Back to blog

bantos institute

5 February 2017 - Posted in depresi Posted by:

Memasuki 2017, saya semakin sulit menjalankan peran memberikan support kepada sesama penderita mental illness. Setidaknya hingga akhir oktober saya akan sering bepergian ke berbagai daerah hingga pedalaman. Atau bahkan mungkin sampai akhir tahun. Dalam satu kali perjalanan bisa hingga 2 minggu. Di daerah saya tidak selalu bisa mengakses internet, atau bahkan sinyal telepon. Terkadang listrik pun tidak ada. Selain itu, saya seringkali sudah keburu lelah dengan pekerjaan saya yang sering melibatkan perjalanan ke pelosok desa, berjam-jam dan kadang melibatkan jalan kaki menyusuri jalan setapak dan sungai. Semua itu disaat justru semakin banyak yang menghubungi saya. Jika kamu pernah menghubungi saya dan harus menunggu lama respon dari saya, saya mohon maaf. Jika kamu pernah menghubungi saya dan kini jarang berkomunikasi dengan saya, saya mohon maaf.

Saya sadar inisiatif yang saya lakukan sudah pada batasnya. Saya tidak bisa membelah diri layaknya amoeba. Dan ini saatnya bantos institute mengambil alih. Tapi setidaknya saya bahagia karena sekarang semakin banyak yang membicarakan kesehatan jiwa. Saya mulai melihat status-status di facebook, teman-teman saya sudah mulai tidak malu-malu mengobrol tentang itu, dan blog-blog baru bermunculan. Saatnya membawanya ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

bantos institute

Bantos institute adalah inisiatif baru yang saya rencanakan. Kenapa bantos? kenapa saya tidak bergabung saja dengan yang sudah ada? Misalnya ada get-happy, into the light indonesia, BCI, KPSI, Indonesia Mentality Care, dsb. Harus saya akui, sebagian ada ego pribadi. Tapi alasan utamanya adalah meskipun punya tujuan akhir yang sama, tetapi kita manusia seringkali juga punya cara yang berbeda. Idealisme yang berbeda. Manusia sering tidak cocok satu sama lain, meskipun memperjuangkan hal yang sama. Dan tidak ada salahnya menambah organisasi yang bergerak di bidang kesehatan mental. Sebagaimana di bidang lain pun banyak “pemainnya”. Mengetahui sedikit kegiatan mereka dari sosial media, saya merasa komunitas-komunitas yang sudah ada bukan untuk saya. Saya perlu memulai sesuatu yang baru yang sesuai dengan visi yang saya bayangkan.

Lalu akan seperti apa bantos? Yang paling penting adalah scaling up. Apa yang akan diperjuangkan bantos harus bisa meluas. Sampai di level kota/kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Yang memiliki kemampuan seperti itu hanyalah pemerintah dengan sedikit pengecualian.

Dari literatur, bisa saya identifikasi bahwa ada tiga barrier untuk mengakses layanan kesehatan jiwa. Barrier pertama adalah keterbatasan ketersediaan layanan kesehatan jiwa itu sendiri, dan kualitasnya. Memang di kota besar ada banyak. Tapi jika semua orang sudah mulai menyadari pentingnya kesehatan jiwa, pasti tidak akan cukup. Psikiater/psikolog harus menyediakan waktu yang cukup bersama pasien. Bergeser sedikit ke daerah, layanan mulai jarang dan bahkan tidak ada. Apalagi kalau kita sudah mulai bicara kualitas. Karena saya sering mengantar teman-teman baru saya menemui psikolog/psikiater, saya bisa menilai bahwa kualitas layanannya masih sangat berbeda-beda. Banyak yang saya antar tidak mau datang lagi karena mendapat pengalaman yang tidak memuaskan di kunjungan pertama. Padahal membujuk untuk mau datang saja sudah sangat sulit.

PR beriktunya adalah soal pembiayaan. Kesehatan jiwa masih nomor kesekian dalam prioritas program kesehatan. JKN hanya mengakomodasi sebagian saja. Misalnya percobaan bunuh diri tidak termasuk. Apalagi kalau bicara asuransi kesehatan swasta. Hampir tidak pernah ada kecuali jika bekerja di perusahaan multinasional yang besar. Tempat kerja saya saja sebuah NGO internasional tidak memberikan asuransi kesehatan untuk kesehatan jiwa. Terlebih terapi untuk kesehatan jiwa biasanya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Dua hal diatas, pelayanan kesehatan dan pembiayaan, adalah tugas besar untuk pemerintah. Bantos bisa mengambil peran dalam melakukan advokasi kepada pemerintah. Membantu penyusunan kebijakan-kebijakan terkait kesehatan jiwa. Pemerintah akan menjadi mitra utama bantos.

Yang ketiga bisa dilakukan langsung oleh bantos. Menghilangkan stigma tentang kesehatan jiwa. Ini menjadi barrier utama bagi seseorang untuk mencari pertolongan. Sebagian dengan membuat seseorang merasa bahwa yang mereka alami adalah sesuatu yang normal, bagian dari hidup. Sebagian dengan membuat kita malu untuk mencari bantuan. Sebagian dengan membuat banyak orang tidak peka terhadap kesehatan jiwa. Membuat banyak orang men”judge” para penderita penyakit jiwa. Sehingga sebagian besar penderita hanya membiarkan saja. Membiarkan penyakit jiwa menggerogoti kita dari dalam secara perlahan. Sebagian berakhir dengan bunuh diri. Sebagian lagi tetap hidup tapi tidak merasa bahagia.

Dalam kepala saya ada beberapa ide untuk kampanye melawan stigma ini. bantos akan membutuhkan ide-ide kreatif untuk scaling up kampanye ini.

Salah satu ide tambahan, tapi juga penting, adalah pusat informasi kesehatan jiwa. Jika kamu google kesehatan jiwa dengan berbagai keyword, yang muncul adalah blog yang tidak jelas dan website berita online. Pusat informasi ini penting terutama untuk pusat bantuan dan informasi terkait bunuh diri. Coba google bunuh diri dalam berbagai bahasa. Yang akan muncul adalah helpl center, hotline, dll. Bandingkan dengan hasil pencarian dalam bahasa Indonesia.

Satu hal penting yang akan membedakan bantos dengan komunitas/lembaga lainnya adalah bantos ingin berpusat pada penelitian. Menjadi pusat inkubasi ide-ide baru untuk kemudian scaling up oleh pemerintah. Penelitian untuk memahami kesehatan jiwa di negara berkembang. Karena intervensi yang tepat harus berawal dari penelitian yang baik. Diharapkan kebijakan yang dihasilkan menjadi lebih baik karena telah melalui penelitian yang komprehensif.

Terakhir, bantos akan berfokus pada awalnya di tema depresi karena depresi adalah penyebab disabilitas terbesar didunia dan saat ini di Indonesia tidak ada yang bergerak di topik ini. Untuk kemudian berkembang ke tema-tema lainnya.

Semoga sedikit demi sedikit bisa saya kerjakan ditengah kesibukan pekerjaan saya.

2 Comments

willetta 9 months ago

halo mas endri!
saya sudah setahun belakangan ini sering mampir ke blog mas endri ini.
meskipun saya sendiri masih belum yakin apa yg saya rasakan depresi atau cuma sedih2an khas orang muda yg emosinya gak terkontrol saja.
Yang jelas, setiap perasaan cemas, perasaan benci diri sendiri dan ingin bunuh diri muncul, saya selalu main ke blog ini.
saya baca seluruh kisah2 mas endri, berulang-ulang…berulang-ulang…(bahkan kadang yg sudah saya baca, saya ulang baca lagi…hehe..)
saya ulang sampai saya ‘tenang’ atau setidak2nya tidak tenggelam lebih dalam lagi dengan kesedihan saya.
ini pertama kalinya saya berani meninggalkan komentar di blog mas endri, sebelum2nya setiap selesai tulis komentarnya saya hapus lagi…hahahha…karna saya suka tanya ke diri sendiri ‘ah…emang saya depresi?’ atau ‘saya cuman sedih biasa kok..saya bukan orang yg depresi’
terus pada akhirnya saya cuman berani jd silent reader aja…
yah, depresi atau enggak itu bukan tujuan utama saya tulis komen ini, saya ingin bilang terimakasih dengan mas endri, mungkin karna tulisan2 dan tindakan dr mas endri ada banyak orang yg masih kuat untuk bernafas lagi.
terus berkarya untuk orang2 disekitar mas endri ya!

Reply

endri 9 months ago

Hej Wiletta, terimakasih sudah meninggalkan jejak. Senang tulisan-tulisannya bisa membantu kamu.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *