Back to blog

Bahaya mendiagnosis depresi sendiri

2 November 2017 - Posted in depresi Posted by:

Di abad 21 ini segala informasi bisa diperoleh lewat Google. Ga terkecuali tentang depresi dan gangguan mental lainnya.

Tapi ada bahaya besar melakukan diagnosis sendiri untuk gangguan mental. Prinsip yang sama sebenarnya berlaku juga untuk penyakit lainnya.

Sebelum saya bahas tentang bahaya mendiagnosis sendiri, ternyata ada untungnya juga dengan kehadiran Google dan saya akan membicarakan itu terlebih dahulu.

Kamu depresi? Kamu baca artikel tentang depresi lalu kamu merasa hal yang sama seperti yang tertulis di artikel? Kamu mencoba kuesioner tentang depresi, lalu berdasarkan kuesioner itu kamu depresi?

Bagus! Bagus, karena setidaknya kamu mencari tahu ada apa dengan kamu. Kamu terganggu dengan apa yang kamu rasakan. Sebagian besar orang dengan gangguan mental hanya akan mencoba menguatkan diri, atau pasrah terhadap kondisinya. Atau bahkan sebagian akan menyebut itu sebagai cobaan dari Tuhan dan berusaha mengatasinya sendiri. Saya percaya, ini menjadi salah satu penyebab mengapa orang akhirnya bunuh diri. Karena berusaha mengatasinya sendiri tapi kemudian gagal. Saya menulis ini sambil memandang kaca.

Mendiagnosis diri sendiri membuka jalan untuk penyembuhan karena kamu sadar. Kamu tidak suka dengan yang kamu rasakan. Kamu terganggu dengan itu.

Tapi, mendiagnosis diri sendiri lewat internet ga cukup. Kamu juga perlu menjalani terapi. Iya, ada terapi yang bisa kamu lakukan secara mandiri. Iya, ada banyak yang bisa pulih dengan terapi sendiri. Tapi mungkin itu sebagian besar terjadi pada gangguan mental yang ringan. Seperti penyakit lainnya, depresi dan gangguan mental ada tingkat keparahannya juga. Pada depresi berat seperti saya dulu, saya mencoba bunuh diri dan mengurung diri berbulan-bulan.

Jika kamu sudah mencoba terapi sendiri tapi gagal, atau jika gangguan mental yang kamu alami berat, sebaiknya mencari pertolongan profesional seperti psikolog atau psikiater. Pilih saja salah satu yang lokasinya paling dekat dengan rumah atau kantor atau sekolah, ga usah dipusingkan dengan perbedaan psikolog dan psikiater. Kamu akan tahu nanti, sambil menjalani terapi.

Lalu, ada begitu banyak gangguan mental. Depresi memang yang paling umum, tapi kamu mungkin menderita gangguan mental yang lain. Banyak gangguan mental punya gejala yang mirip dan saling tumpang tindih. Contoh sederhananya adalah depresi dan bipolar. Penderita bipolar juga merasakan depresi, tapi mood nya di lain waktu bisa berubah menjadi “hyper” yang disebut manik. Berbanding terbalik dengan depresi yang tidak ada semangat, mood manik membuat seseorang sangat berenergi. Terapi untuk penderita depresi dan bipolar tentu saja berbeda. Lalu ada pula distimia, atau disebut juga “depresi kronis”. Makin sulit lagi ada depresi dengan psikosis yang sulit dibedakan dengan skizofrenia paranoid. Penanganannya berbeda.

Dan, beberapa gangguan mental bisa timbul bersamaan. Contohnya saya. Pernah menderita depresi mayor dan gangguan cemas secara bersamaan.

Kalau ini pertama kalinya kamu merasakan gangguan mental, agak sulit untuk tahu perbedaan diantara semua gangguan mental yang ada. Lebih jauh lagi, seringkali salah mengartikan gejala gangguan mental yang ditulis dalam sebuah artikel. Misalnya mengurung diri di kamar (gejala depresi) disamakan dengan kepribadian introvert. Ini sangat berbeda. Penderita depresi mengurung diri karena ada rasa bersalah, takut menyusahkan teman/keluarga dan merasa akan dibenci karena terlalu sering dalam mood yang sedih. Bahkan dengan mendeskripiskan begitu saja, saya merasa itu masih kurang. Terkadang, saya malah ga bisa menjelaskan kenapa saya ga mau keluar kamar.

Permasalahan lain adalah karena kita (saya) cenderung untuk menjadi apa yang saya baca. Tanpa sadar, saya memaksakan apa yang saya alami agar pas dengan yang tertulis dalam artikel. Karena sekali saya melabeli diri dengan “depresi”, saya akan konsisten dengan itu dan menolak label yang lain.

Jika kamu pernah mediagnosis diri sendiri karena (salah satunya) membaca blog saya. Saya mohon, beranikan diri untuk ke psikiater/psikolog. Terutama jika kamu sudah mencoba sendiri untuk pulih tapi gagal. Saya mengerti ruang praktek psikolog/psikiater bisa terasa amat menakutkan. Atau jika biayanya memang tidak murah. Tapi dengan menemui mereka, kamu akan belajar banyak tentang apa yang kamu rasakan, bukan hanya melulu bagaimana pengobatannya.

Satu hal lagi. Obat-obatan membantu. Saya salah satu orang yang sangat terbantu dengan obat-obatan. Saya menggunakan obat-obatan selama setahun lebih dan tidak membuat ketergantungan. Ada banyak orang lain yang juga terbantu dengan obat-obatan.

Saya juga minta maaf jika tulisan-tulisan saya membuat kamu yakin kamu menderita depresi karena apa yang saya tulis kamu mengalaminya juga. Tujuan saya menulis bukan untuk membantu kamu mendiagnosis diri kamu sendiri, tapi untuk membuat kamu merasa tidak sendirian, dan kamu kemudian mau mencari pertolongan. Tulisan saya bukan untuk menggantikan fungsi profesional kesehatan mental. Diagnosis depresi dan gangguan mental lainnya hanya dapat dilakukan setelah evaluasi klinis secara mendalam oleh profesional, dan tidak dapat digantikan oleh kuesioner online ataupun tulisan-tulisan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *