hujan.

One Comment

TaslimSubang 3 weeks ago

Hebat, bisa jalanin target walau hujan menghalangi. Inilah bukti kuatnya tujuan dan target. Menginspirasi sekali, terimakasih.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *