Back to blog

Kemiripan antara Chester dan saya

30 September 2017 - Posted in depresi Posted by:

Kepergian Chester ada miripnya dengan percobaan saya dahulu di Swedia. Ini video Chester 36 jam sebelum bunuh diri.

Lalu ini foto saya 36 jam sebelum mencoba bunuh diri. Saya bersama teman sekelas saya saat wisuda pendidikan S2 saya.

Memang seringkali sangat sulit untuk tahu apakah seseorang sedang depresi atau tidak. Hanya jika penderita mau bicaralah kemudian kita bisa tahu apakah seseorang sedang berjibaku dengan dirinya sendiri. Baik Cehster dan saya terlihat baik-baik saja, bahagia. Chester, sangat sukses dengan Linkin Park, bersama keluarganya. Saya, baru saja lulus dengan gemilang. Sepertinya tidak ada yang kurang dengan kami.

Hanya saja, senyum saya dalam foto itu tidak nyata. Sebetulnya saya sedang sangat menderita. Beberapa jam sebelumnya saya dalam perjalanan ke bandara untuk pulang ke Indonesia. Tapi sialnya bertemu teman sekelas yang juga akan wisuda, akhirnya saya terpaksa ikutan wisuda. Saya ga tahu apakah Chester juga begitu. Bahwa dia juga berpura-pura senyum. Tapi, bisa saja tawa dan senyum Chester memang tulus. Karena penderita depresi juga masih bisa tersenyum normal dan bahagia, tapi hanya sementara saja. Sama seperti pada penyakit lain, katakanlah gagal ginjal, ga ada halangan untuk tertawa saat menonton film komedi. Tertawa ya tertawa, tapi rasa sakit tetep ada.

Berikut chat saya dengan temen sekelas saya bernama Kjell dari Swedia (memegang bendera Swedia di foto diatas) 36 jam setelah wisuda saya.

Kjell menelepon polisi. Polisi segera datang ke apartemen saya. Saya terselamatkan.

Terkadang saya membayangkan apa yang akan terjadi jika saya bernasib seperti Chester. Saya, yang kini menjadi penggiat kesehatan jiwa, terutama depresi. Apa yang akan orang-orang pikirkan?

Setelah melalui masa depresi, saya merasa saya bisa menghadapi apa pun. Bahwa kesulitan apa pun ga ada artinya dengan yang pernah saya rasakan saat menderita depresi. Tapi berkaca pada Chester, saya salah besar. Justru saya punay risiko lebih tinggi untuk kembali jatuh pada depresi. Terlebih saya saat ini membuka diri untuk berteman dengan para penderita gangguan jiwa lainnya. Tulisan sebelumnya saat saya bilang rehat mungkin adalah tanda-tanda kecil kalau depresi telah kembali, walau saya merasa saat ini saya tidak menderita depresi lagi. Sebelum saya rehat, saya mengamati perilaku saya berubah, pola makan saya pun berubah menjadi tidak teratur dan tidak sehat. Pantangan makan saya tidak perdulikan. Tapi mungkin juga saya mengambil rehat karena saya tahu saya perlu itu untuk mencegah saya jatuh kembali.

Tapi saya tahu bahwa depresi tidak bisa dicegah. Bahwa depresi dapat muncul tanpa pencetus sekalipun. Bahwa depresi adalah ketidakseimbangan kimia dalam otak. Karena itu saya hanya bisa berharap saya bisa jujur jika saya kembali menderita depresi. Bahwa saya tidak akan terlalu malu mengakui saya kembali depresi terlepas dari saat ini orang-orang merasa saya hebat telah bisa survive, terbuka, dan menolong banyak orang. Ada yang saya harap bisa tercapai dengan seringnya saya menulis tentang depresi di medsos dan blog. Saya ingin membuat lingkungan dimana orang-orang (termasuk saya) bisa berbicara tentang kesehatan mental dengan terbuka tanpa rasa takut, setidaknya diantara teman-teman saya di fb.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *