Back to blog

Cerita dibalik vlog “Bagaimana rasanya bunuh diri”

15 January 2018 - Posted in depresi , kesehatan mental Posted by:

Selama satu bulan terakhir saya sulit untuk dihubungi. Kalaupun berhasil dihubungi, saya kurang responsif. Bagi mereka yang menghubungi saya karena blog ini, mungkin berharap saya bisa membantu. Saya pun memang pernah menulis bahwa saya menawarkan bantuan. Sehingga, wajar jika kemudian banyak yang merasa kecewa. Untuk itu, saya minta maaf.

Saya memulai blog ini dengan tujuan awal menghancurkan diri sendiri. Untuk membuat orang-orang pergi dari hidup saya. Tetapi hasilnya malah berkebalikan. Orang yang menghubungi saya semakin bertambah dari waktu ke waktu, mungkin karena blog saya satu-satunya yang rutin membahas depresi sementara penderitanya sendiri amat sangat banyak dan selama ini hanya bisa bersembunyi.

Satu bulan terakhir ini sebetulnya pekerjaan saya sedang lowong karena banyak rencana perjalanan tertunda hingga 2018. Saya pun mengambil cuti panjang di akhir 2017. Walaupun begitu, saya mengerjakan sesuatu selama sebulan terakhir.

Banyak yang memandang bahwa saya hebat, luar biasa, dan tangguh. Karena saya bisa pulih dari depresi dan bunuh diri. Semuanya keliru. Saya yang sebenarnya sama sekali tidak seperti yang dikira. Mungkin salah saya sendiri karena terlalu banyak menulis tentang diri saya sendiri.

Saya bisa bertahan dari depresi karena banyak hal. Sepertinya 20% memang dari diri sendiri, karena tidak mungkin bisa pulih kalau saya tidak berupaya. Terapi, termasuk minum obat, sepertinya punya peran yang besar. Ya, sekitar 30% lah. Sisanya yang paling berperan adalah dukungan keluarga dan teman. Jadi, tanpa mereka kemungkinan besar saya sudah mati.

Setelah selama ini selalu saya yang bercerita, kali ini teman-teman saya yang akan berbagi. Pesan utamanya adalah bahwa gangguan jiwa jauh lebih ringan jika dihadapi bersama. Walaupun mungkin saja seseorang bisa bertahan tanpa bantuan dari siapapun, tetapi kenapa harus menanggung bebannya sendiri saja? Bukankah saling berbagi adalah inti dari pertemanan itu sendiri?

Serangkaian video ini juga bisa dijadikan referensi untuk memberikan gambaran bagaimana membantu penderita depresi ataupun gangguan jiwa lainnya. Dan, kalau kamu saksikan satu per satu, tidak susah koq. Atau, jika kamu adalah penderita, juga bisa dijadikan referensi yang bisa ditunjukan kepada teman kamu ketika teman kamu bingung bagaimana harus membantu kamu.

Saya tampil di video pembuka. Saya bercerita tentang bagaimana rasanya bunuh diri. Semua ini sudah saya rencanakan hampir 6 bulan lamanya. Selalu tertunda bukan karena saya sibuk. Sebetulnya karena saya takut. Netizen saat ini bisa sangat kejam dalam memberikan komentar. Komentar netizen di semua berita bunuh diri selalu buruk. Selama ini, pengunjung blog saya sebagian besar ya memang tiba di blog saya karena mencari. Pembaca blog saya sebagian besar adalah penderita atau teman/keluarga penderita. Sehingga komentar-komentar yang ada memang isinya curhatan atau dukungan moral.

Beda cerita dengan sekarang saya berbagi vlog di youtube. Yang menonton bisa siapa saja. Apalagi jika ternyata viral. Masih ingat bagaimana netizen mem-bully Marshanda? Kita anak zaman now sering lupa filter etika saat berkomentar, selain memang gangguan jiwa masih sangat penuh dengan stigma di Indonesia. Jadi, saya betul-betul mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan. Karena saat seribu orang memberikan komentar, bisa jadi ada seribu komentar yang berbeda juga.

Membuat vlog ini juga pengalaman yang terbilang traumatik buat saya. Saya harus mengunjungi masa kelam di 2015. Berkali-kali. Entah berapa kali saya melakukan pengambilan video karena saya belum puas dengan hasilnya. Sebanyak itu pulalah saya harus mengingat itu lagi. Setelah itu saya harus menonton diri saya sendiri puluhan kali lagi saat mengedit videonya. Jujur, ini sangat sulit buat saya.

Sebetulnya kurang puas dengan hasil akhir yang saya upload. Tapi, saya ga sanggup membuat yang lebih baik karena setiap kali membicarakan itu saya betul-betul tidak bisa mengontrol nada bicara saya dan gerak badan saya. Karenanya, pada akhirnya saya upload saja hasil yang ada.

Sebulan terakhir saya habiskan untuk melaksanakan proyek ini. Sebelum saya melakukan ini, saya tahu bahwa dengan melakukan ini saya beresiko untuk jatuh kedalam depresi lagi. Apalagi jika responnya buruk (dalam artian bully). Karena saat ini pun, mood saya memang sudah diujung tanduk padahal saat menulis blog ini saya belum menyebarkan satu video pun. Itulah mengapa saya sulit dihubungi dalam sebulan terakhir.

Terimakasih banyak untuk semua yang terlibat.


Kirimkan pertanyaan melalui email myself@liquidkermit.net atau whatsapp +62 813-2224-7454 karena saya akan berada di pedalaman kalimantan untuk beberapa waktu.

Saya akan coba menjawab pertanyaan yang masuk di vlog berikutnya

3 Comments

Taslim Subang 8 months ago

Terima kasih kang endri, saat ini saya sudah mulai pulih dan saya yakin bisa hidup benar-benar hidup lagi. Setelah merenung dan mencari ternyata saya harus recovery total baik pola makan, pola tidur, pola hidup, kesehatan dan kebugaran fisik dan shalat berjamaah terutama di waktu subuh. Saat ini saya punya misi kuat lari 5km tanpa berhenti tanpa sesak nafas dan ngos-ngosan, rutin lari pagi. Salam sehat jiwa raga (Taslim ; Subang-Jawabarat)

Reply

Ghost Architect 4 months ago

Mas endri terima kasih telah berbagi pengalamannya, oh ya, saya seorang mahasiswa teknik arsitektur yg sedang menjalani tugas akhir, saya mengambil ta untuk merancang sebuah tempat pemulihan kesehatan psikologis terkait stress dan depresi,saya meminta saran kepada mas endri apa saja yang diperlukan di dalam rancangan saya, fasilitas apa saja yang dapat membantu dan diperlukan penderita, apa yang membuat nyaman dan tidak nyaman bagi penderita. Saya meyakini alternatif lain selain menggunakan obat, stress dan depresi dapat di tolong dengan menghadirkan ketenangan, membuat seseorang mencapai keadaan relaks. Dengan relaksasi tersebut akan menimbulkan sebuah harapan untuk terus hidup dan menghargai kehidupan

Saya juga mau tanya mohon maaf soal bunuh diri apakah ada pemicu khusus yang mendorong seseorang untuk melakukannya terkait dengan tempat dan lingkungan, misalnya tempat yg tinggi, penghalang/pagar yg membuat orang merasa dikurung, adanya tangga, dan elemen air.

Saya juga akan menceritakan keadaan saya, ironis memang tapi untuk orang banyak saya lebih memilih mengorbankan diri, yang semakin saya membaca, mendalami, dan terjun untuk hal semacam ini, semakin saya meragukan diri saya sendiri… muncul pikiran apakah saya juga mengalami depresi… sempat merasakan kekosongan yg mendalam, kehilangan diri, mati rasa, dan tidur tanpa henti, entah kapan munculnya, sudah berapa lama atau mungkin sudah ada sejak dari saya kecil saya juga tidak tahu, apalagi setelah waktu sidang akhir, saya dihajar habis habisan oleh pertanyaan penguji yang tidak dapat saya jawab membuat saya blank dan down, down karena perkataan penguji apakah rancangan / desain ini memang benar dapat menjawab permasalahan penderita stress dan depresi? Bisa jadi desain ini yang malah membuat orang depresi dan bunuh diri!

Saya cuma terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa, saya tidak ada maksud apa-apa, saya cuma ingin menolong, memahami, dan mengerti orang yg menderita stress maupun depresi, saat mendengar orang meninggal karena stress dan depresi rasanya sakit, yg sebenarnya kita mampu menolong tapi kita seolah tidak tahu-menahu dan malah menstigma,semoga masyarakat dapat lebih memahami. Salam hangat…

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *