Back to blog

Saya bisa menjadi teman kamu

14 December 2016 - Posted in depresi Posted by:

Semalam saya share blog saya di grup para penerima beasiswa LPDP. Sebenernya sudah lama punya rencana itu, tapi masih ga pede. Ntar dikira cari sensasi pula. Tapi semalam ada pemicunya. Orang yang saya kenal sedang suicidal. Sama seperti orang-orang suicidal lainnya, dari luar tampak baik-baik saja. Mirip kayak saya dulu gitu lah. Saya ga pede semalam dia akan bisa bertahan, serius. Saya ga tau.

Dari situ saya jadi inget lagi pernah pengen share di grup penerima beasiswa LPDP. Bukan kenapa-napa sih, banyak orang yang menghubungi saya adalah para penerima beasiswa LPDP, yang entah bagaimana nyasar di blog saya. Dan banyak pula penerima beasiswa LPDP seangkatan saya yang berbagi dengan saya tentang pengalaman mereka mengalami depresi ketika mereka baca status saya di facebook yang terus-terusan ngomongin masalah depresi dan mati.

Di luar dugaan, respon nya luar biasa. Whatsapp dan facebook saya dipenuhin salam sapa dari banyak orang baru, para penerima beasiswa LPDP ini. Saya yang biasanya teratur tidur malam di antara jam 9-11 malam pun akhirnya lembur membalas satu per satu pesan yang masuk sampai jam 2 pagi. Mungkin karena yang kirim pesan ke saya kebanyakan saat itu dari Eropa. Disana kan masih sore.

Tapi kemudian tampaknya saya harus menjelaskan lagi apa yang bisa orang harapkan dari saya kalau mereka menghubungi saya. Rasanya pernah saya tulis sebelumnya. Tapi ga ada salahnya ditulis lagi.

Pertama, saya bukan terapis. Bukan psikiater ataupun psikolog. Bukan pula praktisi pengobatan alternatif. Saya memang dokter, tapi saya ga pernah praktek. Saya dosis obat saja sudah ga hapal. Saya bilang saya sudah kadaluarsa jadi dokter. Ga pernah punya izin praktek. STR pun sudah ga pernah diperpanjang sejak 4 tahun lalu. Jadi jangan coba-coba minta resep ke saya. Wong saya sendiri minta ke temen.

Kedua, saya ga bisa kasih solusi untuk masalah-masalah kamu. Serius. Saya bukan problem solver handal. Apalagi untuk masalah sosial. Saya orangnya agak antisocial malah. Lingkungan pertemanan saya kecil. Kalau soal statistik atau kesehatan masyarakat sih saya bisa bantu. Tapi kalau hal lain, saya bakal jadi advisor yang amat buruk.

Jadi saya bisa apa?

Saya punya pengalaman. Ini jadi pembeda banget. Kalau ga pernah ngalamin rasanya depresi, ga akan pernah ngerti penderitaan nya seperti apa. Saya juga pernah mendengarkan cerita serupa dari ratusan orang lain seperti saya. Setiap bertemu orang baru, saya makin paham dunia ini. Dengan modal ini saya bisa jadi pendengar yang baik. No judgement.

Di waktu luang saya, saya bisa membantu kamu menemani proses recovery. Bisa macem-macem. Menemani ke psikolog/psikiater (yang biasanya sangat ditakuti), olahraga bareng, hang out bareng, bereksperimen dengan hal-hal yang baru bareng-bareng, lebih seringnya sih cuma duduk dan saling cerita. Biasanya janjian untuk ketemu di satu tempat. Terkadang saya yang jemput. Terkadang saya yang maksa untuk jemput. Dan kalau jauh banget pun bisa saya datangin, tentu tergantung kondisi keuangan saat itu.

Intinya sih saya cuma jadi temen kamu. Bedanya saya ngerti yang kamu sedang hadapin. Itu doang. Sungguh. Ga lebih dari itu. Buat saya, setiap orang perlu temen, terutama di saat paling sulit dalam hidup.

Karena yang saya tawarkan adalah pertemanan. Kadang saya suka overload juga. Kerjaan di kantor, masalah pribadi, macet jakarta (damn banget yang ini), kesehatan, dan seringkali saya yang kecapean secara emosi saat saya merasa saya ga bisa berbuat banyak, ini semua bisa memaksa saya untuk rehat. Saya matikan telepon, flight mode. Mau gimana lagi, saya juga sama seperti kamu.

Beberapa minggu yang lalu saya terlambat menolong seseorang di Vietnam. Saya terlambat dua atau tiga jam saja. Kemudian ada masalah hukum dan imigrasi setelah itu. Saat saya pulang ke jakarta. Saya bener-bener cape. Fisik dan rasa. Ga lama kemudian ada yang menghubungi saya lagi, suicidal. Duh, pengen saya lempar tuh hp. Akhirnya saya bawa tidur aja. Cuma sejam. Pas bangun, saya nemuin lagi energi ekstra untuk membalas pesan itu. Setelah beberapa pesan, saya ajak ketemu. Dan ketemulah kami keesokan harinya. Saya bersyukur punya keberanian untuk menyapa dia. Begitulah.

4 Comments

Regis 11 months ago

Hey
you are strong, you are great, you are a a warmhearted human being.

Thanks for being helpful and be a strong person.

You are worth to live. You are just like the sun that will brighten other people’s day.

You live in this world because you have a purpose(s).

Depression bring us to our real self, naked. It is a part of us, but it is not us.

Wish to see you at the light in the end of this depression tunnel. I will be there as well!

Reply

endri 11 months ago

Hej Regis. Thanks for your kind words.

Reply

Ahohyun25 10 months ago

Kak endri tulisan-tulisannya mampu nyemangatin
baca paragraf demi paragrafnya berhasil buat air mata ga terbendung
perasaan dan maksud yang ingin disampaikan tersampaikan dengan amat sangat baik
wish many people around me like you

Reply

endri 10 months ago

Hej, peluk hangat
saya yakin masih banyak orang baik disekitar kamu, mereka mungkin belum berkesempatan menunjukan sisi baiknya 🙂

Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *