Back to blog

Bagaimana caranya berbicara tentang gangguan jiwa?

19 June 2016 - Posted in depresi Posted by:

Kalau kamu pernah membaca tulisan-tulisan saya yang lain, kamu pasti tau kenapa saya tidak menyembunyikan gangguan jiwa saya. Awalnya karena saya tidak perduli lagi atas apa yang akan terjadi pada saya. Istilahnya masa bodo, hidup gw udah hancur. Hidup gw ga akan bisa lebih hancur dari saat itu. Tapi ternyata terbuka tentang apa yang saya alami adalah suatu keputusan terbaik yang pernah gw buat.

Walaupun ada dua tiga respon yang mengecewakan, tapi jauh lebih banyak orang yang menghubungi saya untuk menawarkan bantuan. Mereka semua mengira hidup saya baik-baik saja, apalagi saat itu saya baru saja pulang dari Swedia. Dengan bantuan banyak orang itulah saya bisa cepat pulih.

Jadi apakah seseorang perlu menceritakan gangguan jiwanya kepada orang lain seperti teman dan keluarga? Tentu saja jawabannya akan berbeda-beda untuk setiap orang. Bagi teman saya yang dari Pakistan, saat ini ternyata memberitahukan tentang masalahnya malah membuat kondisinya memburuk. Teman saya yang lain masih merahasiakan kondisinya karena takut ditinggalkan pasangan hidup.

Saya tidak bisa mengatakan bahwa seseorang harus bercerita tentang gangguan jiwanya. Tetapi saya punya beberapa saran bagaimana caranya bercerita tentang kesehatan jiwa.

Pertama, pikirkan jika keadannya dibalik. Orang yang kamu sayangi datang ke kamu dan mengatakan dia menderita gangguan jiwa. Bagaimana respon kamu? Buat saya ini sangat penting. Jawabannya akan beragam tergantung siapa seseorang itu. Jika kamu sanggup memberikan support, berarti kamu berada dalam sebuah hubungan yang cukup baik.

Kedua, pikirkan sisi positif dan negatif dari bersikap terbuka. Selalu ada efek samping buruk dari suatu perbuatan. Pastikan kamu sudah mengantisipasinya dan siap sebelum itu benar-benar terjadi. Misalnya saya jadi dijauhi oleh seseorang, dan bagi saya itu tidak masalah walaupun mengecewakan. Kita tidak bisa mengharapkan semua orang akan memberikan respon yang positif.

Ketiga, pilih tempat dan waktu yang baik. Pastikan tempat dan waktunya bisa membuat kamu nyaman dalam menyampaikan cerita kamu. Jangan sampai ada banyak hal di sekitar yang bisa mengalihkan perhatian.

Keempat, jika kamu belum pernah menemui psikiater atau psikolog, kamu bisa cetak daftar gejala dari suatu gangguan jiwa yang kamu alami. Gunakan ini untuk membantu kamu bercerita. Bahwa kamu telah banyak membaca tentang gangguan jiwa kamu. Kalau kamu sedang menjalani terapi bersama psikolog/psikiater, ajak teman/keluarga untuk menemui terapis bersama-sama. Terapis kamu bisa membantu untuk berbicara.

Kelima, kamu harus katakan dengan jelas kenapa kamu menceritakan tentang gangguan jiwa kamu. Apakah kamu sekedar hanya butuh orang untuk jadi pendengar yang baik, apakah kamu butuh saran, apakah kamu butuh bantuan, ataukah kamu hanya ingin sekedar jujur dan melepaskan beban dari pundak kamu.

Keenam, teman/keluarga kamu mungkin akan merasa sedih ataupun kecewa. Sedih ataupun kecewa adalah respon yang wajar. Tapi kamu harus tahu mereka seperti itu karena mereka sayang kamu. Mereka juga punya ekspektasi atas kamu. Jelaskan

Keenam, seseorang mungkin marah (ya, marah) atau tidak menganggap serius kamu. Keduanya bisa membuat kami semakin menderita. Jelaskan tentang ketakukan kamu akan respon mereka, dan kamu akan merasa lebih baik dengan dukungan dan bantuan mereka. Yang kamu harus pahami, amarah mereka adalah karena ketakukan. Mereka tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Saya yakin dengan memberikan pengertian sedikit demi sedikit mereka pada akhirnya akan mengerti dan menerima kamu.

Bercerita tentang gangguan jiwa bisa sangat menakutkan, tapi support yang muncul setelahnya bisa membantu kamu melewati saat-saat terburuk dalam hidupmu.

2 Comments

Taslim Subang 8 months ago

Terima kasih, saya sendiri sadar bahwa saya depresi dan sekarang bangkit untuk menikmati waktu dan sisa hidup saya. Apapun mulai detik ini hidupku aku tanggung jawab karena tuhan ada dan tuhan menolongku.

Reply

Suci 6 months ago

Saya jg sdg depresi selama 1,5 th. Hal ini terjadi saat saya resign dari pekerjaan dikarenakan lingkungan kerja yg tdk positif, saya tdk punya teman saat itu. Tempat kerja pun jauh di pedalaman & harus tinggal di mess, bekerja 8minggu non stop cuti 2minggu (saya dulu geologist di tambang batubara). Setelah resign saya berniat melanjutkan studi dg tabungan dr gaji. Kmd uang tsb dipinjam oleh ortu. Disini awal mula saya depresi. Tdk punya uang utk memulai niat saya, saya makin tertekan dikarenakan ortu yg punya hutang ratusan juta (saya baru tahu setelah saya resign). Mau kembali kerja, tdk punya modal utk ke Jakarta. Jg kasihan minta uang saya kembali ke ortu. Saya menyalahkan diri saya, ortu yg berhutang, rekan kerja yg jahat, bahkan tuhan. Saya tdk ada niat utk bunuh diri, krn saya tau itu hal salah. Cm selalu minta kpd tuhan utk mencabut nyawa saya. Namun bukannya diberi penyakit, selama saya depresi, saya tdk pernah sakit scr fisik. Bahkan flu, maag, penyakit yg sering saya derita dr kecil tdk pernah datang. Skrg saya hanya berdiam diri di rumah. Mau berkeluh kesah dg teman lama jg segan. Saya berpikir mereka pasti punya masalah pribadi jg, tdk perlu ditambah dg masalah saya. Dg ortu pun sudah saya jelaskan kalau saya sdg depresi. Namun, reaksi mereka tdk sesuai ekspetasi saya. Skrg kami hanya saling diam. Saya mau membantu mereka melunasi hutang2nya. Tp saya merasa blm bisa berbuat apa2 utk saat ini. Utk tdk menangis saja dlm sehari rasanya susah. Saya tdk ke psikiater/ minum obat antidepresan. Saat merasa kepala saya sakit krn syaraf yg tegang, saya hanya mengobati dg menonton tv, tidur, atau minum teh. Hari ini, baru saya temukan blog mas Endri. Saya sdh baca setiap halamannya. Mudah2an saya diberi kekuatan utk sembuh.

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *