Back to blog

Hari-hari seorang penderita depresi: tidur dan bangun

5 October 2015 - Posted in depresi Posted by:

Ngejalanin hari demi hari saat menderita depresi itu sangat membosankan. Tulisan ini juga saya buat saat hari saya sangat membosankan sehingga berusaha mencari kegiatan. Jadinya saya menulis saja hari-hari seorang penderita depresi.

Saya sebenarnya masih punya hutang tulisan cara-cara membantu penderita depresi. Tapi tulisannya masih setengah jadi dan sekarang lagi mau nulis tentang kebosanan ini saja.

Ada dua hal yang paling saya takuti sehari-hari. Tidur pada malam hari, karena depresi membuat saya sulit tidur dan pada saat berjuang untuk tidur kenangan buruk terdahulu akan muncul lagi bertubi-tubi. Bangun tidur juga sama buruknya. “Hari ini mau ngapain ya?” Pertanyaan saya ke diri sendiri setiap bangun tidur.Saya serius, tidur dan bangun adalah dua kegiatan yang paling tidak menyenangkan bagi saya pada saat menderita depresi. Oleh karena itu saya menyebutnya menjalani hidup sehari demi sehari. Jadi jangankan rencana hidup kedepannya, rencana besok mau apa saja ga terpikir.

Jadi, bagaimana keseharian seorang penderita depresi? Satu kata, membosankan! Depresi membuat saya kehilangan animo akan hal-hal yang sebelumnya saya sukai. Fotografi? Kamera belum pernah keluar dari tas sejak saya pulang ke Indonesia. Masak? Sudah mulai masak-masak, tapi belum setiap hari seperti dulu. Yah, paling satu atau dua kali seminggu. Jalan-jalan? Boro-boro, mau keluar rumah saja udah untung. Padahal dulu saya sudah pernah ke hampir semua provinsi di Indonesia, kecuali Bali. Nonton? download film sudah banyak di harddisk tapi baru sejam dua jam juga udah mulai bosan. Ngajar? Ya siapa yang mau jadi siswanya? Masa mau tiap hari ngajar. Lari? Lumayan, udah mulai lari pagi tiga kali seminggu. Tapi lari juga cuma setengah jam di pagi hari saja. Sisanya dari jam 8 sampai jam 5 sore mau ngapain? Enaknya sih memang punya kerja, tapi sudah dua kali ada tawaran kerja saya tolak karena waktu itu belum siap bekerja full time. Sekarang udah siap kembali kerja malah ga ada yang nawarin. Hehe, dasar maunya banyak.

Tapi saya ga mau hanya menulis tentang kebosanan saya saja. Harus bermanfaat. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa membuat orang lain memahami kenapa depresi merupakan faktor risiko dari bunuh diri.

Banyak orang melarikan diri dari hari yang membosankan dengan tidur. Sebenarnya ini ga jauh berbeda dengan orang depresi yang melarikan diri dari depresinya dengan bunuh diri. Serius. Saya ga bercanda. Dua-duanya ingin melarikan diri dari dua keadaan yang tak tertahankan. Bedanya bosan biasanya ga berlangsung terus menerus, sementara keputusasaan depresi berlangsung sepanjang hari selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Sehingga “tidur” nya orang depresi tidak bangun lagi. Saya biasanya menggunakan analogi ini untuk menjelaskan kenapa saya pernah mencoba bunuh diri. Kalau kalian pernah tidur untuk melarikan diri dari kebosanan sebenarnya ga jauh berbeda dengan kami yang depresi lalu bunuh diri. Kalau suatu saat merasa bosan dan ga tau mau ngapain, maka bayangkan kebosanan itu bertahan berhari-hari ga hilang-hilang. Itulah rasanya menderita depresi. Itu baru satu dari banyak hal yang saya rasakan.

Wah lumayan, setelah nulis jadi semangat lagi. Mudah-mudahan lain kali bisa menyelesaikan hutang tulisan tentang menolong orang depresi. Sekarang mari tidur, besok lari pagi.

3 Comments

Eiri 7 years ago

Mas Endriii, coba daftar di ruangguru.com yuk, disana baik yang masih jadi mahasiswa sampai profesional bisa berbagi ilmu mereka dengan jadi guru privat dari berbagai bidang formal/non formal.

yaa, mungkin gajinya ga besar, tapi dengan gabung di ruangguru.com kita juga bisa berbagi untuk sesama ^^ seru sih kayanya, hehe

SEMANGAT!

Reply

endri 7 years ago

Halo Eiri, saya coba lihat dulu ya. Trims

Reply

Oyi 5 years ago

Hai mas Endri, ini yang terjadi pada saya 4 bulan terakhir. 2 bulan terakhir terasa makin kosong & hampa. Bbrp waktu yg lalu saya sdh pernah mengirimkan email namun mungkin blm terbaca ya. Apakah saya boleh menghubungi mas Endri lagi via whatsapp? Supaya saya tahu apa yg hrs saya lakukan agar tidak merasa spt ini terus.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *